Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi cuaca ekstrem berupa hujan lebat disertai angin kencang dan petir akan melanda berbagai wilayah Indonesia pada 5-11 Mei 2026. Kondisi ini dipicu oleh aktivitas fenomena atmosfer yang dinamis di wilayah Indonesia selama sepekan ke depan.
Aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) di Samudra Hindia yang melewati wilayah Sumatera hingga Papua menjadi salah satu faktor utama penyebab meningkatnya awan hujan. Selain itu, terdapat pergerakan gelombang kelvin dan gelombang rossby ekuatorial yang aktif di sejumlah titik strategis kepulauan Indonesia, sebagaimana dilansir dari Lestari.
"Gelombang kelvin yang bergerak ke arah timur juga diprediksi aktif di sebagian wilayah besar wilayah Sumatera, Kalimantan, Jawa Timur, Bali, NTT, NTB, Sulawesi bagian utara, Maluku dan Papua bagian utara," kata BMKG, Selasa (5/5/2026).
Lembaga tersebut juga mengamati adanya bibit siklon 92W di Samudra Pasifik utara Papua dengan kecepatan angin mencapai 15 knot. Sementara itu, sirkulasi siklonik terpantau mulai terbentuk di beberapa perairan, mulai dari Selat Malaka hingga Laut Banda.
"Monsun Australia diprediksi menguat dalam beberapa hari mendatang, yang ditunjukkan oleh dominasi angin timuran pada pola angin zonal di sebagian besar wilayah Indonesia," jelas BMKG.
Penguatan monsun ini membawa massa udara yang lebih kering, sekaligus menandakan transisi bertahap dari musim hujan menuju musim kemarau di beberapa daerah. Meskipun demikian, potensi hujan lebat tetap tinggi di puluhan provinsi, termasuk Jakarta, Jawa Barat, dan sebagian besar wilayah Kalimantan serta Sulawesi.
BMKG juga mencatat kenaikan suhu harian maksimum yang cukup signifikan di Kalimantan Timur hingga mencapai 37,1 derajat celsius. Kondisi panas ini diakibatkan oleh minimnya tutupan awan pada siang hari, sehingga radiasi matahari diterima permukaan bumi secara optimal.
"Menghadapi kondisi cuaca cerah disertai potensi cuaca ekstrem dalam beberapa waktu ke depan, BMKG mengimbau masyarakat untuk menggunakan pelindung atau tabir surya guna menghindari paparan langsung sinar matahari, serta menjaga kecukupan cairan tubuh, terutama bagi yang beraktivitas di luar ruangan pada siang hari, agar terhindar dari dehidrasi, kelelahan, dan dampak buruk lainnya," tutur BMKG.
Instansi tersebut menekankan pentingnya kesiapan pemerintah daerah dan warga dalam menghadapi risiko bencana hidrometeorologi. Kewaspadaan ditingkatkan untuk meminimalisir dampak kerugian akibat potensi banjir dan tanah longsor yang bisa terjadi secara tiba-tiba.