Tekanan ekonomi dan ritme kerja yang panjang memicu fenomena parental burnout atau kelelahan ekstrem dalam mengasuh anak pada keluarga urban di Jakarta, Senin (20/4/2026). Fenomena ini dinilai bukan sekadar persoalan individu, melainkan dampak dari sistem kehidupan masyarakat modern yang semakin kompleks.
Guru Besar Sosiologi Pendidikan Universitas Airlangga, Tuti Budirahayu, menjelaskan bahwa kondisi ini muncul karena energi orang tua telah terkuras habis di tempat kerja sebelum kembali menjalankan peran domestik. Dilansir dari Megapolitan, kelelahan tersebut mengakibatkan proses pengasuhan anak tidak lagi berjalan optimal secara fisik maupun mental.
"Parental burnout tidak saja disebabkan karena ritme cepat, biaya hidup tinggi dan jam kerja panjang, tetapi juga disebabkan oleh kelelahan ekstrem dalam mengasuh anak," ujar Tuti Budirahayu, Guru Besar Sosiologi Pendidikan Universitas Airlangga.
Ketiadaan ruang untuk memulihkan diri membuat interaksi antara orang tua dan anak cenderung berubah menjadi kaku dan mekanis. Tuti menekankan bahwa kesibukan yang menyita waktu membuat energi orang tua benar-benar habis saat tiba di rumah.
"Karena kesibukan dan waktu yang sudah dihabiskan dalam bekerja, sehingga orangtua merasa benar-benar kehabisan energi ketika sudah sampai rumah," kata Tuti Budirahayu.
Dampak lebih lanjut dari kondisi ini adalah berkurangnya kedekatan emosional karena orang tua lebih banyak memfungsikan diri sebagai pengatur daripada pembangun relasi. Hal tersebut sering kali membuat anak cenderung menarik diri dari lingkungan keluarga.
"Jarak emosional dengan anak karena waktu yang dicurahkan orangtua lebih banyak di tempat kerja, maka kedekatan emosi dengan anak menjadi berkurang," ujar Tuti Budirahayu.
"Akibatnya, interaksi dengan anak menjadi kaku, mekanis (sering memberi perintah, melarang, dll) dan anak cenderung menjauh dari orangtua," lanjut Tuti Budirahayu.
Ketidakmampuan menjalankan peran secara maksimal juga memicu krisis kepercayaan diri pada orang tua. Perasaan bersalah dan gagal sering muncul ketika standar pengasuhan ideal tidak terpenuhi.
"Maka muncul rasa bersalah, gagal, dan tidak mampu menjalankan peran sebagai orangtua dengan baik," tutur Tuti Budirahayu.
Secara sosiologis, beban ini diperberat oleh peralihan struktur keluarga dari keluarga besar menjadi keluarga inti yang lebih individualistik. Dukungan kolektif dalam pengasuhan kini hilang dan sepenuhnya menjadi beban suami-istri.
"Cukup besar pengaruhnya karena peran keluarga besar sangat signifikan untuk menjadi bagian supporting system pada keluarga inti," kata Tuti Budirahayu.
"Memang tidak dapat dipungkiri, bahwa keluarga modern cenderung menjadi nuclear family dan lebih individualistik, di mana tanggung jawab pengasuhan anak, menjadi beban individu (suami dan istri), bukan lagi keluarga besar," kata Tuti Budirahayu.
Tekanan ini sangat terasa bagi ibu yang harus menjalankan peran ganda sebagai pekerja sekaligus pengasuh utama. Rasa frustasi sering muncul akibat perasaan terisolasi dalam menghadapi tanggung jawab domestik sendirian.
"Hal itu dapat membuat ibu menjadi frustasi karena merasa sendirian dalam mengasuh anak," kata Tuti Budirahayu.
Sebagai alternatif, keluarga dengan kemampuan ekonomi memilih layanan seperti daycare atau pengasuh pribadi. Namun, penggunaan jasa ini memerlukan biaya tambahan yang signifikan bagi anggaran rumah tangga.
