Amerika Serikat dan Iran dilaporkan tengah menyusun draf kesepakatan sementara untuk menghentikan konflik bersenjata melalui mediasi Pakistan pada Kamis (7/5/2026). Rencana ini mencakup kerangka kerja tiga tahap guna meredakan ketegangan fisik di Timur Tengah meskipun isu-isu krusial belum sepenuhnya terselesaikan.
Sebagaimana dilansir dari Suara, draf memorandum jangka pendek ini bertujuan mencegah eskalasi militer yang lebih luas. Kesepakatan tersebut mencakup pengakhiran perang secara formal, pembukaan blokade di Selat Hormuz, serta penyediaan waktu negosiasi selama 30 hari untuk membahas perjanjian komprehensif.
Kabar mengenai potensi gencatan senjata ini berdampak signifikan pada stabilitas ekonomi global. Indeks saham dunia melonjak mendekati rekor tertinggi, sementara harga minyak mentah Brent terkoreksi sebesar 3 persen hingga menyentuh level 90 dolar AS per barel akibat spekulasi pulihnya pasokan energi melalui Selat Hormuz.
Tahir Andrabi, juru bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan, mengonfirmasi bahwa proses mediasi di Islamabad menunjukkan perkembangan positif bagi kedua belah pihak.
"Kami mengharapkan kesepakatan tercapai dalam waktu dekat," ujar Tahir Andrabi, juru bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan.
Pihak mediator kini memprioritaskan pengumuman penghentian perang secara permanen sebelum membahas detail teknis lainnya. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, turut memberikan sinyal hijau terkait progres komunikasi diplomatik tersebut di Gedung Putih.
"Mereka ingin membuat kesepakatan... itu sangat mungkin terjadi. Ini akan selesai dengan cepat," ujar Donald Trump, Presiden AS.
Kendati Washington bersikap optimistis, internal pemerintahan di Teheran menunjukkan reaksi yang terbelah. Anggota parlemen Iran, Ebrahim Rezaei, menilai draf tersebut tidak merepresentasikan realitas politik yang sedang terjadi saat ini.
"daftar keinginan Amerika" cetus Ebrahim Rezaei, anggota parlemen Iran.
Komentar senada namun lebih tajam datang dari Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf. Ia menyindir laporan kedekatan kesepakatan tersebut melalui istilah media sosial untuk menggambarkan kegagalan klaim Amerika Serikat.
"Operation Trust Me Bro failed" ujar Mohammad Baqer Qalibaf, Ketua Parlemen Iran.
Ketegangan regional tetap membayangi draf kesepakatan ini setelah Israel dilaporkan menyerang komandan Hizbullah di Beirut. Selain itu, draf saat ini belum menyentuh persoalan utama terkait cadangan 400 kg uranium Iran dan dukungan terhadap kelompok milisi di kawasan Timur Tengah.