Andalan Artha Primanusa Bidik Pendapatan Rp 1,55 Triliun pada 2028

Andalan Artha Primanusa Bidik Pendapatan Rp 1,55 Triliun pada 2028
Foto: Ilustrasi Andalan Artha Primanusa Bidik Pendapatan Rp 1,55 Triliun pada 2028.

Sektor pertambangan mineral dan batu bara nasional tengah menghadapi tantangan berat akibat dinamika global. Masalah ini mencakup ketidakpastian pasar karena situasi geopolitik hingga lonjakan biaya operasional di lapangan.

Situasi tersebut menuntut para pelaku industri untuk bergerak lebih adaptif. Langkah ini diperlukan demi menjaga produktivitas tambang sekaligus memperkuat posisi dalam rantai pasok mineral global.

Menghadapi tantangan itu, perusahaan tambang PT Andalan Artha Primanusa (Andalan) memperkuat posisinya sebagai kontraktor jasa pertambangan. Dilansir dari Money, perseroan menerapkan strategi efisiensi dan operational excellence.

Salah satu langkah nyata yang diambil adalah investasi strategis pada peremajaan armada baru. Kebijakan ini diklaim mampu meningkatkan efisiensi konsumsi bahan bakar secara signifikan.

Perusahaan juga menerapkan pendekatan selektif dalam memilih kontrak baru. Hal ini bertujuan untuk menjaga kualitas portofolio bisnis dan memastikan keberlanjutan usaha secara sehat.

Keberhasilan strategi tersebut tercermin pada kinerja keuangan perseroan sepanjang 2025. Andalan mencatat margin Earning Before Interest, Taxes, Depreciation, and Autodidact (EBITDA) sebesar 39 persen dengan nilai mencapai Rp 145,4 miliar.

Pencapaian luar biasa ini diraih di tengah tantangan force majeure. Selain itu, kondisi cuaca ekstrem juga turut membayangi industri pertambangan sepanjang periode tersebut.

Andalan kini membidik pertumbuhan tahunan majemuk atau compound annual growth rate (CAGR) yang agresif hingga 2028. Target ini didukung oleh kepastian volume dari sejumlah kontrak yang tengah berjalan.

Pendapatan perusahaan diproyeksikan tumbuh dengan CAGR sebesar 28 persen. Nilainya diharapkan meningkat dari target Rp 949,6 miliar pada 2026 menjadi Rp 1,41 triliun pada 2027, dan mencapai Rp 1,55 triliun pada 2028.

Sementara itu, EBITDA diperkirakan tumbuh dengan CAGR 21 persen hingga mencapai Rp 514,2 miliar pada 2028. Adapun laba bersih ditargetkan meningkat dengan CAGR 31 persen menjadi Rp 223,9 miliar pada periode yang sama.

"Fokus kami ke depan adalah menjaga komitmen pertumbuhan yang solid dan terukur ini demi memberikan nilai jangka panjang yang optimal bagi seluruh pemangku kepentingan," ujar Direktur Utama PT Andalan Artha Primanusa Gahari Christine dalam siaran pers, Selasa (19/5/2026).

Andalan telah memiliki pengalaman operasional selama delapan tahun sebagai kontraktor batu bara. Perusahaan juga didukung jajaran manajemen dengan rekam jejak lebih dari 20 tahun di industri pertambangan.

Perseroan menempatkan operational excellence sebagai fondasi utama bisnis. Prinsip ini diterapkan untuk memastikan efisiensi, reliability, dan kualitas eksekusi yang konsisten di setiap lini operasi.

Model layanan end-to-end mining services kini diterapkan melalui sistem operasional terpadu. Sistem ini mencakup perencanaan, eksekusi presisi, hingga evaluasi berkala.

Sistem tersebut terintegrasi mulai dari tahapan awal eksplorasi. Integrasi berlanjut pada aktivitas inti produksi hingga proses reklamasi pasca-tambang.

Pendekatan berbasis keselamatan kerja, keandalan alat berat, dan sistem pemantauan operasional yang ketat menjadi kunci utama. Hal ini meminimalkan hambatan teknis serta memastikan target produksi tercapai secara aman.

Ketangguhan model operasional Andalan diklaim telah teruji di lapangan. Perusahaan memiliki pengalaman lintas wilayah di berbagai proyek multi-site dengan karakteristik geografis yang berbeda.

Diversifikasi ke Industri Nikel

Selain bisnis batu bara, Andalan juga melakukan diversifikasi strategis ke industri nikel. Langkah ini diambil setelah perseroan meraih Letter of Award (LoA) dari PT Position yang merupakan bagian dari Grup Harum Energy untuk proyek di Halmahera Timur, Maluku Utara.

Menurut Gahari, kondisi industri yang fluktuatif membuat pemilihan mitra kerja yang kapabel menjadi faktor penting. Hal ini sangat memengaruhi kebergantungan bisnis pertambangan.

Ia menilai kebutuhan terhadap kontraktor pertambangan yang memiliki sistem andal akan terus meningkat. Faktor pengalaman komprehensif serta akuntabilitas finansial juga menjadi perhatian seiring semakin ketatnya standar efisiensi global.

Perusahaan merasa optimistis dapat merealisasikan proyeksi pertumbuhan usaha secara konsisten dan akuntabel. Keyakinan ini didasarkan pada kepastian volume kontrak berjalan serta investasi armada secara strategis.

"Melalui pilar operational excellence yang kuat, investasi armada yang tepat, serta kedisiplinan dalam pemilihan kontrak, Andalan berkomitmen penuh untuk terus berdiri di garda depan sebagai mitra strategis yang mengawal stabilitas operasional dan mendukung keberlanjutan rantai pasok industri pertambangan di Indonesia," ungkap Gahari.

Artikel terkait

Rekomendasi