Basarnas Ungkap Kesulitan Evakuasi Tabrakan KRL dan KA Argo Bromo

Basarnas Ungkap Kesulitan Evakuasi Tabrakan KRL dan KA Argo Bromo
Foto: Ilustrasi Basarnas Ungkap Kesulitan Evakuasi Tabrakan KRL dan KA Argo Bromo.

Personel Basarnas Special Group mengungkapkan perjuangan berat saat mengevakuasi korban tabrakan antara KRL dan KA Argo Bromo Anggrek di Kota Bekasi pada Senin (27/4/2026) malam. Operasi penyelamatan di gerbong khusus perempuan tersebut dihadapkan pada tantangan ruang sempit dan material baja yang sulit ditembus, sebagaimana dilansir dari Megapolitan.

Tim penyelamat gelombang pertama menerima instruksi untuk bergerak menuju Stasiun Bekasi Timur segera setelah laporan kecelakaan masuk pada pukul 21.00 WIB. Meskipun perjalanan dari Kemayoran sempat terhambat kemacetan parah, rombongan berhasil mencapai lokasi dengan mengikuti kendaraan taktis Brimob Polri.

Situasi di titik kejadian digambarkan sangat padat oleh keberadaan petugas dari berbagai instansi keamanan dan kesehatan. Keadaan di dalam gerbong yang hancur dilaporkan sangat ekstrem dengan suhu panas yang menyesakkan serta kondisi gelap total akibat pemutusan arus listrik.

ÔÇ£Untuk kondisi di sana memang sangat crowded,ÔÇØ ucap Mawar, petugas Basarnas Special Group.

Mawar menjelaskan bahwa benturan keras menyebabkan kepala lokomotif KA Argo Bromo masuk hingga hampir separuh badan gerbong KRL. Akibatnya, lantai gerbong tergulung ke atas dan kursi-kursi penumpang berantakan, sehingga menciptakan lorong sempit di bawah rangka AC yang melengkung.

ÔÇ£Kepala lokonya itu masuk hampir setengah gerbong,ÔÇØ ujar Mawar.

Petugas mengidentifikasi terdapat lima korban selamat yang terjepit di antara tumpukan puing logam dan jenazah lainnya. Proses pengangkatan tidak bisa dilakukan secara instan karena risiko struktur baja yang dapat memperburuk cedera para korban.

ÔÇ£Yang saya evakuasi justru yang sudah meinggal karena itu justru yang menghalangi yang masih hidup," cerita Mawar.

Selama proses pemotongan material, para petugas harus terus berinteraksi dengan korban yang merintih meminta pertolongan segera. Mawar menekankan pentingnya ketelitian dalam menggunakan alat pemotong di tengah situasi kritis tersebut.

ÔÇ£Hampir semua itu minta cepat dievakuasi, namun kan tidak segampang itu,ÔÇØ katanya.

Personel di lapangan terus berupaya menjaga kondisi psikologis korban yang masih sadar dengan memberikan kata-kata penenang. Tim harus bekerja perlahan untuk memastikan keselamatan setiap nyawa yang masih bisa diselamatkan.

ÔÇ£Tenang dulu, sabar, nanti kita keluarkan,ÔÇØ ucap Mawar.

Karena akses dari samping terhalang oleh gulungan lantai kereta, tim akhirnya memutuskan untuk masuk melalui bagian atas gerbong. Mawar harus merangkak di atas tumpukan puing untuk mencari titik pemotongan baja yang paling efektif guna menjangkau korban.

ÔÇ£Yang enggak kuat tuh rintihan-rintihan korban,ÔÇØ ungkap Mawar.

Personel lainnya, Gusto Kapitan, masuk bersama tim kedua untuk melanjutkan pekerjaan di tengah kegelapan total. Tim medis terus mendampingi dengan menyuplai oksigen dan cairan infus kepada korban yang masih terhimpit baja di ruang yang sangat panas.

ÔÇ£Kami saja yang bekerja juga panas, kami gerah itu bagaimana ya, sudah capek gerah keringat,ÔÇØ ujar Gusto Kapitan.

Keberhasilan mengeluarkan setiap satu korban menjadi suntikan moral yang besar bagi para penyelamat yang mulai kelelahan. Gusto merasakan adanya tambahan energi setiap kali melihat korban berhasil dievakuasi ke ambulans.

ÔÇ£Itu rasa itu sangat senang, sangat lega, dan itu kayak macam ada tenaga power lebih yang tiba-tiba datang,ÔÇØ kata Gusto Kapitan.

Petugas logistik, Dendy Prasetyo, menambahkan bahwa beberapa korban baru ditemukan setelah lokomotif ditarik mundur dari badan KRL. Posisi korban yang sebelumnya tidak terlihat akhirnya terungkap setelah tekanan dari kepala lokomotif dilepaskan.

ÔÇ£Begitu ditarik itu kelihatan. Karena posisinya dia itu ke-press,ÔÇØ kata Dendy Prasetyo.

Kesulitan utama dalam operasi ini adalah karakteristik material gerbong kereta yang tidak mudah dipotong seperti kendaraan pada umumnya. Dendy menggambarkan sifat baja gerbong yang justru meregang saat dipotong, sehingga memperlambat durasi evakuasi.

ÔÇ£Kalau ini dia kayak model ngeleyot dulu. Jadi sekali potong dia masih kayak permen karet ditarik gitu,ÔÇØ ujar Dendy Prasetyo.

Artikel terkait

Rekomendasi