Umat Islam di Indonesia secara rutin mengamalkan pembacaan Yasin dan tahlil pada hari Sabtu, 18 April 2026, sebagai bentuk kiriman doa bagi kerabat yang telah wafat. Tradisi ini umumnya diselenggarakan secara berjemaah pada momentum hari ke-7, 40, hingga 100 hari setelah seseorang meninggal dunia.
Aktivitas dzikir dan doa bersama ini sudah mengakar kuat sebagai tradisi di masyarakat, khususnya bagi kalangan warga Nahdlatul Ulama (NU), sebagaimana dilansir dari Detikcom. Tahlilan secara bahasa bermakna pengucapan kalimat tauhid Lailaha illallah dan sering dijadikan ajang silaturahmi rutin di berbagai daerah.
Mengenai dasar hukum pelaksanaannya, Ust. H. Abdul Somad dalam buku Umat Bertanya Ustadz Shomad Menjawab memberikan penjelasan mengenai aspek historis amalan tersebut. Ia menegaskan bahwa praktik ini tidak memiliki contoh langsung dari Nabi Muhammad SAW maupun para sahabat dalam Al-Qur'an dan hadits.
"Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Pemilik hari Pembalasan. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan. Bimbinglah kami ke jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) orang-orang yang sesat." tulis kutipan arti Al-Fatihah dalam buku Majmu Syarif dan Al-Ma'tsurat karya Sulthan Adam.
Landasan tahlilan merujuk pada pendapat ulama tabi'in seperti Imam Atha yang menyatakan bahwa orang yang meninggal akan diuji di alam kubur selama tujuh hingga empat puluh hari. Oleh sebab itu, keluarga dianjurkan bersedekah dan mendoakan almarhum sebagai bentuk kepedulian.
"Katakanlah (Nabi Muhammad), "Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan serta tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya." bunyi terjemahan Surah Al-Ikhlas yang menjadi bagian dalam susunan tahlil.
Meskipun diperbolehkan, tahlilan tidak bersifat wajib bagi umat Islam, sehingga mereka yang tidak melaksanakannya tidak menanggung dosa. Bagi yang menjalankan, amalan ini dipandang sebagai bentuk sedekah jariyah bagi orang yang sudah meninggal.
"Katakanlah (Nabi Muhammad), 'Aku berlindung kepada Tuhan yang (menjaga) fajar (subuh) dari kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan, dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dari kejahatan perempuan-perempuan (penyihir) yang meniup pada buhul-buhul (talinya), dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki'." merupakan arti dari Surah Al-Falaq.
Pelaksanaan tahlilan juga memiliki urutan bacaan yang baku untuk memudahkan jemaah, mulai dari Al-Fatihah hingga doa penutup. Urutan ini disusun sedemikian rupa untuk memastikan setiap dzikir yang dilantunkan memiliki keutamaan spiritual yang tinggi.
"Katakanlah (Nabi Muhammad), 'Aku berlindung kepada Tuhan manusia, raja manusia, sembahan manusia dari kejahatan (setan) pembisik yang bersembunyi yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia'." jelas makna Surah An-Nas dalam rangkaian bacaan tersebut.
Susunan dilanjutkan dengan pembacaan penggalan awal Surah Al-Baqarah yang menekankan bahwa kitab suci Al-Qur'an adalah petunjuk bagi orang bertakwa. Ayat-ayat ini dibaca untuk memperkuat iman para jemaah yang hadir dalam majelis doa.
"Alif L─üm M─½m. Kitab (Al-Qur'an) ini tidak ada keraguan di dalamnya; (ia merupakan) petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang beriman pada yang gaib, menegakkan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka, dan mereka yang beriman pada (Al-Qur'an) yang diturunkan kepadamu (Nabi Muhammad) dan (kitab-kitab suci) yang telah diturunkan sebelum engkau dan mereka yakin akan adanya akhirat. Merekalah yang mendapat petunjuk dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." papar arti ayat 1-5 Surah Al-Baqarah.
Setelah itu, jemaah membaca ayat yang menegaskan keesaan Allah SWT sebagai inti dari seluruh ajaran Islam. Kalimat ini dibaca berulang untuk menanamkan ketauhidan dalam hati setiap peserta tahlilan.
"Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada tuhan selain Dia Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang." kutip arti Surah Al-Baqarah ayat 163.
Ayat Kursi menjadi bacaan krusial berikutnya karena mengandung penjelasan tentang keagungan kekuasaan Allah yang meliputi langit dan bumi. Pembacaan ayat ini dimaksudkan untuk memohon perlindungan bagi ahli kubur dan keluarga yang ditinggalkan.
"Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak dilanda oleh kantuk dan tidak (pula) oleh tidur. Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun dari ilmu-Nya, kecuali apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya (ilmu dan kekuasaan-Nya) meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung." urai terjemahan ayat 255 Surah Al-Baqarah.
