Badan Riset dan Inovasi Nasional mengungkapkan bahwa relasi masyarakat dengan nilai spiritual, tradisi lisan, dan kepercayaan lokal menjadi faktor penentu keberlanjutan ekosistem mangrove di Indonesia. Kelestarian kawasan pesisir tersebut berhasil bertahan lama karena komunitas setempat tidak menganggap mangrove sebagai komoditas ekonomi semata.
Kawasan hutan bakau di beberapa wilayah Indonesia mampu bertahan selama ratusan tahun berkat cara pandang masyarakat yang mengintegrasikannya ke dalam kehidupan sosial dan spiritual. Kajian ilmiah ini telah dipublikasikan dalam jurnal internasional yang berfokus pada tradisi lisan dan keberlanjutan lanskap mangrove di Pulau Seram Bagian Timur, dilansir dari Media Indonesia.
"Yang menjadi menarik adalah bagaimana mangrove di beberapa tempat tetap terjaga, padahal sudah dieksploitasi berabad-abad," kata Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Masyarakat dan Budaya (PRMB) BRIN, Dedi Supriadi Adhuri.
Pendekatan supramanusia tersebut memandang manusia, alam, dan entitas nonmanusia sebagai satu kesatuan yang saling memengaruhi. Masyarakat pesisir di Maluku, Papua, dan Sulawesi Utara menerapkan larangan menebang hingga akar, rotasi wilayah, serta kalender pemanfaatan sesuai musim.
"Mangrove itu bukan hanya pohon tetapi bagian dari cerita hidup masyarakat, dengan aturan adat dan cara pemanfaatan yang mengikat," ujarnya.
Konsep keterikatan tersebut memperlihatkan hubungan kompleks antara manusia, tumbuhan, hewan, material, dan entitas spiritual dalam ekosistem. Melalui pola hubungan ini, alam dinilai memiliki peran aktif dalam mengarahkan tindakan manusia.
"Alam itu ikut mengatur, bukan hanya manusia yang mengatur alam," katanya.
Cara pandang tradisional tersebut dinilai sejalan dengan agenda konservasi global yang menargetkan perlindungan kawasan daratan dan laut global sebesar 30 persen pada 2030. Kebijakan konservasi modern saat ini didorong untuk mengakomodasi kearifan lokal yang terbukti efektif.
Keterhubungan antara manusia, alam, dan entitas nonmaterial di Seram Timur terbukti menjadi instrumen penting bagi pertahanan lingkungan hidup di wilayah pesisir.
"Pengetahuan ekologis masyarakat diwariskan melalui cerita rakyat, ritual, lagu, dan praktik keseharian yang membentuk etika pengelolaan sumber daya alam," ujar Peneliti Madya PRMB BRIN, Ari Nurlia.
Perspektif ilmu sosial dan lingkungan diharapkan dapat semakin kaya melalui kajian ini sekaligus memperkuat pengakuan pengetahuan lokal di tingkat global. Pendekatan lintas disiplin yang memadukan sains modern, antropologi, dan praktik adat diyakini dapat membuka ruang kolaborasi riset yang inklusif.