Sejumlah ilmuwan mengeluarkan peringatan pada Kamis (16/4/2026) mengenai risiko fatal akibat konsumsi vitamin D berlebih yang dapat memicu kondisi toksik dan mengancam jiwa. Peningkatan penggunaan suplemen ini di masyarakat memicu kekhawatiran terkait munculnya masalah kesehatan serius seperti hiperkalsemia.
Asupan vitamin D yang melampaui batas normal menyebabkan penumpukan kalsium berbahaya pada jaringan lunak dan pembuluh darah arteri. Dilansir dari Detik Health, kondisi ini dapat berlanjut pada komplikasi berat seperti batu ginjal, gangguan metabolisme tulang, hingga gagal ginjal yang memerlukan tindakan hemodialisis.
Para peneliti di Amerika Serikat pada tinjauan tahun 2018 menyoroti fenomena terlalu percaya diri masyarakat terhadap keamanan suplemen dosis tinggi. Fenomena ini diperparah oleh literatur populer yang secara masif mempromosikan manfaat vitamin D tanpa menekankan batasan dosis yang aman bagi tubuh.
"Dikombinasikan dengan peningkatan dramatis minat terhadap vitamin D yang sebagian berasal dari buku-buku populer yang memuji manfaat vitamin D dosis tinggi, mungkin tidak mengherankan jika terjadi peningkatan jumlah kasus keracunan vitamin D," papar penulis tinjauan tersebut sebagaimana dikutip dari ScienceAlert.
Data medis menunjukkan lonjakan kasus keracunan yang signifikan di Amerika Serikat, dengan laporan mencapai lebih dari 25.000 kasus dalam kurun waktu 14 tahun. Gejala yang sering muncul meliputi kelelahan ekstrem, mual, sembelit, hingga kelemahan otot yang mengganggu aktivitas harian pasien.
Dokter praktik Mallika Marshall melalui ulasan Harvard Medical School menegaskan pentingnya memantau angka asupan harian guna menghindari efek toksik. Ia menyarankan agar masyarakat lebih mengutamakan sumber nutrisi dari makanan yang diperkaya daripada bergantung sepenuhnya pada suplemen.
"Perhatikan angka Anda," tegas Mallika Marshall, Jurnalis dan Dokter Praktik.
Marshall memberikan panduan spesifik mengenai batasan konsumsi harian yang ideal untuk menjaga kesehatan tanpa menimbulkan risiko keracunan. Ia mengingatkan bahwa dosis di atas ambang batas tertentu hanya boleh dikonsumsi berdasarkan instruksi medis yang ketat.
"Jika Anda mengonsumsi suplemen vitamin D, Anda mungkin tidak memerlukan lebih dari 15 mcg hingga 20 mcg (600 IU hingga 800 IU) per hari. Kecuali tim medis Anda merekomendasikannya, hindari mengonsumsi lebih dari 100 mcg (4.000 IU) per hari, yang dianggap sebagai batas atas yang aman," kata Mallika Marshall, Jurnalis dan Dokter Praktik.
Kasus keracunan tercatat juga menyasar kelompok anak-anak, seperti kejadian di Denmark pada 2016 yang melibatkan produk dengan dosis 75 kali lipat dari anjuran. Meskipun sebagian besar pasien dapat pulih setelah menghentikan suplemen, kewaspadaan terhadap penggunaan mandiri tanpa konsultasi dokter tetap menjadi prioritas utama tenaga medis.