Goresan tinta dari ujung canting itu bergerak lincah di atas kain putih, membentuk motif-motif modern yang tetap patuh pada pakem tradisi. Bagi Hawien Wilopo, setiap lekukan motif adalah napas dari usaha Batik Tulis Lasem bermerek Gunung Kendil yang ia rintis dari titik nol. Berawal dari hobi menggambar sejak duduk di bangku sekolah dasar, siapa sangka tangan dingin pria asal Rembang, Jawa Tengah ini mampu membawa identitas budaya lokal hingga ke mancanegara.
Titik Balik dari Sketsa Pesanan
Perjalanan Hawien tidak dimulai dari silsilah keluarga pembatik. Keberaniannya terjun ke dunia kriya ini justru dipicu oleh sebuah ketidaksengajaan belasan tahun silam. Ia melihat potensi besar di balik kerumitan proses pembuatan selembar kain batik yang sarat makna.
"Saya enggak punya latar belakang pembatik. Awalnya tahun 2010 ada teman minta tolong untuk dibuatkan desain untuk usaha batiknya. Saya lihat kok selalu habis terjual. Sampai pada 2012, saya ikut pelatihan membatik dan memutuskan untuk membuat usaha sendiri. Usaha saya ramai saat itu, sampai akhirnya pandemi Covid-19 membuat penjualan menurun. Alhamdulillah, saya dapat informasi tentang RB Rembang dan bergabung pada 2021" kenang Hawien.
Pandemi sempat memukul mundur bisnisnya, namun masa-masa sulit itu justru menjadi katalisator transformasi. Di bawah naungan Rumah BUMN (RB) Rembang yang dikelola PT Semen Gresik sebagai anak usaha PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG), Hawien mendapatkan bekal baru untuk bertarung di era digital.
Menembus Batas Benua
Di bawah bimbingan RB Rembang, Hawien tidak hanya diajarkan cara memproduksi batik yang berkualitas, tetapi juga bagaimana mengelola manajemen usaha dan mengoptimalisasi platform digital. Wawasannya terbuka lebar saat karyanya mulai dilirik oleh kurator pameran internasional. Langkah kaki usahanya pun semakin lebar, melintasi batas-batas geografis yang sebelumnya hanya ada dalam impian.
Namanya mulai harum di panggung internasional melalui Festival Tong Tong di Den Haag, Belanda pada 2022. Tak berhenti di sana, Batik Gunung Kendil turut unjuk gigi dalam Future SMEs Village Side Event G20 di Bali, Bazar UMKM di Sarinah Jakarta, hingga ajang Inacraft 2024 yang prestisius. Kini, pelanggan setianya tidak hanya tersebar dari Sumatra hingga Bali, tetapi juga merambah ke Jerman, Belgia, Italia, Korea, hingga Jepang.
Kesuksesan ini tidak dinikmatinya sendiri. Dengan permintaan yang stabil mencapai 150 helai kain dan pakaian jadi setiap bulan, Hawien kini mempekerjakan tujuh karyawan tetap dan memberdayakan masyarakat sekitar saat pesanan melonjak. Produknya, yang dihargai mulai dari Rp 200.000 hingga Rp 7 juta untuk kain premium, telah menjadi motor penggerak ekonomi kecil di lingkungannya.
"Terima kasih SIG dan Semen Gresik yang telah menghadirkan RB Rembang sebagai wadah bagi kami UMKM. Saya sangat senang bisa bergabung di RB Rembang. Keberadaan RB Rembang sangat membantu UMKM untuk berkembang. Semoga RB Rembang terus eksis sehingga dapat mendampingi kami para pegiat UMKM" ujar Hawien.
Komitmen Pemberdayaan Berkelanjutan
Dukungan dari perusahaan besar seperti SIG terbukti menjadi tulang punggung bagi kebangkitan UMKM di daerah. Dengan omzet mencapai Rp 150 juta per tahun, Batik Gunung Kendil menjadi bukti nyata bahwa pendampingan yang tepat dapat mengubah usaha rumahan menjadi entitas bisnis yang diakui dunia.
Corporate Secretary Semen Indonesia (SIG) Vita Mahreyni menyatakan kebanggaannya atas pencapaian Hawien yang konsisten menjaga warisan budaya sekaligus menciptakan lapangan kerja.
"Semoga ke depannya ada lebih banyak lagi UMKM yang sukses mengembangkan usahanya sehingga dapat berkontribusi lebih terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. SIG melalui RB Rembang berkomitmen untuk selalu mendampingi UMKM agar dapat menjalankan usaha secara profesional dan mampu memanfaatkan platform digital sehingga produk-produknya dapat dijangkau secara nasional hingga mancanegara" tutup Vita.