BMKG Prediksi El Nino Perparah Musim Kemarau di Indonesia Mei 2026

BMKG Prediksi El Nino Perparah Musim Kemarau di Indonesia Mei 2026
Foto: Ilustrasi BMKG Prediksi El Nino Perparah Musim Kemarau di Indonesia Mei 2026.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memberikan peringatan terkait potensi musim kering pada tahun 2026 yang diperkirakan bakal berlangsung lebih lama dan lebih ekstrem dibandingkan kondisi normal.

Kondisi ini dipicu oleh kemunculan fenomena El Nino yang diprediksi akan menyertai siklus kemarau tahunan di Indonesia, sebagaimana dilansir dari Megapolitan.

Masyarakat sering kali menyamakan antara musim kemarau dengan El Nino, padahal keduanya memiliki karakteristik ilmiah yang berbeda secara mendasar dari sisi penyebab maupun dampaknya.

Berdasarkan penjelasan resmi dari akun Instagram @infobmkg, musim kemarau di Indonesia merupakan siklus iklim rutin yang dipengaruhi oleh pergerakan angin monsun Australia yang membawa udara kering.

Berbeda dengan kemarau yang terjadi setiap tahun, El Nino adalah sebuah anomali iklim global yang muncul akibat pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur.

Fenomena El Nino tidak terjadi secara tahunan melainkan muncul dalam rentang waktu 3 hingga 7 tahun sekali dengan cakupan dampak yang memengaruhi sirkulasi atmosfer di berbagai belahan dunia.

Dalam keadaan normal, kemarau hanya menurunkan intensitas hujan secara wajar, namun kehadiran El Nino dapat menyebabkan curah hujan merosot drastis dan meningkatkan risiko kebakaran hutan.

Proyeksi Puncak Kekeringan Tahun 2026

BMKG memprediksi kondisi El Nino-Southern Oscillation (ENSO) yang saat ini berstatus netral akan segera berkembang menjadi intensitas moderat hingga kuat antara Mei hingga Juli 2026.

Selain El Nino, fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif diperkirakan mulai terbentuk pada Mei 2026 dan akan terus bertahan hingga semester kedua tahun ini.

Interaksi antara El Nino dan IOD positif tersebut berisiko memperparah tingkat kekeringan di wilayah Indonesia sepanjang tahun 2026.

Puncak musim kemarau sendiri diprediksi jatuh pada Agustus 2026, sementara penguatan intensitas El Nino diperkirakan mencapai puncaknya pada periode Juli hingga September 2026.

Dampak dan Imbauan Kesehatan

Lonjakan suhu udara yang signifikan akibat cuaca ekstrem ini mulai diantisipasi oleh pemerintah daerah, khususnya terkait risiko kesehatan bagi masyarakat luas.

Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, meminta warga untuk mengurangi kegiatan di luar ruangan, terutama antara pukul 11.00 hingga 15.00 WIB saat panas mencapai titik tertinggi.

"El Nino ekstrem menyebabkan kenaikan suhu yang signifikan. Hindari beraktivitas di luar ruangan saat suhu udara sangat tinggi," kata Ani.

Paparan panas yang berlebihan diketahui dapat memicu dehidrasi parah, heatstroke, hingga memperburuk kondisi pasien dengan penyakit kronis pada organ jantung dan paru-paru.

Selain ancaman suhu panas, penurunan kualitas udara akibat debu dan polusi selama kemarau panjang juga meningkatkan risiko terjadinya Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Sebagai langkah pencegahan, warga disarankan untuk mencukupi kebutuhan cairan tubuh, mengenakan pelindung seperti topi atau payung, serta memakai tabir surya saat terpapar sinar matahari.

Masyarakat diharapkan terus mengikuti perkembangan informasi cuaca yang dirilis secara berkala melalui saluran komunikasi resmi milik BMKG guna mengantisipasi perubahan kondisi atmosfer.

Artikel terkait

Rekomendasi