PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) melalui anak usahanya, PT Bukit Bali Permai (BBP), resmi melakukan transaksi afiliasi berupa pembelian lahan senilai Rp65,56 miliar. Aksi korporasi ini dinilai dapat mendorong penguatan kinerja perusahaan, seperti dikutip dari Stocksetup.
Langkah akuisisi tersebut mencakup tiga bidang tanah yang berstatus Sertipikat Hak Guna Bangunan (SHGB) dengan luas keseluruhan mencapai 8.395 meter persegi. Properti ini terletak di kawasan premium Pecatu, Badung, Bali.
Kesepakatan yang ditandatangani pada 23 April 2026 ini melibatkan PT Erlangga Prakarsa Mulia Sentosa (EPMS). Transaksi tersebut resmi dikategorikan sebagai transaksi afiliasi yang merujuk pada regulasi POJK No.42/2020.
Corporate Secretary BUVA Rian Fachmi menjelaskan bahwa pembelian aset ini memberikan ruang gerak yang lebih fleksibel bagi perseroan dalam memperluas sektor bisnis hospitality. Langkah ini juga diambil untuk menekan risiko jangka panjang yang berkaitan dengan keterbatasan masa sewa.
"Lahan milik EPMS berada berdampingan dengan Alila Villas Uluwatu, salah satu aset unggulan BUVA," ujar Rian dalam keterbukaan informasi.
Langkah taktis ini memperkokoh model bisnis perseroan agar lebih berbasis pada kepemilikan aset (asset-backed). Melalui kepemilikan penuh atas lahan premium di Uluwatu, perusahaan mempunyai peluang besar untuk melakukan ekspansi penginapan serta pengembangan proyek hospitality yang terintegrasi.
Kebijakan tersebut juga berpotensi menopang pertumbuhan recurring income perseroan di tengah momentum pemulihan sektor pariwisata Bali. Selain itu, transaksi dengan pihak terafiliasi dianggap mampu mempercepat proses eksekusi dan memberikan efisiensi yang lebih tinggi.
Analisis Prospek Kinerja dan Valuasi Saham
Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas berpendapat bahwa pengambilalihan lahan tersebut memperkuat fondasi fundamental perseroan untuk jangka panjang. Strategi ini diproyeksikan menaikkan nilai intrinsik perusahaan serta menjaga stabilitas omzet pariwisata.
"Hal ini mendorong pergeseran ke model bisnis yang lebih asset-backed, yang secara bertahap dapat meningkatkan nilai intrinsik dan stabilitas pendapatan," ujar Sukarno.
Ia menilai prospek masa depan emiten berkode saham BUVA ini akan semakin cerah apabila aset baru tersebut mampu mendongkrak yield operasional lewat optimalisasi tarif kamar dan tingkat hunian. Sentimen ini dinilai lebih prospektif bagi pemodal jangka menengah hingga panjang.
Dari sisi pergerakan teknikal, Sukarno menyarankan strategi akumulasi bertahap atau buy on weakness untuk saham BUVA. Investor perlu mengantisipasi risiko penurunan lebih lanjut jika harga menembus batas support di angka Rp890.
Kiwoom Sekuritas memberikan rekomendasi trading buy untuk jangka menengah dengan target harga di level Rp1.230 per saham. Pada perdagangan Selasa 28 April 2026, harga saham BUVA bertengkar di posisi 1.085, mencatatkan pertumbuhan sebesar 90 poin atau naik 9,05% dalam kurun waktu sebulan terakhir.