PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI (BBRI) memproyeksikan kinerja bisnis pada tahun 2026 akan mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Pihak perseroan menargetkan penyaluran kredit tumbuh di kisaran 7% hingga 9% dengan tetap memprioritaskan kualitas aset serta penguatan struktur pendanaan.
Dikutip dari Investortrust, manajemen menjelaskan bahwa pondasi utama dalam bisnis perbankan berakar dari kekuatan pengelolaan dana.
"Kalau kita bicara mengenai bisnis bank itu mulainya dari funding dulu, banking itu adalah funding game. Jadi, apa yang kita mau bangun di BRI itu adalah bagaimana kita membangun funding franchise yang kuat," ujar Direktur Utama BRI Hery Gunardi, dalam Press Conference Paparan Kinerja Keuangan Triwulan IV 2025 BRI secara daring, Kamis (26/2/2026).
Langkah perbaikan struktur pendanaan difokuskan untuk mendongkrak porsi dana murah atau current account and saving account (CASA). Sepanjang tahun 2025, rasio CASA BRI naik dari kisaran 66,6% menjadi sekitar 71% pada akhir tahun, dan tren ini diproyeksikan terus bergerak positif.
"CASA ratio ini di drive oleh tabungan dan giro. Lalu tabungan dan giro di drive dari transaction banking," kata Hery.
Aktivitas transaction banking akan dipacu melalui optimalisasi berbagai kanal digital dan elektronik milik perseroan. Layanan seperti BRImo, QRIS, EDC, Qlola, hingga BRILink terus didorong agar lebih produktif, baik dari aspek jumlah pengguna aktif maupun volume transaksi.
Pada segmen korporasi, BRI membenahi platform cash management Qlola agar memiliki daya saing yang lebih tinggi di pasar. Perseroan mengharapkan nasabah korporasi bersedia mengalihkan transaksi seperti cash management, trade, dan foreign exchange (FX) melalui platform tersebut.
Sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) tetap menjadi pilar utama dalam penyaluran kredit perseroan. Hal ini termasuk program kredit usaha rakyat (KUR) yang cakupannya kini diperluas melalui penyediaan KUR Perumahan.
Manajemen memperkirakan ekspansi kredit pada 2026 tetap berada di level single digit demi menjaga aspek kehati-hatian.
"Kita memang sangat selektif memilih sektor-sektor yang berkualitas, yang tentunya bisa memberikan yield yang bagus. Tapi di sisi lain juga tidak membawa kualitas aset yang buruk bagi BRI," ucap Hery.
Sistem pengelolaan risiko juga diperketat, terutama untuk mengantisipasi potensi pembiayaan bermasalah di segmen mikro. BRI bersiap mengimplementasikan skema auto grab fund (AGF) di segmen mikro, mengikuti pola yang sudah berjalan pada kredit konsumer seperti KPR dan pembiayaan kendaraan.
Tantangan terkait kualitas pembiayaan diakui masih membayangi beberapa lini bisnis perseroan.
"Untuk mikro dan small kita sudah ada beberapa inisiatif yang kita lakukan di 2025, antara lain set up subdirektorat ritel sendiri, satu organisasi yang terpisah dari risk management, di bawah direktur risk management, dan ada SEVP untuk wholesale sehingga fokus di masing-masing dua SEVP ini akan ke masing-masing segmen lebih baik," ujarnya.
Rasio kredit macet atau non performing loan (NPL) BRI tercatat masih berada di kisaran 3%. Meski demikian, indikator loan at risk (LAR) perseroan berhasil ditekan turun sebesar 110 basis poin secara tahunan dibandingkan periode 2024.
Penguatan fungsi collection juga akan dijalankan di segmen ritel dan mikro untuk mengoptimalkan penanganan kredit baru maupun kredit bermasalah.