Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan peringatan terkait potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) di berbagai wilayah Indonesia. Berdasarkan data periode 28 April hingga 4 Mei 2026, zona dengan kategori Frequent (FRQ) atau intensitas di atas 75 persen terdeteksi mengalami pergeseran ke area laut dan pesisir.
Dilansir dari Kompas, fenomena ini menunjukkan adanya perubahan pola cuaca ekstrem dibandingkan hari-hari sebelumnya. Jika pada periode lalu wilayah daratan seperti Sumatera dan Kalimantan memiliki intensitas tinggi, saat ini aktivitas konveksi kuat lebih dominan terjadi di kawasan perairan strategis Indonesia.
Awan Cumulonimbus merupakan jenis awan vertikal yang sering menjadi pemicu utama terjadinya badai, hujan lebat berdurasi singkat, petir, hingga angin kencang. Dalam situasi tertentu, kemunculan awan ini juga mampu menyebabkan fenomena hujan es serta penurunan jarak pandang yang signifikan bagi sektor transportasi.
Pihak BMKG mengidentifikasi sejumlah titik yang masuk dalam kategori Frequent (FRQ) atau sangat sering terjadi pertumbuhan awan badai. Wilayah-wilayah tersebut didominasi oleh area samudra dan laut, kecuali satu wilayah daratan di bagian timur Indonesia.
Lokasi yang perlu mendapatkan perhatian khusus meliputi Laut Bali, Laut Banda, dan wilayah Maluku. Selain itu, potensi serupa juga terpantau di Samudra Hindia bagian barat Bengkulu, Samudra Hindia barat Lampung, serta Samudra Hindia di selatan Banten.
Mengingat dominasi pertumbuhan awan ini berada di laut, risiko cuaca buruk perlu diwaspadai oleh para nelayan dan pelaku sektor pelayaran. Gangguan berupa hujan lebat dan angin kencang yang datang secara mendadak dapat membahayakan aktivitas di wilayah perairan dan pesisir.
Distribusi Awan Cumulonimbus di Sebagian Besar Indonesia
Selain kategori FRQ, sebagian besar wilayah Indonesia saat ini berada dalam kategori Occasional (OCNL) dengan persentase cakupan antara 50 hingga 75 persen. Hal ini menandakan bahwa meskipun tidak sepadat di wilayah laut, potensi pertumbuhan awan badai masih tersebar luas di daratan.
Di Pulau Sumatera, wilayah yang terdampak meliputi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, hingga Lampung. Sementara itu, seluruh provinsi di Pulau Jawa, Bali, dan Kalimantan juga masuk dalam kategori OCNL ini.
Kondisi yang sama juga diprediksi terjadi di wilayah Sulawesi, mulai dari Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, hingga Sulawesi Tenggara. Hal ini mencerminkan distribusi pertumbuhan awan konvektif yang merata di hampir seluruh bagian tengah Indonesia.
Potensi di Wilayah Timur dan Jalur Strategis
Untuk bagian timur Indonesia, BMKG mencatat potensi di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), Maluku Utara, serta seluruh provinsi di tanah Papua. Sejumlah laut strategis seperti Laut Jawa, Laut Flores, Selat Makassar, dan Selat Malaka juga masuk dalam pantauan kategori OCNL.
Pergeseran pola dari daratan ke laut ini menjadi fokus utama karena aktivitas transportasi udara dan laut sangat bergantung pada kondisi stabilitas atmosfer. Produk prakiraan ini disusun berbasis model cuaca numerik untuk mendukung keselamatan penerbangan dan pelayaran dalam tujuh hari ke depan.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca yang berlangsung cepat. Terutama bagi warga yang tinggal di pesisir atau berencana melakukan perjalanan lintas laut, karena hujan intensitas tinggi seringkali muncul tiba-tiba akibat pertumbuhan awan vertikal ini.