Sektor properti mewah di Jakarta menunjukkan ketangguhan yang signifikan di tengah kondisi ekonomi global yang fluktuatif. Fenomena ini terlihat pada proyek hunian vertikal Savyavasa yang terletak di kawasan prestisius Dharmawangsa, Jakarta Selatan.
Proyek kolaborasi antara PT Jakarta Setiabudi Internasional Tbk (JSI Group) dan Swire Properties ini mencatatkan performa penjualan yang impresif. Dilansir dari Kompas, sebanyak 70 persen dari total 402 unit yang tersedia telah laku terjual sejak pertama kali diluncurkan pada tahun 2022.
Unit yang tersisa saat ini berada di Tower II dan III dengan luas bangunan mulai dari 133 meter persegi hingga 260 meter persegi. Adapun harga yang ditawarkan berkisar antara Rp 8,5 miliar hingga Rp 19,5 miliar, belum termasuk Pajak Pertambahan Nilai (PPN).
Kecepatan penyerapan pasar ini menjadi indikator kuat bahwa kelompok individu berpenghasilan tinggi atau high-net-worth individuals (HNWI) masih meminati properti di lokasi langka. Dharmawangsa sendiri memiliki nilai historis sebagai bagian dari rencana Garden City Kebayoran Baru tahun 1948.
Berbeda dengan kawasan pusat bisnis (CBD) yang padat, Dharmawangsa tetap mempertahankan karakteristik hunian dengan kepadatan rendah dan ruang hijau luas. Chief Operating Officer PT Jakarta Setiabudi International Tbk, Bram Van Hoof, memberikan penjelasannya terkait keunikan proyek ini.
"Kami mendedikasikan lebih dari 70 persen dari total lahan seluas 2,8 hektar sebagai ruang terbuka hijau. Di tengah kawasan dengan ketersediaan lahan yang sangat terbatas, Savyavasa menghadirkan aset nyata yang nilainya akan terus terjaga di berbagai siklus ekonomi," ujar Bram pada Selasa (21/4/2026).
Faktor Scarcity dan Minat Ekspatriat
Analisis pasar menunjukkan bahwa keterbatasan pasokan atau scarcity menjadi pendorong utama harga properti di Jakarta Selatan. Laporan Colliers International menyebutkan bahwa pasokan unit apartemen baru di lokasi premium seperti Dharmawangsa hampir tidak ada dalam beberapa tahun terakhir.
Kondisi ini secara otomatis meningkatkan nilai investasi bagi unit-unit yang sudah tersedia. Hingga kuartal pertama 2026, segmen properti mewah tercatat lebih tangguh dibandingkan segmen menengah, terutama dengan meningkatnya minat dari kalangan diplomat serta ekspatriat senior.
Faktor pendukung lainnya adalah penyederhanaan regulasi kepemilikan properti bagi warga negara asing. Hal ini memicu ketertarikan dari investor regional yang ingin melakukan diversifikasi aset di kawasan Asia Tenggara.
Head of Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto, memberikan pandangannya mengenai variabel penentu pasar properti. "Di Jakarta, kawasan yang memiliki aksesibilitas tinggi ke pusat bisnis namun tetap menawarkan privasi akan selalu memiliki permintaan yang stabil," kata Ferry.
Dominasi Pembeli End-User
Data operasional Savyavasa menunjukkan profil pembeli yang sangat sehat, di mana sekitar 90 persen merupakan pengguna akhir atau end-user. Angka ini berbeda jauh dengan tren satu dekade lalu yang didominasi oleh spekulan atau investor jangka pendek.
Kondisi ini diyakini akan memberikan stabilitas jangka panjang pada ekosistem hunian. Kehadiran pemilik yang benar-benar tinggal di lokasi tersebut akan menjaga kualitas pemeliharaan bangunan serta nilai sewa di masa mendatang secara alami.
Head of PT Swire Investment Indonesia, Ainsley Mann, menekankan bahwa keputusan pembelian unit mewah saat ini lebih didasari oleh pertimbangan emosional dan rencana jangka panjang.
"Sebuah proyek yang telah sepenuhnya siap dihuni di kawasan seperti Dharmawangsa memiliki posisi yang sangat kuat, baik dari sisi hunian maupun sebagai aset jangka panjang. Pembeli melihat ini sebagai warisan tengaran yang sulit direplikasi oleh pengembang lain," tutur Ainsley.