Rangkaian inti tahlil diakhiri dengan tiga ayat terakhir Surah Al-Baqarah yang berisi doa permohonan ampunan dan keringanan beban hidup. Ayat ini mencakup pengakuan bahwa setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas segala perbuatannya.
"Milik Allahlah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Jika kamu menyatakan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah memperhitungkannya bagimu. Dia mengampuni siapa saja yang Dia kehendaki dan mengazab siapa pun yang Dia kehendaki. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Rasul (Muhammad) beriman pada apa (Al-Qur'an) yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang mukmin. Masing-masing beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata,) 'Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya.' Mereka juga berkata, 'Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami, wahai Tuhan kami. Hanya kepada-Mu tempat (kami) kembali.' Allah tidak membebani seseorang, kecuali menurut kesanggupannya. Baginya ada sesuatu (pahala) dari (kebajikan) yang diusahakannya dan terhadapnya ada (pula) sesuatu (siksa) atas (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa,) 'Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami salah. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami. Maka, tolonglah kami dalam menghadapi kaum kafir.'" bunyi lengkap arti ayat 284-286.
Selanjutnya, jemaah melantunkan istighfar sebagai bentuk permohonan ampun kepada Tuhan. Kalimat pendek ini dibaca dengan penuh kekhusyukan sebelum memasuki fase dzikir utama.
"Aku memohon ampun kepada Allah yang Maha Agung." tulis arti bacaan istighfar tersebut.
Sebagai penutup dari rangkaian dzikir, dibacakan hadits mengenai keutamaan lafal tahlil. Hal ini bertujuan mengingatkan jemaah akan pentingnya mengingat Allah dalam setiap keadaan, terutama saat mendoakan mereka yang telah tiada.
"Sebaik-baik dzikir-ketahuilah-adalah lafal 'La il─üha illall─üh', tiada tuhan selain Allah, Dzat yang hidup dan ujud." kutip terjemahan hadits keutamaan tahlil.
Pembacaan kalimat tahlil dilanjutkan dengan penegasan bahwa Allah adalah satu-satunya zat yang disembah. Hal ini merupakan fondasi utama dari seluruh rangkaian acara doa bersama tersebut.
"Tiada tuhan selain Allah, dzat yang hidup dan disembah." lanjut kutipan arti hadits tersebut.
Keyakinan akan sifat kekal Tuhan menjadi poin penting yang dibacakan sebelum masuk ke inti tahlil. Jemaah diingatkan bahwa hanya Allah yang tidak akan pernah mati, sementara seluruh makhluk pasti akan binasa.
"Tiada tuhan selain Allah, dzat kekal yang takkan mati." bunyi terjemahan kalimat hadits berikutnya.
Puncak dari dzikir ini adalah pengulangan kalimat tauhid secara bersama-sama oleh seluruh jemaah yang hadir. Kalimat ini merupakan inti dari tradisi tahlilan yang dipraktikkan masyarakat muslim Indonesia.
"Tiada tuhan selain Allah." merupakan arti dari lafal tahlil yang dibaca berulang kali.
Persaksian atas kerasulan Nabi Muhammad SAW juga tidak luput dari rangkaian doa ini. Hal ini menunjukkan kepatuhan umat Islam kepada ajaran Rasulullah dalam menjalankan ibadah dan tradisi sosial.
"Tiada tuhan selain Allah, Nabi Muhammad SAW adalah utusan-Nya." tulis arti dua kalimat syahadat.
Sholawat Nabi dibacakan sebanyak tiga kali sebagai bentuk penghormatan dan permohonan rahmat bagi Rasulullah. Bacaan ini dipercaya dapat mempermudah terkabulnya doa-doa yang dipanjatkan kepada Allah SWT.
"Ya Allah, limpahkan sholawat untuk Sayyidina Nabi Muhammad SAW. Ya Allah, limpahkan sholawat dan salam untuknya (Nabi Muhammad SAW)." bunyi arti sholawat nabi pertama.
Variasi sholawat lain juga dilantunkan untuk memuji keagungan Tuhan dan memohon keselamatan bagi Nabi. Kalimat-kalimat ini diucapkan secara ritmis untuk menjaga konsentrasi jemaah dalam berdoa.
"Ya Allah, limpahkan sholawat untuknya (Nabi Muhammad SAW). Tuhanku, limpahkan sholawat dan salam untuknya (Nabi Muhammad SAW)." kutip arti sholawat kedua.
Tasbih menjadi bagian penutup dzikir yang menekankan kesucian Allah dari segala kekurangan. Jemaah melafalkan puji-pujian ini sebagai pengakuan atas kekuasaan Tuhan yang absolut atas kehidupan dan kematian.
"Maha Suci Allah dan dengan memuji-Nya. Maha suci Allah dan dengan memuji-Nya." urai terjemahan bacaan tasbih.
