Analis MTI Soroti Masalah Perkeretaapian Pasca Kecelakaan di Bekasi

Analis MTI Soroti Masalah Perkeretaapian Pasca Kecelakaan di Bekasi
Foto: Ilustrasi Analis MTI Soroti Masalah Perkeretaapian Pasca Kecelakaan di Bekasi.

Sistem perkeretaapian nasional dinilai memerlukan sejumlah pembenahan mendalam menyusul insiden kecelakaan kereta api yang terjadi di wilayah Bekasi pada Senin (27/4/2026) malam. Hal tersebut disampaikan oleh analis transportasi perkeretaapian dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Muhammad Fahmi Arsyad.

Fahmi menegaskan pentingnya langkah perbaikan meskipun saat ini proses penyelidikan masih berlangsung, sebagaimana dilansir dari Kompas. Ia meminta seluruh pihak untuk bersikap kooperatif dalam menunggu data resmi terkait penyebab pasti peristiwa yang melibatkan Kereta Api Argo Bromo Anggrek tersebut.

"Kalau kita lihat, memang kita harus menunggu untuk investigasi dari KNKT. Tapi, kita juga bisa melihat bahwa memang di lain sisi, ini ada beberapa permasalahan yang memang harus diperbaiki," ujar Muhammad Fahmi Arsyad, Analis transportasi perkeretaapian MTI.

Pernyataan ini merujuk pada gangguan operasional yang diawali oleh dugaan adanya kendaraan jenis taksi yang mengalami mogok di atas perlintasan rel. Situasi tersebut kemudian memicu tabrakan beruntun setelah kereta api menabrak rangkaian lain yang tengah berhenti di lokasi kejadian.

"Jadi, berkait kejadian taksi matic ini, mogok dan menabrak atau menyebabkan kecelakaan itu sudah terjadi beberapa kali," tutur Muhammad Fahmi Arsyad, Analis transportasi perkeretaapian MTI.

Menurut analisisnya, terdapat pola berulang dalam insiden di perlintasan sebidang yang berkaitan dengan perubahan tren penggunaan moda transportasi jalan raya. Fahmi mengaitkan hal ini dengan peralihan teknologi kendaraan yang digunakan oleh para pengemudi saat ini.

"Salah satu kasusnya kan memang terbaru yang memang semalam. Jadi, memang kalau kita lihat atau runut lebih jauh, ada perbedaan atau perubahan kebiasaan." ujar Muhammad Fahmi Arsyad, Analis transportasi perkeretaapian MTI.

Ia menyoroti transisi dari kendaraan konvensional manual menuju kendaraan otomatis dan bertenaga listrik sebagai faktor yang perlu diperhatikan secara teknis di lapangan. Karakteristik kendaraan listrik yang berbeda dianggap memiliki pengaruh terhadap insiden di perlintasan kereta.

"Jadi, kalau yang dulu, teman-teman driver taksi ini kan pakainya manual dan mobil bensin. Kemudian, mereka beralih ke metik dan pakai listrik, otomatis torsinya juga berbeda. Nah, ini juga memang salah satu yang harus dibenahi dulu," ujar Muhammad Fahmi Arsyad, Analis transportasi perkeretaapian MTI.

Hingga saat ini, Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) masih melakukan investigasi menyeluruh untuk mengungkap fakta teknis di balik tabrakan kereta di Bekasi tersebut.

Artikel terkait

Rekomendasi