Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) meluncurkan strategi terpadu untuk menanggulangi ledakan populasi ikan sapu-sapu yang mengancam ekosistem perairan tawar Indonesia dalam diskusi di Jakarta, Kamis (30/4/2026). Upaya ini mencakup aspek pencegahan, pengendalian, hingga pemanfaatan ekonomi untuk menekan dominasi spesies invasif tersebut.
Sebagaimana dilansir dari Kompas, keberadaan ikan sapu-sapu telah menjadi ancaman nyata bagi keberlanjutan sumber penghidupan masyarakat. Peneliti Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Triyanto, menjelaskan bahwa pendekatan pengelolaan harus dilakukan secara menyeluruh dan terintegrasi antar berbagai pihak terkait.
"Upaya pencegahan dilakukan melalui pengawasan ketat terhadap introduksi spesies baru serta edukasi publik agar tidak melepas ikan non-lokal ke perairan umum," ujar Triyanto, Peneliti Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN.
Pihak BRIN mengidentifikasi bahwa ikan sapu-sapu memiliki kemampuan berkembang biak yang sangat pesat. Dominasi spesies ini berisiko merusak struktur habitat dasar perairan serta menekan populasi ikan asli daerah setempat secara signifikan.
"Ini bukan sekadar isu keanekaragaman hayati, tetapi juga menyangkut ketahanan ekosistem dan sumber penghidupan masyarakat yang bergantung pada perairan," kata Triyanto, Peneliti Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN.
Langkah pengendalian jangka pendek selama satu hingga dua tahun akan difokuskan pada pemantauan rutin, identifikasi habitat, dan penangkapan massal. Sementara untuk jangka panjang hingga sepuluh tahun, pemerintah akan mengarah pada restorasi habitat dan penguatan regulasi nasional.
Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Gema Wahyudewantoro, menambahkan bahwa penerapan prinsip kehati-hatian sangat krusial dalam introduksi setiap spesies asing. Hal ini bertujuan untuk mencegah munculnya potensi invasif yang merusak lingkungan di kemudian hari.
"Karena itu, prinsip kehati-hatian harus diterapkan dalam setiap upaya introduksi spesies. Sebelum didatangkan, perlu dilakukan kajian komprehensif terkait kemampuan reproduksi, toleransi lingkungan, hingga interaksinya dengan spesies lokal," ujar Gema Wahyudewantoro, Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN.
Selain penangkapan terjadwal, BRIN mengkaji pemanfaatan musuh alami seperti ikan betutu untuk menekan populasi secara biologis. Meski demikian, Gema mengingatkan bahwa beberapa spesies asing seperti nila dan lele dumbo tetap memberikan manfaat ekonomi jika dikelola dengan sistem yang terkontrol.
Edukasi kepada pemilik ikan hias agar tidak membuang koleksinya ke alam liar menjadi poin penting dalam pengawasan ini. Restorasi lingkungan yang rusak akibat aktivitas ikan sapu-sapu juga dicanangkan sebagai agenda berkelanjutan untuk memulihkan kualitas air dan populasi ikan lokal.