Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) melaksanakan benchmarking ke Pusat Pengembangan Pengujian Obat dan Makanan Nasional (PPPOMN) BPOM di Jakarta pada Kamis (16/4/2026). Langkah strategis ini bertujuan memperkuat standardisasi laboratorium pengujian halal nasional dan memperluas jaringan layanan daerah, sebagaimana dilansir dari Nasional.
Kunjungan kerja tersebut dihadiri oleh Sekretaris Utama BPJPH Muhammad Aqil Irham bersama jajaran pimpinan lainnya dan diterima langsung oleh Kepala PPPOMN Mimin Jiwo Winanti. Penguatan ekosistem layanan halal menjadi fokus utama agar laboratorium lebih adaptif terhadap kebutuhan pelaku usaha.
Muhammad Aqil Irham menjelaskan bahwa proses belajar praktik terbaik dan standardisasi metode uji sangat krusial bagi kapasitas laboratorium nasional.
ÔÇ£Benchmarking menjadi langkah penting untuk memperkuat kapasitas laboratorium halal nasional melalui pembelajaran praktik terbaik, standardisasi metode uji, serta peningkatan kualitas layanan sertifikasi halal,ÔÇØ ujar Aqil.
Pihak BPJPH menilai keberadaan laboratorium yang tangguh merupakan pilar utama guna memberikan layanan sertifikasi yang memiliki kredibilitas tinggi dan kecepatan proses. Dalam pertemuan ini, kedua lembaga juga membahas tata kelola laboratorium nasional dan pengembangan sumber daya manusia.
Deputi Bidang Pengawasan dan Pembinaan Jaminan Produk Halal, Chuzaemi Abidin, menyoroti pentingnya penetapan standar spesifik untuk identifikasi kandungan babi.
ÔÇ£Penetapan marker peptide porcine penting agar seluruh laboratorium memiliki standar yang sama. Dengan demikian, hasil pengujian menjadi lebih konsisten, valid, dan memberikan kepastian dalam proses sertifikasi halal,ÔÇØ jelas Chuzaemi.
Diskusi teknis mengenai pengujian kandungan porcine menjadi parameter vital dalam menentukan status kehalalan suatu produk di Indonesia. BPJPH berkomitmen meningkatkan kompetensi SDM serta mengembangkan metode uji secara konsisten guna mendukung pengujian yang terukur di berbagai wilayah.