Banjir kembali menerjang sejumlah wilayah di Aceh dan Sumatra Utara pada awal April 2026 yang mengindikasikan adanya masalah serius dalam tata kelola lingkungan di Indonesia. Fenomena ini memicu desakan bagi para pengambil kebijakan untuk mengevaluasi kembali paradigma pembangunan di tengah peringatan Hari Bumi.
Kondisi alam yang semakin kritis ini dilansir dari Lestari berkaitan dengan ketidakseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian ekologi. Data dari World Inequality Report 2026 menunjukkan ketimpangan global yang tajam dengan 75 persen kekayaan dunia hanya dikuasai oleh 10 persen penduduk.
Kritik terhadap model pembangunan konvensional sebenarnya telah muncul sejak lama melalui berbagai literatur lingkungan. Salah satu referensi awal yang mengubah kesadaran global adalah karya Rachel Carson yang terbit pada tahun 1960-an.
"kemuakan" kata Rachel Carson, Penulis Buku Silent Spring (1962).
Pemicu gerakan lingkungan ini juga didasari oleh serangkaian bencana polusi besar di Amerika Serikat pada tahun 1969. Peristiwa tersebut menjadi titik balik munculnya kesadaran alternatif yang mendobrak kemapanan cara berpikir modernitas.
"dirayakan" ujar Rachel Carson, Penulis Buku Silent Spring (1962).
Filosof Herbert Marcuse melalui karyanya One Dimensional Man turut memberikan kritik tajam terhadap sistem yang membuat manusia kehilangan kemampuan berpikir kreatif. Dalam pandangan ini, kapitalisme cenderung melihat bumi dan makhluk hidup hanya sebagai aset atau investasi fungsional semata.
"memanfaat"-kan kata Herbert Marcuse, Filsuf Sekolah Frankfurt.
Keseimbangan antara ekonomi dan ekologi menjadi poin krusial yang harus dicapai untuk meminimalkan dampak bencana sosial maupun alam. Saat ini, paradigma ekonomi hijau dan sirkular mulai diakomodasi dalam agenda global seperti SDGs meskipun praktik di lapangan dinilai masih menempatkan ekonomi sebagai panglima.
"harta" ujar Herbert Marcuse, Filsuf Sekolah Frankfurt.
Untuk mengukur sejauh mana perubahan paradigma ini terjadi, para akademisi menggunakan alat ukur New Paradigm Scale (NEP) yang dikembangkan sejak 1978. Skala ini menempatkan manusia sebagai bagian dari bumi yang bertanggung jawab, bukan sebagai pusat eksploitasi.
"alat ukur" kata Riley E. Dunlap, Akademisi Amerika Serikat.
Indonesia kini menghadapi tantangan untuk menerapkan skala evaluasi ini secara transparan dalam kebijakan publik. Langkah ini diperlukan untuk mengaudit diri serta memastikan pembangunan tetap berpihak pada keberlanjutan bagi generasi masa depan.