Sebagai pamungkas dzikir sebelum doa, dibacakan sholawat untuk keluarga dan sahabat Nabi. Hal ini bertujuan menyatukan keberkahan bagi seluruh jemaah dan umat Islam secara luas.
"Ya Allah, tambahkanlah rahmat dan kesejahteraan untuk kekasih-Mu, yaitu pemimpin kami, Nabi Muhammad, keluarga, and para sahabatnya semua." bunyi arti sholawat nabi penutup.
Rangkaian tahlilan diakhiri dengan doa tahlil, baik versi pendek maupun panjang, sesuai dengan kebutuhan majelis. Ibnu Watiniyah dalam Kitab Lengkap Shalat, Shalawat, Zikir, dan Doa menyusun versi pendek yang menekankan pada rasa syukur atas nikmat Allah.
"Segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam, sebagaimana orang-orang yang bersyukur dan orang yang memperoleh nikmat sama memuji, dengan pujian yang sesuai dengan nikmatnya dan memungkinkan ditambah nikmatnya. Tuhan kami, hanya bagi-Mu segala puji sebagaimana pujian yang layak bagi kemuliaan dan keagungan kekuasaan-Mu." jelas arti doa tahlil pendek.
Bagi majelis yang menginginkan permohonan lebih mendalam, tersedia doa tahlil versi panjang sebagaimana disusun oleh Muhammad Abdul Karim. Doa ini mencakup permohonan khusus bagi ahli kubur, orang tua, hingga seluruh kaum muslimin di penjuru dunia.
"Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah. Tuhan semesta alam, sebagaimana orang-orang yang bersyukur, dan orang-orang yang memperoleh nikmat sama memuji, dengan puji yang sebanding dengan nikmat-nikmat-Nya dan menjamin tambahannya. Wahai Tuhan kami, hanya bagi-Mu segala puji, sebagaimana apa yang patut bagi keluhuran Dzat-Mu dan keagungan kekuasaan-Mu. Ya Allah, berilah rahmat dan keselamatan atas penghulu kami, Nabi Muhammad dan keluarganya. Ya Allah, terima dan sampaikanlah pahala bacaan Al-Qur'an yang telah kami baca, tahlil, tasbih, istighfar, dan bacaan sholawat kami kepada penghulu kami, Nabi Muhammad, dengan hadiah yang bisa sampai dan rahmat yang turun, berkah yang cukup, dan sedekah yang diterima, yang hal itu memang kami dahulukan sebagai hadiah kami kepadanya (Nabi Muhammad). Kepada nabi kami, penolong, dan penyenang hati kami, penghulu dan pemimpin kami, yaitu Nabi Muhammad, dan kepada semua sahabat-sahabatnya dari golongan para nabi dan rasul, para wali, orang-orang yang mati syahid, orang-orang saleh, para sahabat beliau, tabi'in, para ulama, orang-orang yang mengamalkan ilmunya, para pengarang kitab, orang-orang yang ikhlas, dan semua pejuang di jalan Allah, Tuhan semesta alam. Dan kepada para malaikat yang selalu mendekatkan diri kepada Allah, kemudian juga kepada seluruh ahli kubur dari kaum muslimin, muslimat, mukminin, mukminat dari belahan bumi sebelah timur dan barat, baik yang di daratan maupun yang di lautan, khususnya, kepada bapak dan ibu kami, kakek dan nenek kami, dan kepada orang yang menyebabkan kami semua dapat berkumpul disini dan untuk keperluannya. Ya Allah, ampuni dan rahmatilah mereka, selamatkanlah dan maafkanlah kesalahan mereka. Ya Allah, ampunilah yang hidup di antara kami dan yang telah wafat, yang hadir (di tempat ini) dan yang tidak hadir, yang kecil maupun yang besar, laki-laki maupun perempuan. Ya Allah, siapa yang hidup di antara kami, maka hidupkanlah ia dalam keislaman dan yang wafat, wafatkanlah dalam keadaan iman. Ya Allah, luruskanlah kehidupan beragama kami, karena itulah pegangan kami dalam segala persoalan, sejahterakanlah dunia kami, karena di sanalah kehidupan kami (serta sarana pengabdian kami). Bahagiakanlah kehidupan akhirat kami karena ke sanalah tempat kami kembali. Jadikanlah kehidupan (kami) bersinambung di dalamnya segala macam kebajikan, dan kematian kami (kelak setelah usia yang panjang) akhir dari segala petaka. Wahai Tuhan kami, berilah kami kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat serta selamatkanlah kami dari siksa neraka. Semoga rahmat dan kesejahteraan selalu tercurah kepada junjungan kami Nabi Muhammad, para keluarga, dan sahabat beliau. Maha Suci Tuhanku, Tuhan yang bersih dari apa yang mereka (orang-orang kafir) katakan. Dan kesejahteraan semoga senantiasa dilimpahkan kepada para utusan Allah. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Al Fatihah (dilanjutkan membaca Al-Fatihah)" tutup kutipan doa tahlil panjang tersebut.