Pejabat tinggi Pentagon mengakui pada Kamis (14/5) bahwa Iran tetap menjadi ancaman serius bagi pelayaran di Selat Hormuz meski militer Amerika Serikat telah melakukan serangan besar-besaran. Dilansir dari Media Indonesia, situasi ini menjadi tantangan diplomatik karena Teheran menjadikan kendali jalur laut tersebut sebagai daya tawar negosiasi.
Laksamana Brad Cooper, yang memimpin operasi di kawasan Timur Tengah, menyatakan dalam kesaksian legislatif bahwa aktivitas militer Iran masih memicu kekhawatiran bagi kapal-kapal komersial. Padahal, secara teknis militer Amerika Serikat mendominasi kawasan vital tersebut melalui berbagai aset pertahanannya.
Laksamana Brad Cooper juga membantah laporan mengenai ketahanan armada peluncur rudal Iran setelah serangan dilakukan. Penegasan ini disampaikan dalam kemunculan publik pertamanya guna memberikan gambaran mengenai dampak operasi militer bertajuk Epic Fury tersebut.
"Jika militer AS tidak secara fisik membuka selat itu sekarang, itu karena Iran memiliki kemampuan nyata untuk mengirim serangan drone yang mengirim harga minyak dunia lebih tinggi lagi," ujar Senator Elissa Slotkin, menekankan pengaruh Iran terhadap stabilitas ekonomi global.
Data Pentagon menunjukkan biaya konflik yang melibatkan Iran telah membengkak secara signifikan. Anggaran operasional yang tercatat hingga bulan ini mencapai US$29 miliar atau setara Rp464 triliun, meningkat dari angka US$25 miliar pada periode bulan sebelumnya.
Kondisi keuangan ini memicu peringatan dari internal Angkatan Laut Amerika Serikat terkait keberlanjutan program pelatihan personel. Kekurangan pendanaan tambahan dikhawatirkan dapat berdampak pada kesiapan tempur militer pada musim panas mendatang.
Laksamana Daryl Caudle, Kepala Operasi Angkatan Laut, memperingatkan bahwa tanpa pendanaan tambahan, militer mungkin harus memangkas pelatihan dan rekrutmen pada musim panas ini. Anggaran yang ada saat ini tidak memperhitungkan biaya perang Iran yang dimulai pada Februari lalu.
Presiden Donald Trump sendiri sebelumnya telah mengirimkan surat kepada Kongres pada 1 Mei yang menyatakan berakhirnya perang menyusul kesepakatan gencatan senjata. Namun, hingga saat ini penarikan pasukan dari kawasan Timur Tengah belum dilakukan sesuai jadwal yang pasti.