"Seperti misalnya menggaji pengasuh anak (babby sitter), ÔÇÿmenyekolahkanÔÇÖ anaknya sejak usia belum genap 1 tahun, menitipkan anaknya ke penitipan bayi dan anak (daycare), itu semua membutuhkan biaya yang tidak sedikit," lanjut Tuti Budirahayu.
Selain faktor ekonomi, standar tinggi mengenai orang tua ideal di media sosial turut menciptakan tekanan psikologis. Gambaran kesempurnaan tersebut sering kali tidak realistis bagi pasangan muda.
"Orangtua ideal di era modern sering ditampilkan di berbagai media sosial atau digital, dan hal itu semakin memperparah tekanan sosial dan psikologi orangtua yang memilih hidup dalam sistem keluarga inti (nuclear family)," jelas Tuti Budirahayu.
Realitas pengasuhan jauh dari kata sempurna karena setiap pasangan masih dalam proses belajar. Harapan untuk menjadi orang tua yang tanpa cela dinilai sulit untuk diwujudkan dalam kehidupan nyata.
"Padahal orangtua sempurna dan ideal (perfect parent) sesungguhnya sulit untuk diwujudkan," ujar Tuti Budirahayu.
Tuti menegaskan bahwa sistem kerja yang kaku menjadi penghalang utama bagi orang tua untuk memberikan perhatian lebih kepada keluarga. Kebutuhan ekonomi memaksa mereka untuk tetap patuh pada aturan kantor demi keamanan pekerjaan.
"Di dunia kerja, para orangtua mau-tidak mau harus mengikuti aturan dan jam kerja kantor yang tidak fleksibel. Jika itu dilanggar, maka ancaman kehilangan pekerjaan ada di depan mata," kata Tuti Budirahayu.
Beban tersebut semakin menumpuk karena minimnya bantuan dari anggota keluarga lain di lingkungan sekitar. Hal ini membuat pasangan suami-istri harus menanggung risiko pengasuhan anak sendirian.
"Di dunia sosial, ketiadaan supporting system (keluarga besar, atau bantuan anggota keluarga lain yang dapat mengasuh anak) menambah berat beban suami-istri dalam mengasuh anak-anak yang masih kecil," ujar Tuti Budirahayu.
Terakhir, norma sosial mengenai kesuksesan membesarkan anak sering kali menjadi bumerang bagi orang tua muda. Tuntutan untuk totalitas dalam pengasuhan justru memicu tekanan hegemonik.
"Faktor struktural adalah tuntutan untuk menjadi keluarga yang ideal dan harmonis, serta sukses dalam mengasuh serta membesarkan anak," ujar Tuti Budirahayu.
Di lapangan, para ibu di wilayah urban seperti Melani (33) merasakan pergulatan batin saat harus menitipkan anak ke daycare. Keputusan tersebut diambil murni untuk bertahan hidup secara finansial.
"Dalam kepala saya, anak itu harus sama ibunya. Saya dulu berpikir, ÔÇÿKalau anak dititipkan daycare, berarti ibunya enggak ngurus,ÔÇÖ" ujar Melani, Orang Tua.
Meski membantu menjaga kewarasan, rasa bersalah tetap membayangi para orang tua yang bekerja. Melani menceritakan momen emosional saat pertama kali meninggalkan anaknya di tempat penitipan.
"Saya sampai duduk di parkiran daycare beberapa menit. Enggak tega ninggalin," ujar Melani, Orang Tua.
"Daycare itu bukan soal mau atau enggak. Tapi soal bertahan," kata Melani, Orang Tua.
"Membantu banget. Kalau nggak ada daycare, saya enggak tahu harus gimana," tutur Melani, Orang Tua.
Sesa (34), seorang admin keuangan, juga mengungkapkan kekhawatiran serupa terkait keamanan anak. Ia mempertanyakan kapasitas dirinya sebagai ibu saat memutuskan menitipkan buah hati ke pihak lain.
