Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mengonfirmasi akan memfasilitasi putaran kedua pembicaraan antara pemerintah Lebanon dan Israel di Washington pada Kamis, 23 April 2026. Pertemuan ini merupakan dialog perdana pasca pemberlakuan gencatan senjata antara Israel dan kelompok Hizbullah pekan lalu, sebagaimana dilansir dari Kompas.
Pihak Washington menyatakan dukungan penuh terhadap kelanjutan dialog ini setelah melihat perkembangan positif pada pertemuan pertama yang digelar pertengahan April ini.
"Amerika Serikat menyambut baik keterlibatan produktif yang dimulai pada 14 April," kata juru bicara Departemen Luar Negeri kepada Al Jazeera.
Otoritas Amerika Serikat berkomitmen untuk menjaga kelancaran komunikasi antara kedua belah pihak guna mencapai kesepakatan yang stabil.
"Kami akan terus memfasilitasi diskusi langsung dan jujur antara kedua pemerintah," lanjut juru bicara tersebut.
Presiden Lebanon Joseph Aoun memberikan penegasan mengenai posisi Beirut dalam proses diplomasi ini pada Jumat, 17 April 2026. Ia menekankan bahwa langkah negosiasi diambil demi kedaulatan negara dan perlindungan warga sipil.
"Negosiasi ini bukanlah kelemahan. Ini bukan kemunduran. Ini bukan konsesi," kata Aoun dalam pidato yang disiarkan televisi.
Aoun menambahkan bahwa kebijakan untuk duduk di meja perundingan didasari oleh keyakinan terhadap hak-hak bangsa Lebanon di tengah situasi konflik.
"Ini adalah keputusan yang berasal dari kekuatan keyakinan akan hak-hak serta kepedulian terhadap rakyat Lebanon dan tanggung jawab untuk melindungi negara dengan segala cara yang mungkin," ujar Aoun.
Di sisi lain, kelompok Hizbullah menyatakan keberatan keras terhadap langkah pemerintah Lebanon yang bersedia berdialog dengan pihak Israel. Pemimpin Hizbullah Naim Qassem menilai negosiasi tersebut tidak memiliki landasan persetujuan dari seluruh elemen bangsa.
"Kami menolak negosiasi dengan entitas pendudukan Israel. Negosiasi ini sia-sia. Negosiasi ini membutuhkan konsensus Lebanon untuk mengubah arah," kata pemimpin Hizbullah Naim Qassem pekan lalu.
Qassem menegaskan bahwa pergeseran arah politik Lebanon dalam menghadapi Israel memerlukan kesepakatan internal yang hingga kini dianggap belum tercapai.
"Ia mengatakan tidak seorang pun berhak membawa Lebanon ke arah tersebut tanpa konsensus internal di antara komponen-komponennya, yang mana menurutnya belum terjadi," papar Qassem.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyuarakan optimisme terkait prospek perdamaian di kawasan tersebut saat mengumumkan gencatan senjata pada Kamis, 16 April 2026. Trump berencana mengundang para pemimpin dari kedua negara ke Gedung Putih.
"Kedua belah pihak ingin melihat perdamaian, dan saya percaya itu akan terjadi, dengan cepat!" kata Trump.
Meskipun upaya diplomatik terus berjalan, situasi di lapangan masih diwarnai ketegangan militer. Israel dilaporkan masih melakukan operasi di Lebanon selatan, sementara Hizbullah mengeklaim telah melakukan serangan balasan terhadap konvoi militer Israel di sektor timur perbatasan.