Pakar Ungkap Perbedaan Gaya PDKT Milenial dan Gen Z

Pakar Ungkap Perbedaan Gaya PDKT Milenial dan Gen Z
Foto: Ilustrasi Pakar Ungkap Perbedaan Gaya PDKT Milenial dan Gen Z.

Flirting atau pendekatan dalam hubungan asmara merupakan naluri alamiah manusia yang telah ada sejak lama. Langkah awal untuk menarik perhatian orang yang disukai ini sering kali menjadi pintu pembuka menuju jenjang yang lebih serius, termasuk pernikahan.

Meski hampir semua orang pernah melakukannya, gaya pendekatan ternyata mengalami pergeseran signifikan antar generasi. Dilansir dari Wolipop, perbedaan mencolok terlihat antara kaum milenial dan Gen Z dalam cara mereka membangun koneksi romantis.

Generasi milenial yang kini berada di rentang usia 29 hingga 44 tahun cenderung mengedepankan komunikasi yang cerdas dan ramah. Mereka sering kali menggabungkan unsur humor dengan percakapan yang memiliki bobot lebih dalam untuk menunjukkan kepribadian asli mereka.

Devyn Simone, seorang mak comblang profesional dan pakar percintaan, memberikan penjelasan mengenai fenomena ini.

"Milenial cenderung menggabungkan humor dengan percakapan yang lebih panjang, serta menunjukkan kepribadian mereka melalui berbagai chat," jelasnya.

Bagi kelompok ini, flirting bukan sekadar obrolan ringan tanpa makna. Fokus utamanya adalah membangun ikatan melalui koneksi verbal yang kuat. Simone merangkum prinsip pendekatan yang sehat ke dalam tiga pilar utama, yakni keamanan, energi positif, dan adanya timbal balik.

"Tujuannya adalah menunjukkan ketertarikan, sekaligus memberi ruang bagi orang lain untuk memutuskan apakah mereka juga tertarik," ujarnya.

Gaya Santai dan Playful Ala Gen Z

Berbeda dengan seniornya, Gen Z atau Zoomers yang berusia 13 hingga 28 tahun memiliki gaya yang jauh lebih santai. Pendekatan mereka terasa lebih natural karena melibatkan elemen budaya digital yang sangat kental seperti penggunaan meme atau referensi konten TikTok.

"Gen Z cenderung menjaga suasana tetap fun, menggunakan meme, referensi TikTok, atau voice note yang terasa autentik, bukan dibuat-buat," kata Devyn.

Walaupun terlihat tidak kaku, Gen Z tetap sangat memperhatikan batasan-batasan tertentu dalam berinteraksi. Terapis Amanda Etienne, PsyD, menekankan bahwa konteks, persetujuan (consent), dan bahasa tubuh tetap menjadi aspek krusial dalam flirting bagi semua generasi.

Konteks dalam hal ini merujuk pada pemahaman situasi antara kedua belah pihak, apakah hubungan tersebut baru dimulai atau sudah cukup dekat. Bahasa tubuh juga menjadi indikator penting untuk melihat apakah lawan bicara menunjukkan ketertarikan atau justru merasa tidak nyaman.

"Menerima penolakan adalah hal yang wajib," tegas Amanda.

Ia juga menyarankan agar setiap individu menghindari taktik 'jual mahal' yang berisiko menimbulkan kesalahpahaman. Pada akhirnya, esensi dari flirting tetaplah membangun koneksi yang jujur, menyenangkan, dan saling menghargai tanpa memandang perbedaan usia.

Artikel terkait

Rekomendasi