Batik Ciwitan Desa Benteng Bogor Berdayakan Ibu Rumah Tangga

Batik Ciwitan Desa Benteng Bogor Berdayakan Ibu Rumah Tangga
Foto: Ilustrasi Batik Ciwitan Desa Benteng Bogor Berdayakan Ibu Rumah Tangga.

Sekelompok ibu rumah tangga di Desa Benteng, Ciampea, Kabupaten Bogor, rutin memproduksi Batik Ciwitan sebagai ikon ekonomi kreatif desa setiap Selasa hingga Sabtu. Dilansir dari Detik Finance pada Rabu (28/4/2026), usaha yang dirintis Eka Harijayanti sejak 2012 ini kini telah memberdayakan 15 warga setempat.

Produk wastra ini merupakan hasil inovasi yang menggabungkan dua budaya berbeda dalam teknik pembuatannya. Eka Harijayanti menjelaskan bahwa istilah nama produk tersebut diambil dari aktivitas fisik saat proses produksi kain tersebut berlangsung.

"Nama Batik Ciwitan ini kami ambil dari Bahasa Sunda yaitu 'ciwit' karena bikinnya diciwit. Tapi teknik batiknya sendiri hasil perkawinan silang antara tradisi jumputan Jawa dan seni shibori asal Jepang," ujar Eka, Pendiri Batik Ciwitan.

Usaha ini mengalami peningkatan signifikan antara tahun 2017 hingga 2019 yang memicu perekrutan tenaga kerja dari lingkungan sekitar sanggar. Para ibu rumah tangga kini memiliki jadwal teratur untuk menjahit, mempelajari pola, hingga melakukan pewarnaan di sanggar secara bersama-sama.

"Sekarang kami punya jadwal yang teratur, Selasa untuk menjahit dan menyerut kain, Kamis belajar pola, dan Sabtu proses pewarnaan di sanggar," tutur Eka.

Kehadiran kelompok perajin ini menjadi solusi bagi para perempuan di Desa Benteng untuk tetap produktif meski berada di rumah. Eka menyebut aktivitas membatik ini membantu mereka mengisi waktu luang dengan kegiatan yang menghasilkan nilai ekonomi.

"Sebelumnya ibu-ibu ini suka jenuh nggak ada aktivitas, jadi daripada hanya sekadar di rumah tanpa tujuan, jadi mereka (belajar) batik di sini, sambil kumpul-kumpul, nonton drakor," canda Eka.

Setiap lembar kain berukuran 2,5 meter dikerjakan secara manual dengan tingkat ketelitian tinggi sehingga membutuhkan waktu produksi satu hingga tiga minggu. Harga jual produk ini bervariasi antara Rp 200 ribu hingga Rp 750 ribu per lembar sesuai tingkat kerumitan motifnya.

"Karena setiap kain ukuran 2,5 meter ini dikerjakan secara manual dan harus teliti. Satu kain ini bisa memakan waktu satu hingga tiga minggu pengerjaan, tergantung tingkat kerumitan pola atau desainnya," jelas Eka.

Target pasar batik ini menyasar kalangan tertentu yang menghargai keunikan karya seni tekstil buatan tangan. Eka menekankan bahwa aspek eksklusivitas menjadi daya tarik utama bagi para pelanggan mereka.

"Kemudian batik ini kami jual dengan harga kisaran Rp 200 ribu sampai Rp 750 ribu per lembarnya. Karena peminatnya memang kalangan khusus yang mencari keunikan dari batik," terang Eka.

Keberadaan sanggar kini menjadi destinasi wajib bagi wisatawan domestik maupun mancanegara, termasuk pelajar dari Amerika dan Jepang, sejak Desa Benteng bergabung dalam program Desa BRILiaN. Pengakuan ini meningkatkan volume penjualan produk secara rutin setiap bulannya.

"Alhamdulillah, keberadaan kami makin diakui setelah Desa BRILiaN ini. Sanggar Batik kami kini jadi destinasi wajib jika ada kunjungan ke desa," tutur Eka.

Kunjungan dari berbagai instansi dan institusi pendidikan memberikan dampak positif terhadap serapan pasar hasil karya ibu-ibu desa tersebut. Hal ini dibuktikan dengan konsistensi angka penjualan kain batik melalui jalur kunjungan wisata.

"Ya. Mulai dari beberapa sekolah, instansi, terus waktu itu dari mahasiswa-mahasiswa luar negeri dari Peru, Jepang, Amerika. Mereka ke sini belajar Batik Ciwitan," ungkap Eka.

Eka menambahkan bahwa rata-rata penjualan kain melalui kunjungan langsung mencapai puluhan lembar setiap bulan. Hal ini memperkuat posisi sanggar sebagai pilar ekonomi di Desa Wisata Benteng.

"Jadi dalam sebulan, rata-rata dari kunjungan bisa terjual 10 sampai 20 kain," imbuh Eka.

Ketua Unit Pengelola Desa Wisata Benteng, Wahyu Syarief Hidayat, mengungkapkan bahwa Batik Ciwitan menerima dana hibah sebesar Rp 200 juta dari total Rp 1 miliar yang diterima desa pada 2023. Dana tersebut dialokasikan untuk melengkapi sarana prasarana produksi.

"Melalaui program Desa BRILiaN, mereka mendapat bantuan berupa alat dan bahan, seperti kain, canting, cap, dan meja. Selain itu, ada rak penyimpanan, bahan pewarna dan perlengkapan untuk batik lainnya," terang Wahyu.

Pemerintah desa juga mempertegas identitas area sanggar sebagai bagian dari kawasan binaan melalui pembangunan infrastruktur fisik di lokasi tersebut. Hal ini bertujuan untuk memudahkan identifikasi bagi para pengunjung.

"Di sekitar area sanggar batik ini juga dibangun gapura kampung tematik, ini sebagai penanda bahwa binaan Desa BRILiaN," jelas Wahyu.

Direktur Micro BRI, Akhmad Purwakajaya, menyatakan bahwa program Desa BRILiaN difokuskan pada penguatan BUMDesa, digitalisasi, keberlanjutan, dan inovasi kreatif. Program ini bertujuan menggali potensi ekonomi lokal di seluruh wilayah Indonesia.

"Empat fokus utama itu menjadikan program Desa BRILiaN menjadi salah satu strategi utama pemberdayaan BRI untuk menggali dan mengembangkan potensi ekonomi di tingkat lokal," ujar Akhmad.

Sepanjang tahun 2025, tercatat lebih dari 5.200 desa telah mendapatkan pembinaan melalui program ini sebagai upaya memperkuat basis ekonomi nasional di tingkat desa. Langkah ini merupakan bentuk kolaborasi strategis untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

"Capaian ini mencerminkan konsistensi BRI dalam memperkuat peran desa sebagai basis pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus mitra strategis pemerintah dalam mengimplementasikan agenda pembangunan yang berorientasi pada pemerataan dan kesejahteraan masyarakat," pungkas Akhmad.

Artikel terkait

Rekomendasi