Anggota Komisi V DPR Fraksi Golkar Hamka B Kady mendesak pemerintah untuk melakukan audit menyeluruh terhadap operasional taksi listrik Green SM menyusul kecelakaan maut di perlintasan sebidang Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026) malam. Insiden yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL tersebut menelan 15 korban jiwa.
Permintaan audit ini mencakup aspek kelaikan armada hingga manajemen perusahaan guna memastikan standar keselamatan transportasi publik terjaga. Hamka menilai langkah evaluasi teknis sangat krusial bagi jenis kendaraan listrik yang beroperasi sebagai angkutan umum.
"Semuanya itu harus diaudit dulu, ya. Diaudit, jadi termasuk taksi-taksi yang listrik itu diaudit dulu kemampuan teknisnya, manajemennya taksi dan sebagainya ini, ya kita serahkan lah kepada Kementerian Perhubungan," kata Hamka, kepada wartawan, Rabu (29/4/2026).
Selain masalah armada, Hamka juga menyoroti keberadaan ribuan perlintasan sebidang tanpa penjagaan yang tersebar di wilayah Indonesia. Menurutnya, hal ini menjadi akar permasalahan utama dalam rentetan kecelakaan kereta api yang fatal.
"Kita mulai dulu akar permasalahannya daripada kecelakaan itu. Yang paling banyak menelan korban dan peristiwa kecelakaan kereta api itu adalah perlintasan sebidang yang ribuan di Indonesia itu tidak ada yang menjaga dengan baik," tutur Hamka.
Legislator tersebut menambahkan bahwa DPR telah lama mendorong pemerintah untuk memperketat pengamanan di titik-titik persimpangan rel tersebut. Ia juga mengapresiasi adanya komitmen pimpinan negara untuk menyelesaikan persoalan infrastruktur perkeretaapian ini.
"Alhamdulillah ya saya dapat baca dan info, Pak Prabowo sudah apa namanya menyinggung soal itu akan diselesaikan. Itu yang utama dan pertama sebenarnya kecelakaan-kecelakaan kereta api itu penyebabnya dari perlintasan sebidang," ujar Hamka.
Berdasarkan data yang dilansir dari Nasional, peristiwa tragis ini mengakibatkan 15 orang meninggal dunia dan 84 orang mengalami luka-luka. Kecelakaan melibatkan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi dan KRL PLB 5568A jurusan Jakarta-Cikarang.
Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI) Bobby Rasyidin menjelaskan bahwa gangguan sistem bermula dari insiden di perlintasan sebidang yang terletak sekitar 200 meter dari Stasiun Bekasi Timur.
ÔÇ£Kejadian ini dimulai dengan adanya temperan taksi hijau di JPL 85. Sehingga ini yang kami curigai itu membuat sistem perkeretaapian di daerah stasiun emplasemen Bekasi Timur ini agak terganggu,ÔÇØ ujar Bobby, saat ditemui di Stasiun Bekasi Timur, Selasa (28/4/2026) dini hari.
Informasi dari saksi mata di lapangan menyebutkan bahwa kendaraan taksi tersebut sempat menerobos palang pintu sebelum akhirnya berhenti di tengah jalur rel.
ÔÇ£Iya kondisi palang sudah ditutup, tapi taksi maksa jalan, nerobos palang pintu, nah pas di tengah itu mogok,ÔÇØ ujar Askhin, di lokasi kejadian, Selasa.
Askhin yang merupakan relawan perlintasan menyatakan mobil tersebut tidak sempat dievakuasi hingga akhirnya tertabrak KRL. Akibat kejadian tersebut, KRL berhenti darurat sebelum akhirnya ditabrak oleh KA Argo Bromo Anggrek dari arah belakang.