Aktivitas perdagangan saham PT Maxindo Karya Anugerah Tbk (MAXI) kembali berjalan normal di Bursa Efek Indonesia (BEI). Dilansir dari Stocksetup, saham emiten ini sempat menjadi pusat perhatian para investor retail setelah masuk dalam kategori Unusual Market Activity (UMA) pada 21 April lalu.
Pihak otoritas bursa menetapkan status UMA terhadap MAXI menyusul adanya pergerakan harga atau volume transaksi yang berada di luar kebiasaan. Melalui penyematan status tersebut, para pelaku pasar diimbau untuk lebih teliti dalam memeriksa keterbukaan informasi serta aspek fundamental emiten sebelum menyusun langkah investasi.
Fluktuasi instrumen investasi ini memperlihatkan pertumbuhan sebesar 24 persen sepanjang lima hari perdagangan terakhir. Kendati demikian, posisi harga saham MAXI terkoreksi ke zona merah pada level Rp62 per lembar saham.
Perusahaan yang resmi mencatatkan saham perdana di BEI pada 12 Juni 2023 ini beroperasi dalam sektor consumer non-cyclicals. Fokus utamanya berada pada industri makanan dan minuman dengan memanfaatkan komoditas lokal alam Indonesia.
Pabrikan ini memproduksi aneka makanan ringan berbasis ubi, talas, dan singkong. Produk yang dipasarkan meliputi keripik, kerupuk, hingga bahan setengah jadi atau pelet snack.
Perseroan mengadopsi skema merek mandiri serta private label untuk menembus pasar internasional. Guna memuluskan target sebagai produsen camilan premium di pasar global, manajemen menjalin kemitraan strategis dengan jaringan distributor luar negeri.
Peta Kepemilikan Saham dan Laporan Keuangan Emiten
Struktur pemegang saham perusahaan hingga akhir 2025 menunjukkan pemusatan modal pada beberapa entitas. PT Karya Nusa Perdana menguasai sekitar 31,24 persen kepemilikan, disusul PT Bintang Mulia sebesar 30,85 persen, dan PT Akasia Mas mengapit 9,59 persen saham. Sementara itu, porsi saham yang dimiliki oleh masyarakat atau publik berada di angka 19,41 persen.
Kinerja keuangan perseroan sepanjang tahun 2025 membukukan tren pemulihan yang masif secara year on year (YoY). Pendapatan usaha naik 38,3 persen menjadi Rp143,8 miliar dari perolehan tahun 2024 yang bernilai Rp104,0 miliar.
Pertumbuhan ini mendongkrak laba kotor emiten sebesar 25,4 persen menjadi Rp34,6 miliar dibandingkan capaian sebelumnya senilai Rp27,6 Final. Sektor profitabilitas juga melesat dengan torehan EBITDA yang tumbuh 69,9 persen menyentuh angka Rp12,4 miilar.
Kondisi laba bersih perseroan ikut membalikkan keadaan dari rugi bersih Rp2,8 miliar pada 2024 menjadi raihan laba Rp722,1 juta pada tahun 2025. Melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) 2025, manajemen mengambil kebijakan untuk menahan seluruh laba bersih demi menyokong ekspansi usaha dan memutuskan tidak membagikan dividen.