Sejumlah awak kabin Lion Air memperkuat kesiapan mental menjelang penugasan penerbangan haji global pada Selasa, 14 April 2026, di tengah situasi konflik yang melanda kawasan Timur Tengah. Dilansir dari Detik Travel, ketegangan di wilayah Teluk tersebut memberikan dampak signifikan terhadap sektor penerbangan internasional saat ini.
Para kru pesawat yang bertugas mengakui adanya kekhawatiran terkait kondisi keamanan di jalur penerbangan tersebut. Meski demikian, aspek profesionalitas tetap dikedepankan oleh pihak maskapai dalam menjalankan misi pengangkutan jemaah haji tahun ini.
Akbar Maulana, salah satu awak kabin yang bertugas, memberikan keterangan mengenai tantangan mental yang ia hadapi saat acara pelepasan kru di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang.
"Tentunya kita sebagai ciptaan dari Allah SWT, kita selalu berdoa semoga kita semua selalu diberikan perlindungan dan juga kelancaran dalam penerbangan," katanya kepada detikTravel.
Akbar menyebutkan bahwa rasa takut tetap ada, namun ia menganggap tugas ini sebagai bentuk pengabdian dan ibadah. Ia juga meyakini bahwa manajemen perusahaan telah memperhitungkan segala risiko keamanan secara matang demi keselamatan seluruh kru dan penumpang.
"Sebenarnya takut sih, tapi InsyaAllah dan saya yakin juga dari perusahaan juga sudah memikirkan semuanya, untuk keamanan kita semua," ungkap Akbar.
Penundaan jadwal terbang menjadi salah satu opsi mitigasi yang disiapkan maskapai jika kondisi di negara tujuan dianggap tidak aman. Akbar menjelaskan bahwa seluruh kru akan tetap mematuhi instruksi operasional dari perusahaan terkait pemetaan risiko di lapangan.
"Kalau dari cabin crew-nya sendiri sih kita tetap mengikuti arahan dari perusahaan, di mana kalau memang tidak memungkinkan untuk terbang ke suatu negara tersebut, pastinya dari perusahaan akan menginformasikan kepada kita. Dan mungkin akan ditunda untuk penerbangan tersebut," lengkapnya.
Rekan sejawat Akbar, Mevtorus Malia, turut menyatakan kesiapannya untuk menjalani tugas meskipun situasi keamanan belum sepenuhnya stabil. Pengalamannya selama ini menjadi modal utama dalam menjaga ketangguhan mental di lapangan.
"Mental kita juga sudah sangat kuat ya, yang di mana kita ini tahu tujuan kita bukan hanya kerja. Tapi sekaligus ibadah, pahalanya Masya Allah," ucap Malia.