PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk memproyeksikan perolehan laba bersih tahun 2023 mampu mencapai angka Rp58 triliun atau lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Target ini didorong oleh ekspansi kredit ke sektor UMKM dan efisiensi operasional yang tetap terjaga di tengah tren suku bunga tinggi, sebagaimana disampaikan dalam acara Gathering BRI-Media di Jakarta pada Selasa (12/09/2023).
Direktur Utama BRI, Sunarso, menjelaskan bahwa perseroan tetap mencatatkan likuiditas yang memadai meskipun pasar global menghadapi tekanan inflasi. Dilansir dari Investortrust, rasio pinjaman terhadap simpanan (LDR) BRI berada pada level ideal yakni 87,26 persen.
"Artinya kalau ditanya likuiditasmu aman gak? Saya jawab sangat aman. Yang penting rasio likuiditas kita (LDR) terjaga di level 87,26%," tutur Sunarso, Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.
Sunarso menambahkan bahwa keberhasilan bank dalam mengelola layanan hybrid menjadi faktor penting pertumbuhan nasabah. Melalui sinergi bersama dua anak usaha, posisi BRI sebagai penopang sektor usaha kecil semakin kokoh di pasar domestik.
"Nasabah lama UMKM yang kami layani naik kelas secara sistematis," kata Sunarso, Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.
Hingga paruh pertama 2023, total kredit konsolidasi BRI mencapai Rp1.202 triliun dengan porsi UMKM sebesar 84,5 persen. Angka ini mencakup kredit mikro senilai Rp577,9 triliun, usaha kecil menengah Rp259,4 triliun, dan kredit konsumer sebesar Rp178,2 triliun.
"Posisi kredit BRI secara konsolidasi per Juni 2023 sebesar Rp 1.202 triliun. Kredit mikro dan ultra mikro BRI, Pegadaian, dan PMN pada semester I 2023 naik 11,4% year on year, mencapai Rp 578 triliun. Sementara total debitur yang dilayani BRI, Pegadaian, dan PMN mencapai 36,1 juta," ujar Sunarso, Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.
Performa keuangan yang solid juga tecermin dari rasio imbal hasil ekuitas atau Return on Equity (ROE) yang menyentuh angka 20,01 persen. Capaian ini dinilai luar biasa mengingat bank memiliki tingkat permodalan (CAR) yang sangat kuat di level 26,7 persen.
"Tugas CEO adalah meng-create value. Dan value yang utama adalah economic value yang diamanahkan pemegang saham. Pemegang saham kan taruh modal untuk mendapakan return. Kita lihat bahwa rasio Return on Equity (RoE) BRI di level 20,01%," kata Sunarso, Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.
Sunarso menekankan pentingnya memaksimalkan kekuatan modal untuk menghasilkan pendapatan yang produktif. Menurutnya, permodalan yang besar harus mampu memberikan keuntungan yang sepadan bagi para investor.
"Saya katakan jarang, dalam waktu yang bersamaan punya total CAR di 26,7%. Artinya permodalannya sangat kuat. Dan biasanya kompensasinya ROE-nya rendah, karena terlalu besar modalnya. Tapi kita ROE 20,01%," kata Sunarso, Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.
Manajemen menegaskan bahwa tingkat kesehatan perbankan menjadi prioritas utama meski peluang untuk mencetak laba lebih besar terbuka lebar. Optimalisasi modal tetap diarahkan pada pertumbuhan yang berkelanjutan.
"Ngapain modal gede-gede kalau tak menghasilkan return yang memadai. BRI modalnya sangat kuat, artinya sangat sehat dari sisi permodalan, dan ini bisa di-leverage menjadi revenue dan return. Jadi, ini bank yang sangat jarang di dunia. Punya CAR yang kuat tapi sangat produktif karena mampu menghasilkan return di atas 20%," kata Sunarso, Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.
Terkait risiko kredit, BRI berhasil menekan rasio kredit bermasalah (NPL) di level 2,95 persen secara konsolidasi. Pengendalian aset yang baik ini berkontribusi langsung pada pertumbuhan laba bersih yang mencapai Rp29,6 triliun pada semester pertama 2023.
"Bisnis kita di segmen mikro, lalu tingkat NPL nya bisa di bawah 3%, seperti BRI yang sebesar 2,95%. Ini berarti kualitas aset kita bisa terjaga dengan baik," tutur Sunarso, Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.
