BMKG Beri Peringatan Dini Potensi Awan Cumulonimbus di Indonesia

BMKG Beri Peringatan Dini Potensi Awan Cumulonimbus di Indonesia
Foto: Ilustrasi BMKG Beri Peringatan Dini Potensi Awan Cumulonimbus di Indonesia.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menerbitkan peringatan dini mengenai potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) yang intens di sejumlah wilayah Indonesia. Peringatan ini dilansir dari Kompas.

Berdasarkan prakiraan cuaca penerbangan yang berlaku mulai 21 April hingga 27 April 2026, fenomena awan vertikal ini diprediksi akan muncul dengan cakupan luas. Awan ini diwaspadai karena memicu hujan lebat, petir, hingga angin kencang.

Pertumbuhan awan yang sangat masif terdeteksi pada kategori Frequent (FRQ), di mana cakupan spasialnya melebihi 75 persen di wilayah tertentu. Masyarakat dan pihak otoritas diminta untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman cuaca ini.

Beberapa daerah masuk dalam zona pemantauan ketat karena memiliki risiko kemunculan awan Cumulonimbus paling dominan. Wilayah tersebut meliputi Bengkulu, Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Papua Selatan.

Selain daratan, wilayah perairan juga tercatat memiliki potensi tinggi di atas 75 persen. Lokasi tersebut mencakup Laut Arafuru bagian barat dan tengah, serta Samudra Hindia di selatan NTT.

Cakupan Potensi Menengah di Berbagai Provinsi

Kategori Occasional (OCNL) mencakup potensi antara 50 hingga 75 persen yang tersebar di hampir seluruh penjuru tanah air. Di Pulau Sumatera, wilayah seperti Aceh, Riau, Sumatera Utara, hingga Kepulauan Riau masuk dalam radar pantauan.

Pulau Jawa juga tidak luput dari pantauan, mencakup Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan DI Yogyakarta. Selain itu, seluruh provinsi di Pulau Kalimantan serta wilayah Sulawesi dan Maluku diprediksi mengalami kondisi serupa.

Untuk wilayah Papua, BMKG memantau pergerakan awan ini di Papua, Papua Barat, Papua Barat Daya, Papua Pegunungan, dan Papua Tengah. Jalur perairan strategis seperti Selat Makassar dan Laut Jawa juga menunjukkan potensi serupa.

Risiko Terhadap Operasional Penerbangan

Dalam sektor penerbangan, keberadaan awan Cumulonimbus menjadi ancaman serius bagi keselamatan pesawat. Awan ini dapat memicu turbulensi hebat yang mengganggu kestabilan saat berada di udara.

Selain guncangan, risiko lain yang muncul adalah pembekuan atau icing pada komponen mesin pesawat. Kondisi ini sangat berbahaya jika terjadi secara mendadak saat pesawat sedang menembus gumpalan awan tersebut.

Fenomena low level windshear atau perubahan arah angin secara tiba-tiba juga menjadi perhatian khusus bagi pilot. Risiko ini meningkat terutama pada fase kritis pesawat saat sedang lepas landas maupun mendarat.

Kategori Klasifikasi Cakupan Awan Cb

BMKG memetakan cakupan spasial awan ini dalam tiga tingkatan utama guna mempermudah analisis cuaca. Kategori Isolated (ISOL) digunakan untuk cakupan area yang masih di bawah 50 persen.

Selanjutnya, kategori Occasional (OCNL) diterapkan bagi wilayah dengan cakupan antara 50 hingga 75 persen. Terakhir, kategori Frequent (FRQ) merujuk pada sebaran awan yang sangat luas yakni lebih dari 75 persen.

Warga diimbau untuk memantau perkembangan cuaca secara berkala melalui aplikasi Info BMKG atau kanal resmi media sosial lembaga terkait. Langkah ini penting guna mengantisipasi dampak bencana hidrometeorologi selama sepekan ke depan.

Artikel terkait

Rekomendasi