Sejumlah pedagang dan peternak mengeluhkan mahalnya biaya distribusi serta perizinan pengiriman sapi kurban dari Bali ke Jakarta menjelang Idul Adha 2026. Kendala administrasi dan kuota pengiriman pada Rabu (13/5/2026) dilaporkan menghambat pasokan sehingga memicu lonjakan harga di tingkat konsumen.
Kenaikan beban logistik ini dinilai memberatkan karena total pengeluaran untuk mendatangkan satu ekor sapi hampir menyamai seperempat modal awal pembelian. Berdasarkan data yang dihimpun dari Cahaya, biaya pengiriman per ekor mencapai Rp3,7 juta, yang jika digabung dengan biaya administrasi dapat menyentuh angka Rp5 juta.
Pendiri KandangTernak.id, Bengaji Ikam, menyatakan bahwa persoalan utama saat ini terletak pada birokrasi dan ongkos distribusi yang tidak rasional secara ekonomi. Hal ini berdampak langsung pada para peternak yang membawa sapi mereka dari daerah asal.
"Salah satunya ini ada Pak Made. Dia bawa 25 ekor sapi kesini, biaya pengirimannya dan perizinannya sangat mahal," ucap Bengaji Ikam, pendiri KandangTernak.id.
Kondisi tersebut dianggap sangat timpang jika dibandingkan dengan biaya pemeliharaan sapi di tingkat petani selama setahun. Made, salah satu peternak, menjelaskan bahwa biaya distribusi saat ini sudah melampaui biaya pakan dan perawatan harian ternaknya.
"Biaya perawatannya itu sekitar Rp4 juta setahun. Tapi biaya pengirimannya jauh lebih besar dari biaya perawatan," ungkap Made, peternak.
Ikam menambahkan bahwa hambatan lain muncul dari sisi kuota pengiriman yang belum terealisasi sepenuhnya meskipun sudah ada penambahan kuota pada akhir April 2026. Masalah perizinan menyebabkan ratusan sapi tertahan dan tidak bisa segera dikirim ke Jakarta.
"Sepertinya ada yang menahan surat. Dari 250 ekor sapi yang saya datangkan, baru 100 ekor yang sampai karena masalah perizinan ini," tutur Bengaji Ikam, pendiri KandangTernak.id.
Tingginya biaya logistik otomatis mengerek harga jual sapi ras Bali yang selama ini menjadi pilihan ekonomis bagi masyarakat. Dengan harga pasar Rp60.000 per kilogram, sapi berbobot 300 kilogram kini harus dijual dengan harga jauh lebih tinggi untuk menutupi biaya operasional pengiriman.
"Yang tadinya sapi Bali itu ekonomis jadi tidak ekonomis karena harga perizinan ini," tegas Bengaji Ikam, pendiri KandangTernak.id.
Para pelaku usaha kini mendesak pemerintah agar segera memberikan keringanan biaya perizinan guna menjaga stabilitas harga hewan kurban. Tanpa adanya solusi pada rantai distribusi, keuntungan peternak kecil diprediksi akan terus tergerus oleh beban administrasi.