Kolesterol tinggi kini tidak lagi identik dengan orang usia lanjut. Anak muda bahkan sejak usia 20-an mulai rentan mengalami kondisi medis ini akibat akumulasi faktor gaya hidup dan genetika.
Zat lemak ini sebenarnya diperlukan tubuh untuk memproduksi hormon, membentuk sel, serta membantu sistem pencernaan. Masalah kesehatan muncul saat kadar low-density lipoprotein atau LDL jauh lebih tinggi daripada high-density lipoprotein atau HDL.
Penyumbatan pembuluh darah terjadi ketika LDL menumpuk pada dinding arteri. Kondisi tersebut dapat memicu berbagai gangguan kesehatan serius jika tidak diantisipasi secara dini.
Dikutip dari Popbela, peningkatan kadar kolesterol jahat pada kalangan muda dipicu oleh sejumlah kebiasaan harian serta faktor medis tertentu.
Konsumsi makanan cepat saji, gorengan, hidangan tinggi lemak jenuh, serta minuman manis secara berlebih menjadi penyebab utama. Kurangnya aktivitas fisik akibat terlalu lama duduk di depan komputer juga membuat tubuh sulit membakar lemak.
Obesitas dan faktor keturunan dari orang tua dengan riwayat kolesterol tinggi turut memperbesar risiko ini. Selain itu, kebiasaan merokok dapat menurunkan kadar HDL, sementara konsumsi alkohol berlebih meningkatkan trigliserida.
Ciri-Ciri Kolesterol Tinggi yang Perlu Diwaspadai
Kondisi ini sering kali tidak menunjukkan gejala yang jelas sehingga mendapat julukan sebagai silent killer. Meski demikian, ada beberapa tanda peringatan dini yang muncul pada tubuh.
Penyumbatan aliran darah ke otot menimbulkan rasa pegal, kaku, dan nyeri yang sering terasa setelah beraktivitas ringan. Berkurangnya suplai oksigen ke seluruh tubuh juga membuat anak muda mudah merasa lemas dan cepat lelah.
Gejala lain yang dapat diamati adalah munculnya xanthelasma atau bintik kuning akibat penumpukan lemak di kelopak mata. Hambatan sirkulasi darah ke area tangan dan kaki juga sering memicu sensasi kesemutan atau mati rasa.
Jantung harus bekerja lebih keras memompa darah akibat pembuluh yang menyempit, sehingga memicu tekanan darah tinggi. Pada beberapa kasus, plak kolesterol juga menimbulkan nyeri dada atau sesak napas setelah beraktivitas fisik.
Risiko Komplikasi Medis dan Langkah Pencegahan
Mengabaikan tanda-tanda penumpukan lemak dalam darah dapat berdampak fatal pada fungsi organ tubuh jangka panjang. Plak kolesterol yang menempel pada dinding pembuluh darah memicu pengerasan arteri atau aterosklerosis.
Kondisi ini dapat berkembang menjadi penyakit jantung koroner hingga serangan jantung jika pembuluh darah tersumbat total. Aliran darah ke otak yang terhambat berisiko menyebabkan stroke iskemik, serta mengganggu fungsi organ lain seperti ginjal.
Kadar kolesterol dapat dikendalikan melalui perubahan gaya hidup dengan membatasi makanan tinggi lemak jenuh dan memperbanyak konsumsi sayur, buah, serta kacang-kacangan. Olahraga rutin seperti jogging, berenang, atau bersepeda selama minimal 30 menit sehari efektif menurunkan LDL.
Menghindari rokok, membatasi alkohol, serta menjaga berat badan ideal sangat disarankan untuk mengontrol kadar lemak darah. Pemeriksaan medis atau cek kesehatan rutin untuk mengukur kadar kolesterol sebaiknya mulai dilakukan sejak usia 20 tahun.