Ahli Gizi Jelaskan Bahaya Gula Bebas Terhadap Risiko Obesitas Anak

Ahli Gizi Jelaskan Bahaya Gula Bebas Terhadap Risiko Obesitas Anak
Foto: Ilustrasi Ahli Gizi Jelaskan Bahaya Gula Bebas Terhadap Risiko Obesitas Anak.

Ahli gizi memperingatkan dampak negatif konsumsi gula bebas yang dapat meningkatkan risiko obesitas pada anak melalui mekanisme penyerapan cepat di dalam tubuh pada Rabu, 15 April 2026. Gula bebas mencakup pemanis tambahan dalam makanan olahan serta gula alami yang sudah dipisahkan dari struktur aslinya seperti pada jus buah dan madu.

Perbedaan mendasar antara gula alami dan gula bebas terletak pada struktur ikatannya dengan serat bahan pangan. Dilansir dari Detik Health, gula dalam buah utuh dilepaskan secara bertahap sehingga menjaga stabilitas kadar gula darah, sementara gula bebas menyebabkan lonjakan glukosa secara instan karena diserap lebih cepat oleh sistem pencernaan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan gula bebas sebagai kelompok gula sederhana seperti glukosa dan sukrosa yang ditambahkan oleh produsen maupun konsumen. European Society for Paediatric Gastroenterology Hepatology and Nutrition (ESPGHAN) merekomendasikan batas asupan gula bebas maksimal 5 persen dari total kebutuhan energi harian anak.

Bagi anak usia sekolah dengan kebutuhan 1.600 kalori, batas aman konsumsi gula bebas hanya sekitar 20 gram atau setara empat sendok teh per hari. Jumlah ini sangat rentan terlampaui mengingat satu botol minuman manis atau sereal sarapan komersial seringkali mengandung kadar gula yang jauh melebihi ambang batas tersebut.

Dampak kesehatan dari konsumsi gula berlebih ini mencakup karies gigi akibat kerusakan lapisan enamel oleh asam bakteri mulut serta gangguan perilaku seperti energi yang melonjak sesaat (sugar rush). Dalam jangka panjang, pola makan tinggi gula memicu perubahan mikrobiota usus dan menjadi faktor risiko utama penyakit Diabetes tipe 2 serta gangguan kardiovaskular saat dewasa.

Sebagai langkah antisipasi, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah menyetujui rancangan aturan Nutri-Level untuk memudahkan konsumen mengenali kandungan gula, garam, dan lemak pada label kemasan. Para ahli menyarankan pemberian buah utuh sebagai pengganti jus guna memastikan asupan serat tetap terjaga dan memperlambat proses penyerapan gula dalam tubuh anak.

Artikel terkait

Rekomendasi