Badan Gizi Nasional Larang Menu Soto pada Makan Bergizi Gratis

Badan Gizi Nasional Larang Menu Soto pada Makan Bergizi Gratis
Foto: Ilustrasi Badan Gizi Nasional Larang Menu Soto pada Makan Bergizi Gratis.

Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan sementara rekomendasi menu soto dan beberapa jenis makanan lain dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Rabu (22/4/2026). Langkah ini diambil setelah tim investigasi menemukan adanya potensi gangguan pencernaan seperti mual dan diare pada anak-anak.

Temuan risiko kesehatan tersebut didasarkan pada hasil evaluasi intensif oleh tim pemantauan dan pengawasan internal lembaga tersebut. Dilansir dari Detik Health, gangguan pencernaan yang dilaporkan meliputi gejala mual, muntah, hingga diare akibat kontaminasi bakteri pada makanan yang disajikan.

Wakil Kepala BGN Nanik Sudaryati Deyang menjelaskan bahwa soto menjadi salah satu menu yang paling sering memicu keluhan sakit perut. Hal ini disebabkan oleh penggunaan kondimen mentah dan suhu penyajian kuah yang tidak optimal.

"Di antara makanan tersebut, yang sering menjadi penyebab sakit perut dan diare adalah soto. Hal ini bisa terjadi, karena kondimennya masih ada yang mentah seperti kol, seledri, dan tauge. Selain itu, saat disajikan, air yang ditaruh di tempat tersendiri sudah dingin," ujar Nanik, Wakil Kepala BGN.

Kondisi kuah yang dingin saat dicampurkan ke bahan mentah meningkatkan risiko kontaminasi bakteri E. coli. Nanik juga memberikan peringatan terhadap jenis nasi tertentu yang memiliki karakteristik cepat basi sehingga membahayakan sistem pencernaan anak.

"Menu makanan lain yang mudah membuat anak sakit perut karena cepat basi, antara lain nasi kuning, nasi uduk dan nasi goreng," katanya Nanik, Wakil Kepala BGN.

Masalah pencernaan juga sering muncul pada hidangan berbahan dasar mi, terutama jika proses memasak sayuran dilakukan secara bersamaan dalam satu wadah. Selain itu, ayam suwir diidentifikasi sebagai menu dengan tingkat risiko keracunan tertinggi dalam daftar evaluasi tersebut.

"Ayam suwir juga termasuk yang menjadi penyebab tertinggi terjadinya keracunan. Hal ini bisa terjadi karena seringkali, ayam yang disuwir bukan ayam premium, melainkan ayam nomor dua atau tiga (tidak segar). Selain itu, proses menyuwir ayam yang dilakukan sejak sore karena mengejar waktu tidak menggunakan sarung tangan, juga meningkatkan risiko kontaminasi," paparnya Nanik, Wakil Kepala BGN.

Penggunaan berbagai jenis saus juga mendapat sorotan karena potensi gangguan pencernaan akibat proses memasak yang tidak matang sempurna. Keluhan mual dan muntah turut ditemukan pada konsumsi menu protein hewani yang diolah dengan teknik pembakaran tertentu.

"Terakhir, menu yang juga menyebabkan anak-anak mual dan muntah adalah ayam bakar dan ikan barbeque," ucapnya Nanik, Wakil Kepala BGN.

Investigasi BGN mengungkap bahwa kegagalan tingkat kematangan pada ayam bakar dan ikan barbeque dipicu oleh penggunaan alat torch. Alat tersebut hanya melakukan karamelisasi di permukaan tanpa mematangkan bagian dalam daging secara merata karena tidak menggunakan oven besar.

Artikel terkait

Rekomendasi