Api Gerbang Neraka Turkmenistan Meredup Picu Kekhawatiran Ilmuwan

Api Gerbang Neraka Turkmenistan Meredup Picu Kekhawatiran Ilmuwan
Foto: Ilustrasi Api Gerbang Neraka Turkmenistan Meredup Picu Kekhawatiran Ilmuwan.

Kobar api yang telah menyala selama puluhan tahun di lokasi populer yang dijuluki Gerbang Neraka di Turkmenistan dilaporkan mulai meredup. Fenomena pada kawah gas Darvaza di Gurun Karakum ini memicu perhatian serius dari kalangan ilmuwan global.

Seperti dikutip dari Detik iNET, penurunan intensitas api ini mencapai hampir tiga kali lipat dibandingkan periode sebelumnya. Informasi tersebut disampaikan oleh Irina Luryeva selaku Direktur Turkmengaz, perusahaan energi milik negara Turkmenistan.

Kawah gas Darvaza merupakan lubang raksasa dengan lebar 70,1 meter dan kedalaman mencapai 20,1 meter. Situs ini terbentuk akibat kegagalan operasional pengeboran insinyur Uni Soviet pada tahun 1971 yang memicu amblasnya tanah di sekitar kantong gas alam.

Data satelit dari perusahaan konsultasi asal Inggris, Capterio, mengonfirmasi terjadinya penurunan intensitas nyala api tersebut. Pemerintah Turkmenistan mengeklaim bahwa redupnya api disebabkan oleh aktivitas ekstraksi gas melalui dua sumur baru yang dibor pada 2024.

"Penurunan intensitas api mencapai hampir tiga kali lipat," kata Irina Luryeva.

Meskipun api mulai memudar, kawah ini tetap melepaskan gas metana dalam jumlah yang sangat masif ke atmosfer. Data dari Carbon Mapper menunjukkan bahwa antara tahun 2022 hingga 2025, kawah tersebut melepaskan rata-rata 1.300 kilogram metana setiap jamnya.

Bahkan pada Oktober 2025, emisi gas metana sempat melonjak drastis hingga menyentuh angka 1.960 kilogram per jam. Hal ini menjadi perhatian utama karena metana memiliki kemampuan mengurung panas 30 kali lebih kuat daripada karbon dioksida.

Ilmuwan mengkhawatirkan kondisi jika api tersebut benar-benar padam sepenuhnya secara alami. Saat api menyala, metana yang keluar akan terbakar dan berubah menjadi karbon dioksida yang dampaknya relatif lebih ringan bagi pemanasan global.

Namun, jika nyala api hilang sementara kebocoran gas terus berlanjut, metana murni akan terlepas langsung ke udara. Saat ini metana merupakan gas rumah kaca terbesar kedua yang berkontribusi sekitar 11 persen terhadap emisi global secara keseluruhan.

Hingga saat ini, belum ada indikasi kuat bahwa Gerbang Neraka akan segera padam total dalam waktu dekat. Para ahli berpendapat bahwa selama gas metana masih merembes dari perut bumi, keberadaan api justru membantu mengurangi dampak buruk gas tersebut terhadap iklim.

"}{ "title": "Api Gerbang Neraka Meredup Ilmuwan Khawatirkan Pelepasan Metana", "title_slug": "api-gerbang-neraka-meredup-pelepasan-metana", "description": "Intensitas api di kawah gas Darvaza Turkmenistan menurun drastis, namun para ilmuwan mengkhawatirkan risiko pelepasan gas metana ke atmosfer.", "keywords": "gerbang neraka, kawah darvaza, turkmenistan, emisi metana, kawah gas darvaza meredup", "category_id": "12", "tags": "Sains, Lingkungan, Fenomena Alam", "thumbnail": "kawah raksasa menyala di gurun karakum malam hari", "content": "

Nyala api yang telah membara selama puluhan tahun di kawah gas Darvaza, Turkmenistan, dilaporkan mulai meredup secara signifikan. Fenomena yang dijuluki Gerbang Neraka ini menarik perhatian ilmuwan karena dampak lingkungannya yang kompleks.

Dilansir dari Detik iNET, kawah raksasa di Gurun Karakum ini telah menyala sejak tahun 1970-an akibat kebocoran gas metana alami dari perut bumi. Penurunan intensitas api ini dikonfirmasi oleh otoritas energi Turkmenistan dalam sebuah konferensi tahun 2025.

"Penurunan intensitas api mencapai hampir tiga kali lipat," kata Irina Luryeva, direktur perusahaan energi milik negara, Turkmengaz.

Data satelit independen dari perusahaan konsultan Capterio asal Inggris turut memperkuat laporan tersebut. Pemerintah Turkmenistan mengeklaim penurunan nyala api terjadi karena adanya dua sumur ekstraksi gas alam yang dibor di dekat kawah pada tahun 2024.

Meskipun pemerintah menyebut pengeboran sumur sebagai penyebab utama, Capterio memberikan pandangan yang berbeda. Perusahaan tersebut meyakini bahwa intensitas api sudah mulai melemah bahkan sebelum sumur-sumur tersebut dibuat.

Asal-usul kawah ini sendiri berawal dari insiden pengeboran insinyur Uni Soviet pada tahun 1971. Saat itu, mereka secara tidak sengaja menembus kantong gas alam raksasa yang menyebabkan tanah ambles membentuk kawah berdiameter 70,1 meter dan sedalam 20,1 meter.

Untuk mencegah gas beracun menyebar ke atmosfer, pihak Soviet memutuskan untuk membakar gas tersebut dengan harapan akan segera habis. Namun, api tersebut justru bertahan selama lebih dari lima dekade hingga saat ini.

Risiko Lingkungan Jika Api Padam

Meredupnya api di Gerbang Neraka memicu kekhawatiran baru di kalangan peneliti lingkungan. Jika api benar-benar padam, gas metana murni akan terlepas langsung ke udara tanpa terbakar terlebih dahulu.

Berdasarkan data Carbon Mapper antara 2022 hingga 2025, kawah ini melepaskan rata-rata 1.300 kilogram metana per jam. Pada Oktober 2025, angka emisi tersebut bahkan sempat melonjak hingga mencapai 1.960 kilogram per jam.

Metana merupakan gas rumah kaca yang sangat kuat, dengan kemampuan mengurung panas di atmosfer sekitar 30 kali lebih besar dibandingkan karbon dioksida. Saat ini, pembakaran di kawah membantu mengubah metana menjadi karbon dioksida yang dampaknya relatif lebih ringan bagi iklim.

Gas metana sendiri menyumbang sekitar 11% dari total emisi global. Meskipun intensitas api saat ini melemah, belum ada tanda-tanda pasti bahwa kawah gas Darvaza akan sepenuhnya padam dalam waktu dekat.

Artikel terkait

Rekomendasi