Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperingatkan ancaman serius ikan sapu-sapu terhadap ekosistem perairan di Indonesia pada Jumat (1/5/2026). Spesies invasif asal Sungai Amazon ini dinilai mampu menggeser posisi ikan lokal akibat kemampuan adaptasi yang sangat tinggi dan reproduksi yang cepat.
Dilansir dari Lestari, data penelitian menunjukkan terdapat sekitar 247 jenis ikan asing di Indonesia, dengan 50 jenis di antaranya diduga telah menyebar di perairan umum. Indonesia sebenarnya memiliki kekayaan 5.114 spesies ikan air tawar dari total 15.750 spesies dunia sehingga introduksi spesies asing dinilai tidak diperlukan.
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Gema Wahyudewantoro menjelaskan bahwa ikan sapu-sapu awalnya masuk ke Indonesia sekitar tahun 1970ÔÇô1980 sebagai ikan pembersih akuarium. Namun, aktivitas manusia seperti perdagangan ikan hias dan pelepasan liar membuat populasinya kini tidak terkendali di berbagai wilayah.
ÔÇ£Salah satu contoh paling menonjol adalah ikan sapu-sapu. Ikan yang berasal dari Sungai Amazon ini diduga masuk ke Indonesia pada periode 1970ÔÇô1980, awalnya sebagai pembersih akuarium kini ikan tersebut telah menyebar luas di berbagai perairan,ÔÇØ ungkap Gema Wahyudewantoro, Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN.
Gema memaparkan bahwa proses invasi dimulai dari tahap introduksi hingga dominasi yang menguasai ekosistem melalui identifikasi morfologi dan pemantauan distribusi di seluruh aliran sungai. Riset mendalam diperlukan untuk memetakan penyebaran spesies yang memiliki mekanisme pertahanan kuat ini.
ÔÇ£Oleh karena itu, riset berperan penting untuk proses identifikasi morfologi, DNA barcoding, analisis risiko, serta pemantauan distribusi. Hasil penelitian di daerah aliran sungai menunjukkan bahwa ikan invasif ditemukan di seluruh bagian sungai, dari hulu hingga hilir,ÔÇØ jelas Gema Wahyudewantoro, Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN.
Secara biologis, satu ekor ikan sapu-sapu mampu bertahan hidup hingga usia 15 tahun dan menghasilkan hingga lima ribu butir telur dalam satu siklus reproduksi. Meskipun bukan termasuk golongan predator, ikan ini merupakan kompetitor kuat yang mengonsumsi alga serta telur ikan lain.
ÔÇ£Sebenarnya, ikan sapu-sapu bukan predator, melainkan kompetitor yang kuat. Aktivitasnya di dasar perairan dapat mengganggu keseimbangan ekosistem perairan,ÔÇØ beber Gema Wahyudewantoro, Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN.
Keberadaan spesies ini juga memicu risiko kesehatan bagi manusia karena potensi kandungan logam berat dan bakteri Escherichia coli jika dikonsumsi. Pengendalian strategis yang diusulkan meliputi penangkapan rutin sebelum musim reproduksi, edukasi publik, hingga penegakan hukum bagi pihak yang melepasliarkan spesies asing.
ÔÇ£Sebagian besar spesies asing masuk karena aktivitas manusia. Tanpa pengelolaan yang baik, mereka dapat menjadi invasif dan mengancam biodiversitas lokal. Pencegahan tetap menjadi langkah paling efektif, melalui penguatan kebijakan, riset, dan peningkatan kesadaran publik,ÔÇØ sebut Gema Wahyudewantoro, Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN.
Saat ini ditemukan sedikitnya tiga spesies ikan sapu-sapu di perairan Indonesia, meningkat dari temuan sebelumnya yang hanya mencatat satu spesies tunggal.