Keberhasilan menjaga profitabilitas tetap stabil menjadi pembuktian efektivitas strategi bank di tengah gejolak pasar global. Pertumbuhan laba tahunan sebesar 18,8 persen menunjukkan daya tahan bisnis yang melampaui rata-rata industri.
"Selama selama enam bulan pertama 2023, net profit BRI mencapai Rp 29,6 triliun. Atau tumbuh sebesar 18,8%," ujar Sunarso, Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.
Setelah mencetak rekor laba Rp51,4 triliun pada tahun 2022, banyak pihak mempertanyakan apakah tren pertumbuhan tersebut dapat dipertahankan. Sunarso menanggapi hal tersebut dengan optimistis meskipun kondisi pasar sedang dinamis.
"Itu adalah pertama kali dalam sejarah perbankan Indonesia, ada bank yang labanya di atas Rp 50 triliun," kata Sunarso, Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.
Perseroan memproyeksikan laba akan terus meningkat secara atraktif melalui berbagai instrumen efisiensi. Fokus utama adalah menjaga keseimbangan antara pertumbuhan aset dan kualitas pendapatan.
"Pertanyaan berikutnya, apakah kamu bisa mempertahakan pertumbuhan laba yang besar. Saya jawab saya tetap optimis kita tetap bisa menghasilkan laba yang baik dan tetap tumbuh. Tapi jangan minta pertumbuhannya seperti tahun lalu. Dalam situasi seperti sekarang kita bisa membuat laba kita bertumbuh 18,8 % saya kira laba kita masih sangat atraktif," ujarnya Sunarso, Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.
Kenaikan biaya dana atau cost of fund menjadi tantangan nyata yang diatasi dengan melakukan penekanan pada aspek efisiensi internal. Rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) pun berhasil diturunkan menjadi 66,2 persen.
"Yang kita korbankan adalah margin. Kita harus tekan efisiensi di sana-sini," tutur Sunarso, Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.
Implementasi teknologi digital melalui aplikasi dan perluasan agen di lapangan terbukti mampu memangkas biaya kredit secara signifikan. Manajemen menilai hasil ini sebagai bentuk efisiensi yang optimal bagi bank sebesar BRI.
"Ini artinya efisiensi yang luar biasa," tandas Sunarso, Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.
Memasuki periode akhir tahun, konsumsi rumah tangga yang meningkat menjelang pemilu diprediksi akan mempercepat laju kredit. Sunarso memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan terdorong seiring dengan tingginya aktivitas belanja masyarakat.
"Itu akan mendorong pertumbuhan kredit dan BRI akan mengikuti rule itu, sehingga saya optimistis, BRI bisa menumbuhkan kredit sesuai guidance kita antara 10% hingga 12%," ujarnya Sunarso, Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.
Terakhir, manajemen menegaskan sikap profesionalitas dalam mengelola cadangan risiko demi stabilitas industri perbankan nasional. BRI memilih mengalokasikan pencadangan sebesar Rp90 triliun guna memitigasi kemungkinan terburuk di masa depan.
"Sebenarnya bisa saja kami hanya mencadangkan Rp 60 triliun atau dua kali NPL, and membuat laba kami lebih tinggi. Tapi saya bukan bankir ugal-ugalan, kami profesional demi menjaga industri ini," ucap Sunarso, Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.
Sunarso menjelaskan bahwa perhitungan potensi laba bisa saja membengkak drastis jika kebijakan pencadangan dikurangi. Namun, ia memilih jalur kehati-hatian sebagai bentuk integritas perbankan.
"Hitungnya mudah, tinggal ditambah saja, target laba Rp 58 triliun dengan pencadangan Rp 30 triliun yang dikurangi," paparnya Sunarso, Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.
Langkah memupuk cadangan dipandang lebih esensial daripada sekadar mengejar angka laba bersih yang spektakuler. Hal ini menjadi komitmen jangka panjang perseroan dalam menjaga kepercayaan publik dan pemegang saham.
"Bankir profesional selalu cari untung, tetapi bukan cari selamat. Jadi jangan cadangan diambil untuk laba. Tapi cadangan harus terus kita pupuk," pungkas Sunarso, Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.