PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (TUGU) dinilai mampu mempertahankan profitabilitas secara berkelanjutan hingga periode akhir 2025.
Dikutip dari Investortrust, emiten anak usaha Pertamina ini juga masuk dalam jajaran saham terbaik untuk kategori kapitalisasi pasar sedang atau mid cap.
Analis Ajaib Sekuritas Rizal Rafly menjelaskan bahwa manajemen Tugu Insurance memberikan sinyal terjadinya akselerasi kinerja pada kuartal III-2025.
"TUGU tercatat mampu mempertahankan profitabilitas secara berkelanjutan, dan hingga kuartal III 2025 kinerja terlihat masih sejalan dengan tren beberapa tahun tahun sebelumnya," ujarnya dalam siaran pers, Jumat (6/2/2026).
Berdasarkan data keuangan, pendapatan premi bruto perusahaan tumbuh 5,6% secara year on year menjadi Rp7,25 triliun pada periode Januari-September 2025, dari sebelumnya Rp6,86 triliun.
Penyumbang terbesar raihan premi bruto tersebut berasal dari lini bisnis properti, energy offshore, serta marine hull.
"Claim paid ratio TUGU tercatat menurun 120 basis poin, dari sebelumnya 27,3% menjadi 26,1% pada September 2025. Ini memberikan pesan klaim yang terjadi masih terjaga selama 2025," ujarnya.
Hingga kuartal III-2025, Tugu Insurance mengantongi laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp594,82 milar.
Jumlah laba bersih tersebut sudah setara dengan 85% dari total pencapaian laba bersih sepanjang tahun 2024 yang mencapai Rp700 miliar.
Pertumbuhan laba didorong oleh hasil investasi yang melonjak 21% secara tahunan menjadi Rp509,05 miliar.
Rizal Rafly menambahkan, stabilitas kinerja emiten ditopang oleh fokus bisnis pada segmen asuransi korporasi dan risiko berskala besar, khususnya sektor energi dan transportasi.
Tugu Insurance menjadi pemimpin pasar pada sektor ini, di saat perusahaan asuransi umum lainnya lebih banyak menggarap segmen ritel seperti otomotif.
ÔÇ£Model bisnis seperti ini memang tidak selalu menghasilkan pertumbuhan agresif, tetapi cenderung memberikan kestabilan pendapatan laba jika manajemen risiko dan underwriting dijalankan secara disiplin,ÔÇØ katanya.
Dari sisi struktur permodalan, posisi keuangan perusahaan berada dalam kondisi kuat dengan total ekuitas mencapai Rp10,93 triliun.
Rasio kecukupan modal atau Risk Based Capital (RBC) TUGU tercatat sebesar 360,9% dan rasio kecukupan investasi (RKI) menyentuh angka 272,6%.
"Kondisi tersebut memberikan ruang yang memadai bagi perusahaan untuk memenuhi kewajiban kepada pemegang polis sekaligus menjaga fleksibilitas bisnis ke depan," ujarnya.
Valuasi Saham Masih Murah
Rizal Rafly juga menyoroti indikator valuasi saham TUGU yang saat ini diperdagangkan dengan rasio price to book value (PBV) di bawah 0,5x.
ÔÇ£With kinerja yang relatif stabil dan posisi aset likuid yang cukup besar, valuasi saham TUGU saat ini tergolong undervalue sehingga potensi kenaikan masih terbuka," ujarnya.
Perusahaan juga tercatat konsisten membagikan dividen dengan rasio pembayaran atau dividend payout ratio yang stabil pada level 40%.
"Dividen TUGU memberikan yield yang menarik, dan pada saat yang sama laba ditahan juga memberikan kenaikan nilai buku TUGU secara konsisten tiap tahun," ujarnya.
Peluang pertumbuhan ke depan dinilai masih terbuka lebar, terutama di tengah penyesuaian regulasi baru terkait penguatan permodalan industri asuransi.
ÔÇ£Perusahaan dengan permodalan yang lebih kuat berpotensi memiliki fleksibilitas lebih besar, baik untuk memperluas bisnis maupun menangkap peluang konsolidasi,ÔÇØ ujarnya.