Evolusi industri asuransi di Indonesia saat ini tidak lagi hanya bertumpu pada ekspansi layanan digital. Keberhasilan sektor ini juga ditentukan oleh penyediaan produk yang relevan, transparansi proses klaim untuk membangun kepercayaan, serta perluasan jalur distribusi melalui kemitraan strategis.
Langkah tersebut menjadi fondasi bagi PT Central Asia Financial atau Asuransi JAGADIRI dalam memperkuat pertumbuhan bisnis perusahaan. Strategi ini diambil untuk merespons dinamika kebutuhan masyarakat yang terus berkembang, dikutip dari Money.
Direktur Operasional dan Layanan JAGADIRI, Hilda Limyanton, menjelaskan bahwa perusahaan menempuh langkah transformasi dengan menyediakan produk yang lebih simpel. Produk tersebut dirancang agar mudah dipahami sekaligus sesuai dengan keperluan para nasabah.
Penjelasan tersebut dipaparkan Hilda ketika menjadi panelis diskusi "Expanding Insurance Reach: Simple Products, Trusted Brands & Stronger Distribution Networks" pada ajang Asian Banking & Finance and Insurance Asia Summit 2026. Pertemuan ini mempertemukan para pelaku sektor asuransi, perbankan, dan keuangan se-Asia untuk merumuskan strategi pertumbuhan finansial yang berkelanjutan.
Menurut Hilda, produk asuransi selama ini cenderung dibuat rumit agar bisa dipersonalisasi untuk pelbagai kebutuhan, terutama bagi segmen masyarakat menengah ke atas. Imbasnya, masyarakat luas sering kali menganggap produk perlindungan ini kompleks dan sulit dimengerti.
Adanya kebutuhan terhadap proteksi dengan premi yang lebih terjangkau memicu JAGADIRI untuk meluncurkan produk yang spesifik dan ringan. Perubahan ini berfokus pada standardisasi sistem tanpa mengorbankan kualitas layanan.
"Ini bukan soal memilih antara kualitas dan kuantitas, namun evolusi atas cara kami membuat produk asuransi. Standardisasi di era baru ini dilakukan di backend pada engine underwriting, library policy wording, infrastruktur klaim, dan struktur treaty reinsurance, sehingga yang dilihat nasabah di depan akan semakin personal dan relevan," ujar Hilda.
Transformasi ini juga mengubah model bisnis perusahaan dari direct-to-consumer menjadi kerja sama antarbisnis atau business-to-business (B2B) serta business-to-business-to-consumer (B2B2C). Pendekatan ini memakai arsitektur modular yang membuat paket perlindungan dapat disesuaikan dengan kebutuhan setiap segmen konsumen konsumen.
Mendorong Transparansi Proses Klaim
JAGADIRI juga menekankan krusialnya membangun kepercayaan dengan nasabah bahkan sebelum pengajuan klaim dilakukan. Hilda menyebutkan ada tiga pembenahan mendasar yang wajib dijalankan industri asuransi demi meningkatkan kesetiaan konsumen.
Poin pertama adalah nasabah harus bisa memantau status pengajuan klaim secara real time, serupa dengan pelacakan paket pengiriman barang. Kedua, susunan bahasa di dalam polis asuransi harus disederhanakan agar langsung dipahami tanpa memerlukan bantuan dari tenaga ahli.
Poin ketiga menyangkut dukungan teknologi pada layanan pelanggan yang tetap mempertahankan interaksi humanis. Pendekatan personal ini dinilai sangat cocok dengan karakteristik masyarakat di Indonesia.
"Hal ini sangat penting bagi nasabah Indonesia yang cenderung menyukai interaksi sosial dan pendekatan personal," kata dia.
Perluasan Distribusi Melalui Jaringan Mitra
Guna memperluas penetrasi pasar, JAGADIRI memilih untuk memperkokoh kolaborasi dengan pihak eksternal ketimbang mendirikan seluruh infrastruktur secara mandiri. Perusahaan mengandalkan platform digital, broker, serta agregator berlisensi yang sudah memiliki kesiapan teknologi dan jaringan distribusi.
Strategi kemitraan ini terbukti efektif dalam memangkas biaya operasional sekaligus memperbanyak titik akses produk asuransi bagi publik. Dari sisi regulasi, kehadiran POJK 8/2024 juga dinilai membuat iklim bisnis menjadi semakin kondusif.
Regulasi tersebut mempermudah mekanisme peluncuran produk asuransi tertentu lewat jalur pelaporan, di mana perusahaan hanya perlu melapor dalam lima hari kerja setelah produk dipasarkan. Kebijakan ini mempercepat kolaborasi produk bersama mitra baru dengan tetap mematuhi hukum.
Walau bekerja sama dengan banyak mitra, JAGADIRI menegaskan tetap memegang kendali penuh atas penilaian risiko, penentuan harga, dan relasi dengan nasabah. Urusan teknis seperti integrasi sistem dan digital onboarding sepenuhnya diserahkan kepada mitra yang ahli di bidangnya.
"Kami tidak perlu membangun semuanya sendiri. Dengan bermitra bersama platform digital and broker yang sudah punya infrastruktur lengkap, kami bisa lebih fokus pada hal yang paling penting: memahami kebutuhan nasabah dan memberikan perlindungan yang tepat," tutup Hilda.