"Saya mikir, ÔÇÿGue ibu jahat enggak sih?ÔÇÖ" ujar Sesa, Orang Tua.
Rasa cemas tersebut coba diredam dengan melakukan riset mendalam terhadap fasilitas dan pengawasan CCTV. Namun, ketenangan yang didapatkan hanya bersifat praktis untuk menunjang pekerjaan.
"Secara waktu iya, tapi secara mental tetap ada rasa bersalah," ujar Sesa, Orang Tua.
"Daycare itu kayak ÔÇÿpenyelamatÔÇÖ, walaupun mahal," ucap Sesa, Orang Tua.
Sementara itu, Dianova (36) sebagai ibu tunggal menghadapi kendala biaya yang membuatnya tidak mampu mengakses daycare. Ia terpaksa menitipkan anak kepada tetangga dengan standar pengasuhan yang lebih rendah.
"Saya pernah pengen. Tapi saya jujur enggak sanggup biayanya," ujar Dianova, Single Parent.
Kelelahan emosional yang dialaminya digambarkan sebagai kondisi kehilangan energi batin di tengah hidup yang terus berjalan. Fokus utamanya kini hanyalah pemenuhan kebutuhan dasar anak.
"Kadang saya merasa bersalah banget, karena anak saya kayak ÔÇÿdibesarkanÔÇÖ sama orang lain," kata Dianova, Single Parent.
"Burnout itu kayak hidup jalan tapi hati kosong," kata Dianova, Single Parent.
"Yang penting anak saya makan, sekolah, sehat," ujar Dianova, Single Parent.
Pengelola Trust DayCare, Martha Mulyadani, mengonfirmasi bahwa mayoritas kliennya adalah pasangan bekerja yang kehabisan opsi pengasuhan. Daycare menawarkan sistem pengawasan real-time yang tidak dimiliki pengasuh pribadi di rumah.
"Mayoritas karena suami-istri sama-sama bekerja," ujar Martha Mulyadani, Pengelola Trust DayCare.
"Ada juga yang bilang sudah cari pengasuh tapi tidak dapat-dapat, sementara mereka tetap harus bekerja," kata Martha Mulyadani, Pengelola Trust DayCare.
"Kalau daycare kan ada CCTV, jadi orangtua bisa memantau real time," ujar Martha Mulyadani, Pengelola Trust DayCare.
Sistem pengasuhan kolektif di daycare juga dimanfaatkan untuk melatih kemandirian anak. Anak-anak dibiasakan melakukan aktivitas dasar secara mandiri dalam lingkungan yang terstruktur.
"Kita melatih kemandirian anak," kata Martha Mulyadani, Pengelola Trust DayCare.
"Belajar berbagi, antre, tidak merebut mainan," ujar Martha Mulyadani, Pengelola Trust DayCare.
Masa adaptasi anak biasanya berlangsung antara satu hingga tiga minggu dan membutuhkan kesabaran dari orang tua. Kerja sama antara pola di rumah dan di tempat penitipan menjadi kunci keberhasilan proses ini.
"Bisa seminggu, dua minggu, bahkan tiga minggu. Itu wajar karena mereka merasa ditinggalkan," ujar Martha Mulyadani, Pengelola Trust DayCare.
"Kita sarankan pola yang sama seperti di daycare diterapkan di rumah," ujar Martha Mulyadani, Pengelola Trust DayCare.
Sebagai pengelola, Martha berusaha menjembatani harapan orang tua dengan kondisi riil pengasuh di lapangan. Keterlibatan emosional orang tua tetap dianggap sebagai kebutuhan yang tidak tergantikan oleh institusi mana pun.
"Kami sebagai pengelola posisinya di tengah," kata Martha Mulyadani, Pengelola Trust DayCare.
"Daycare juga bukan satu-satunya tempat pendidikan anak. Harus ada kerja sama," ujarnya Martha Mulyadani, Pengelola Trust DayCare.
"Saya berharap orangtua tetap menyediakan waktu untuk anak," ujar Martha Mulyadani, Pengelola Trust DayCare.