Daniel Abeyta, seorang pria berusia 43 tahun asal Redwood City, California, berhasil menurunkan berat badan sebanyak 73 kilogram dalam kurun waktu satu tahun dengan memanfaatkan aplikasi nutrisi berbasis kecerdasan buatan (AI) pada 15 April 2026, sebagaimana dilansir dari Lifestyle.
Pria yang sebelumnya memiliki bobot 143 kilogram ini kini mencapai berat 70 kilogram dan terus menggunakan teknologi tersebut guna menjaga stabilitas kondisi fisiknya. Abeyta mengungkapkan bahwa sebelum menggunakan bantuan teknologi, kendala utamanya adalah kebingungan dalam menentukan langkah awal untuk memulai program diet.
"Saya tidak tahu harus ke mana," kata Abeyta kepada Today.
Ia memanfaatkan aplikasi bernama Simple guna memperoleh berbagai saran terkait jenis makanan, rekomendasi menu harian, hingga ide resep masakan yang bisa diolah secara mandiri. Teknologi ini berfungsi layaknya pelatih pribadi yang memberikan jawaban atas pertanyaan nutrisi sesuai dengan preferensi pengguna.
"Saya akan membuka aplikasi dan bertanya, seperti ÔÇÿApa yang bisa saya makan? Apa yang kamu rekomendasikan?ÔÇÖ lalu aplikasi itu memberi saya resep dan ide," ujar Abeyta.
Selain panduan resep, aplikasi tersebut membantu Abeyta dalam mengatur jadwal puasa berselang atau intermittent fasting yang dimulai secara bertahap dari durasi 14 jam. Konsistensi dalam mengikuti jadwal makan yang diatur oleh sistem menjadi kunci perubahannya.
"Aplikasi itu memberi jadwal, seperti ÔÇÿKamu bisa makan sekarangÔÇÖ atau ÔÇÿKamu tidak seharusnya makan sekarangÔÇÖ," kata Abeyta.
Sebelum beralih ke pola makan sehat, Abeyta mengaku sangat bergantung pada makanan cepat saji yang praktis untuk dikonsumsi setiap saat. Namun, kini ia telah mengubah asupan hariannya menjadi protein rendah lemak, buah-buahan, sayuran, serta kacang-kacangan.
"Asalkan mudah diambil, saya akan memakannya," ujar Abeyta.
Meski mengandalkan AI, Abeyta tetap melakukan konsultasi dengan dokter karena memiliki riwayat medis berupa masalah tiroid dan batu empedu. Meskipun teknologi tersebut sangat membantu, ia mengakui adanya kendala teknis yang terkadang muncul pada sistem aplikasi.
"Terkadang, aplikasi itu bingung," kata Abeyta.
Di sisi lain, proses transformasi ini membuahkan hasil positif bagi kesehatannya, termasuk perbaikan pada kondisi pradiabetes dan meningkatnya mobilitas tubuh. Namun, ia menekankan bahwa perjalanan menuju hidup sehat tetap membutuhkan keteguhan hati yang kuat.
"Awalnya tidak mudah," kata Abeyta.
"Tetapi jika kamu bertahan, kamu akan berterima kasih pada diri sendiri," ujar Abeyta.
Menanggapi tren penggunaan AI dalam program diet, ahli gizi terdaftar Theresa Gentile menilai bahwa aplikasi semacam ini mempermudah masyarakat dalam membangun kebiasaan sehat. AI dianggap mampu meningkatkan kesadaran pengguna terhadap porsi makan dan tanggung jawab harian.
"Aplikasi ini mengurangi hambatan untuk beberapa perilaku sehat, seperti mengecek diri setiap hari, lebih sadar terhadap apa yang dimakan, dan bertanggung jawab pada ukuran porsi," kata Gentile.
Aksesibilitas yang mudah menjadi keunggulan utama aplikasi nutrisi bagi mereka yang belum merasa nyaman mencari bantuan profesional secara tatap muka. Namun, Gentile memperingatkan bahwa teknologi ini memiliki keterbatasan dalam melakukan penilaian klinis yang mendalam.
"Banyak aplikasi berpusat pada angka, seperti kalori dan berat badan, karena mereka tidak menangkap nuansa di antaranya," ujar Gentile.
Gentile menambahkan bahwa anjuran dari AI terkadang bersifat kaku dan tidak mempertimbangkan faktor eksternal seperti tingkat stres atau kebutuhan medis khusus. Pengguna diminta tetap peka terhadap sinyal tubuh dan tidak mengikuti saran aplikasi secara buta, terutama jika timbul gejala kelelahan atau pusing.
"Kamu tidak seharusnya berjalan dalam keadaan sangat lapar," ujar Gentile.
Ia juga menyarankan agar target penurunan berat badan dilakukan secara proporsional dan tidak terburu-buru demi keamanan kesehatan jangka panjang. AI idealnya ditempatkan sebagai pendukung, bukan pengatur utama dalam kehidupan pengguna.
"Aplikasi itu seharusnya membantu kamu lebih terhubung dengan tubuh, bukan dikendalikan oleh aturan," kata Gentile.