Kehilangan waktu tidur di malam hari demi menjaga buah hati menjadi kesamaan yang dirasakan oleh hampir semua orangtua. Bagi seorang ibu, malam-malam tanpa tidur ini ternyata tidak lantas berakhir meskipun anak-anak mereka sudah melewati fase bayi.
Kualitas tidur para ibu ini terangkum dalam Bedtime Report yang dirilis oleh aplikasi pelacak kebiasaan tidur, BetterSleep, yang berkolaborasi dengan Wakefield Research, seperti dikutip dari Media Indonesia. Laporan tersebut menyurvei 1.000 ibu dengan anak berusia di bawah 18 tahun di Amerika Serikat.
Hasil survei menunjukkan bahwa sebesar 29% ibu mengaku tidak mendapatkan tidur yang nyenyak dalam seminggu terakhir. Hanya ada sekitar 23% ibu yang bisa memenuhi batas minimal tidur malam, yaitu selama tujuh jam.
Kondisi ini tercatat lebih berat bagi para ibu tunggal atau single mom. Sebanyak 33% di antaranya melaporkan hanya mendapatkan waktu tidur selama lima jam atau bahkan kurang dari itu.
Penyebab utama para ibu ini terjaga di malam hari ternyata bukan karena gangguan dari anak-anak mereka. Sebanyak 70% ibu menyebutkan bahwa kecemasan, beban mental, atau pikiran yang terus berputar menjadi alasan utama sulit tidur, sementara 20% lainnya menyalahkan suara mendengkur pasangan.
Selain faktor tersebut, survei mencatat 68% ibu sengaja memilih untuk begadang. Fenomena ini dikenal dengan istilah revenge bedtime procrastination atau prokrastinasi waktu tidur demi membalas dendam.
Banyak ibu memilih terjaga hingga larut malam demi memastikan pekerjaan rumah tangga selesai. Kegiatan tersebut meliputi melipat pakaian, mencuci piring, atau sekadar mendapatkan waktu untuk mandi dengan tenang tanpa gangguan.
Kurang tidur yang berkepanjangan ini membawa dampak yang tidak sehat bagi kehidupan sehari-hari. Orang tua yang kelelahan cenderung lebih mudah marah, sulit fokus, dan kesulitan menikmati waktu bersama anak-anak mereka.
Data laporan tersebut menegaskan bahwa 48% responden merasa hanya menjalankan rutinitas tanpa emosi bersama anak mereka. Sementara itu, 34% lebih bergantung pada gawai atau televisi untuk mengalihkan anak agar bisa bertahan menjalani hari.
Dampak psikologis lainnya juga terlihat dari adanya 20% ibu yang mengaku merasa terputus secara emosional dari anak kandung mereka sendiri.
Kondisi ini bukan berarti para ibu tersebut gagal dalam mengasuh anak. Hal ini terjadi karena mereka memikul terlalu banyak ekspektasi peran, mulai dari menjadi konselor mental, juru masak, dokter, perencana acara, hingga asisten belanja pribadi bagi keluarga.
Dampak buruk ini juga merembet ke dunia kerja. Sebanyak 53% ibu yang bekerja mengaku pernah mengambil izin sakit, pulang lebih awal, atau mengalami penurunan performa kerja dalam setahun terakhir akibat kurang tidur.
Kurangnya waktu istirahat membuat para ibu mengorbankan waktu untuk diri mereka sendiri. Sebanyak 49% ibu kurang berolahraga, 46% memotong waktu untuk hobi, dan 45% mengurangi waktu berkumpul bersama teman-teman mereka.
Ironisnya, sebanyak 36% ibu yang disurvei masih menganggap bahwa istirahat adalah sesuatu yang harus mereka menangkan atau usahakan dengan bekerja keras terlebih dahulu. Pola pikir ini dinilai memicu kelelahan fisik dan mental atau burnout yang ekstrem.
Untuk mengatasi krisis ini, para ibu membutuhkan dukungan psikologis, bantuan nyata dari pasangan atau keluarga besar, serta fleksibilitas di tempat kerja agar bisa mendapatkan hak istirahat yang layak.