PT Aneka Tambang Tbk (Antam) memberangkatkan tim tanggap darurat untuk mewakili Indonesia dalam ajang International Mine Rescue Competition (IMRC) 2026 yang berlangsung di Zambia pada 25 April hingga 7 Mei 2026. Langkah ini diambil guna memperkuat standar keselamatan kerja sektor pertambangan di level global.
Dilansir dari Money, partisipasi perusahaan pelat merah ini bertujuan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia melalui kompetisi yang sering disebut sebagai Olimpiade penyelamatan tambang. Tim akan menghadapi simulasi realistis mulai dari pemadaman kebakaran hingga teknik penyelamatan tali.
Sekretaris Perusahaan Antam, Wisnu Danandi, menjelaskan bahwa keterlibatan ini merupakan komitmen nyata perusahaan dalam menerapkan standar keselamatan yang unggul. Hal ini juga menjadi bagian dari upaya peningkatan kapabilitas personil dalam menangani kondisi darurat.
"Keikutsertaan ANTAM dalam ajang ini merupakan wujud nyata komitmen perusahaan dalam mengimplementasikan standar keselamatan kerja yang unggul serta meningkatkan kapabilitas sumber daya manusia dalam penanganan kondisi darurat di industri pertambangan," ujar Wisnu, Corporate Secretary Antam.
Wisnu menekankan pentingnya pertukaran ilmu antarnegara dalam ajang tersebut. Kompetisi ini dipandang sebagai media bagi tim penyelamat untuk berbagi pengalaman praktis dengan delegasi dari negara-negara peserta lainnya.
"Ajang ini juga menjadi sarana pembelajaran dan pertukaran pengalaman dengan berbagai tim rescue dari negara lain," lanjut Wisnu, Corporate Secretary Antam.
Tim yang diberangkatkan tergabung dalam Garuda Mine Rescue Team (GMRT) di bawah naungan PERTAPINDO. Delegasi ini dipimpin oleh Mohammad Asril Sarimuddin dan diperkuat oleh personil dari berbagai unit bisnis, termasuk Yoga Prasetya, Fani Farizal, dan Laode Maliki.
Selain fokus pada aspek keselamatan, kinerja Antam di awal 2026 terus menunjukkan tren positif yang didorong oleh sektor emas. Spesialis Investasi dari PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Ahmad Faris MuÔÇÖtashim, menyebutkan bahwa nikel dan emas tetap menjadi penopang utama profitabilitas perusahaan.
"Secara profitabilitas perusahaan, pada presentasi perusahaan di Q3 2025 ANTM lebih disumbang oleh sektor nikel sebesar 53 persen, meskipun segmen emas tetap memberi kontribusi cukup tinggi sebesar 42 persen," ujar Ahmad Faris MuÔÇÖtashim, Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI).
Ahmad memaparkan data mengenai kontribusi pendapatan yang signifikan dari segmen emas. Meskipun dari sisi profit gabungan nikel lebih besar, emas mendominasi arus pendapatan perusahaan secara keseluruhan.
"Namun secara kontribusi pendapatan, segmen emas memberikan kontribusi sebesar 82 persen," lanjut Ahmad Faris MuÔÇÖtashim, Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI).
Data volume penjualan menunjukkan kenaikan sebesar 19 persen secara tahunan menjadi 34,1 ton pada sembilan bulan pertama 2025. Harga jual rata-rata juga tercatat melonjak dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
"Sepanjang 9M2025 ANTM mencatatkan volume penjualan sebesar 34,1 ton dengan ASP sebesar USD 3.262 per troy ons," papar Ahmad Faris MuÔÇÖtashim, Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI).
Pihak KISI memproyeksikan penguatan kinerja Antam akan berlanjut hingga kuartal pertama 2026. Estimasi kenaikan harga jual rata-rata (ASP) diprediksi akan terus memberikan dampak positif bagi keuangan perusahaan.
"Volume mencatatkan kenaikan sekitar 19 persen YoY dan ASP meningkat dengan selisih 800 dollar AS per troy ons lebih tinggi," tambah Ahmad Faris MuÔÇÖtashim, Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI).
Ahmad memprediksi tren kenaikan harga emas dunia masih memiliki ruang untuk berlanjut. KISI mengestimasikan penguatan harga akan terlihat pada laporan performa akhir tahun 2025 hingga awal tahun berikutnya.
"Untuk kinerja FY 2025, kami dari KISI memiliki estimasi akan ada lanjutan penguatan seiring tren kenaikan ASP yang kami proyeksikan sebesar 4.064 dollar per troy ons pada Q4 2025," ujar Ahmad Faris MuÔÇÖtashim, Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI).
Proyeksi optimis ini sejalan dengan stabilitas harga emas di pasar global yang saat ini berada di atas level 5.000 dollar AS per ons. Kondisi pasar tersebut dinilai menguntungkan struktur margin laba Antam dalam jangka panjang.
"Dan akan masih terus berlanjut hingga Q1 2026," lanjut Ahmad Faris MuÔÇÖtashim, Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI).
Analis Senior Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, memberikan pandangan tambahan mengenai keunggulan infrastruktur perusahaan. Kebijakan pemerintah terkait hilirisasi memberikan keuntungan strategis bagi Antam yang telah mengoperasikan smelter feronikel secara mandiri.
"Kebijakan pemerintah yang semakin ketat terhadap ekspor bahan mentah justru menguntungkan ANTM karena mereka sudah memiliki infrastruktur pengolahan smelter feronikel yang mapan," ucap Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas.