Fenomena antrean panjang masyarakat perkotaan demi membeli produk jam tangan hingga parfum yang sedang viral di sejumlah pusat perbelanjaan Jakarta dipicu oleh dorongan status sosial dan pengaruh kuat media sosial. Perilaku konsumtif di tengah tekanan ekonomi ini cenderung mendominasi kelompok menengah ke atas, seperti dilansir dari Money.
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Tauhid Ahmad menjelaskan bahwa tren di media sosial turut membentuk simbol status sosial yang kuat bagi kalangan tertentu.
"Ini fenomena kelas menengah ke atas. Karena media sosial, akhirnya muncul simbol status sosial. Ada beberapa kalangan yang merasa memakai jam tangan mahal atau barang terbaru menunjukkan status sosialnya lebih tinggi dibandingkan yang lain," ujar Tauhid Ahmad, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF).
Menurut Tauhid, kepemilikan terhadap barang-barang tertentu pada saat ini sudah bergeser menjadi identitas sosial serta representasi dari sebuah kesuksesan hidup seseorang, bukan lagi sekadar pemenuhan fungsi barang.
"Kalau sudah punya barang sosial seperti itu, berarti menggambarkan dia sudah masuk pada level kesuksesan atau keberhasilan dalam hidupnya," kata Tauhid Ahmad, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF).
Selain pencarian identitas, situasi psikologis berupa kekhawatiran tertinggal tren atau fear of missing out (FOMO) dinilai memegang peran krusial saat sebuah produk menjadi perbincangan hangat.
"Ada fenomena kalau ada barang baru itu ya fenomena FOMO. Apalagi kalau barang itu lagi viral dan susah didapat, akhirnya sering dibicarakan," ujar Tauhid Ahmad, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF).
Faktor kelangkaan kemudian memicu persepsi bahwa produk tersebut memiliki nilai emosional yang jauh lebih tinggi dan lebih berharga bagi konsumen yang berhasil mendapatkannya melalui perjuangan mengantre.
"Kalau ikut antrean dan sebagainya, merasa barang itu lebih berharga dibandingkan yang lain. Ada efek psikologis dan emosional dalam konsumsi barang-barang tersebut," kata Tauhid Ahmad, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF).
Kendati demikian, Tauhid menggarisbawahi bahwa situasi ini tidak merepresentasikan kondisi ekonomi seluruh kelas menengah di Indonesia karena hanya berpusat di kota-kota besar dengan daya beli yang masih kuat.
"Menurut saya ini tidak menggambarkan fenomena kelas menengah secara umum. Hanya terjadi di kota-kota besar dan tempat-tempat tertentu saja," ucap Tauhid Ahmad, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF).
Fenomena ini terlihat dari penuhnya gerai parfum lokal Mykonos di Pondok Indah Mall setelah ramai diulas oleh pembuat konten. Selain itu, peluncuran koleksi jam tangan Royal Pop Collection hasil kolaborasi Audemars Piguet dan Swatch pada Sabtu (16/5/2026) juga memicu antrean mengular sebelum mal Grand Indonesia dan Pacific Place dibuka.
Lonjakan massa di berbagai negara membuat manajemen produsen jam tangan merilis imbauan resmi terkait keselamatan serta ketersediaan produk demi meredam kepadatan di toko.
"Untuk memastikan keselamatan pelanggan dan staf kami di toko Swatch, kami mohon Anda tidak terburu-buru datang ke toko kami dalam jumlah besar untuk mendapatkan produk ini," tulis Swatch, Pihak Manajemen.
Pihak produsen memastikan bahwa pasokan koleksi tersebut akan tetap didistribusikan dalam beberapa bulan ke depan guna mengantisipasi pembatasan antrean di sejumlah negara.
"The Royal Pop Collection akan tetap tersedia selama beberapa bulan. Di beberapa negara, antrean lebih dari 50 orang tidak dapat diterima, dan penjualan mungkin perlu dihentikan," lanjut Swatch, Pihak Manajemen.