Mantan Pembalap Ungkap Alasan Yogyakarta Sukses Cetak Rider Internasional

Mantan Pembalap Ungkap Alasan Yogyakarta Sukses Cetak Rider Internasional
Foto: Ilustrasi Mantan Pembalap Ungkap Alasan Yogyakarta Sukses Cetak Rider Internasional.

Yogyakarta kembali membuktikan posisinya sebagai daerah pencetak pembalap motor berbakat di Indonesia. Sejumlah pembalap muda dari DIY kini bersaing di ajang internasional, termasuk Veda Ega Pratama dari Gunungkidul, Kiandra Ramadhipa dari Sleman, dan Aldi Satya Mahendra.

Mantan pembalap internasional asal Yogyakarta, Doni Tata Pradita, menjelaskan bahwa keberhasilan ini ditopang oleh kebersamaan antarpembalap serta keberadaan sekolah balap. Pembinaan yang terstruktur dan tradisi latihan bersama menjadi kunci utama perkembangan mereka.

"karena kalau pembalap asli Jogja kompak, kalau mulai latihan sehari-harinya di Jogja. Selalu bersama, tidak ada kompetitor atau gap antara rival," kata Doni Tata seperti dikutip dari Otorider pada Selasa (26/5/2026).

Doni Tata menambahkan bahwa para atlet rutin berkumpul untuk menjalani latihan fisik maupun kemampuan berkendara secara kolektif. Lingkungan latihan mereka mencakup beberapa lokasi spesifik.

"Jadi latihan di Stadion Mandala Krida selalu bareng semua. Dari latihan fisik, program latihan sehari-hari selalu jadi satu, selalu berjumpa dan berteman dengan baik," kata Doni Tata.

Aktivitas bersama ini tetap terjaga meskipun mereka berpindah lintasan balap. Menurut Doni Tata, kebersamaan tersebut terlihat jelas saat para pembalap mengasah kemampuan di berbagai sirkuit.

"Contoh latihan di Sirkuit Pasar Sapi, Mandala Krida, sampai di sirkuit Boyolali, selalu latihan bersama," kata Doni Tata.

Selain faktor kebersamaan, Yogyakarta juga didukung oleh kehadiran beberapa sekolah balap yang aktif mendidik talenta muda. Hubungan antarlembaga pendidikan balap ini diklaim tetap harmonis tanpa persaingan tidak sehat.

"Di Jogja ada beberapa sekolah balap, Sudarmono, D45, Octvz, tempat saya sendiri, dan kita berteman baik, berlatih bersama," kata Doni Tata.

Kondisi tersebut menciptakan ekosistem latihan yang kondusif. Berbagai sekolah balap di Yogyakarta saling mendukung untuk melahirkan pembalap yang siap bersaing.

Faktor lain yang mendorong dominasi pembalap Yogyakarta adalah kuatnya regenerasi dalam keluarga balap. Lingkungan keluarga sering menjadi tempat pertama bagi anak-anak untuk mengenal dunia balap motor sejak usia dini.

Melalui pola pembinaan berbasis keluarga, pembalap muda dapat beradaptasi lebih cepat terhadap atmosfer kompetisi, disiplin latihan, hingga aspek teknis kendaraan. Fenomena ini terlihat pada pasangan mantan pembalap nasional era 1995ÔÇô2000, Hestu Prahendra (Dicky Hestu) dan Desy Prasanti.

Pasangan tersebut berhasil membimbing dua putra mereka, Galang Hendra Pratama dan Aldi Satya Mahendra, hingga mencapai level balap internasional. Galang Hendra mengawali karier di kancah dunia, yang kemudian diikuti oleh adiknya, Aldi Satya Mahendra.

Pola serupa juga terjadi pada Veda Ega Pratama, pembalap muda kelahiran 23 September 2008. Perkembangan karier Veda tidak lepas dari bimbingan sang ayah, Sudarmono, yang merupakan juara nasional Indoprix 2012.

Bimbingan intensif dari Sudarmono membentuk fondasi teknik balap dan kemampuan adaptasi yang kuat pada diri Veda. Kemampuan ini mempermudah jalannya untuk masuk ke program pembinaan Astra Honda Racing School (AHRS) hingga menembus kompetisi Asia.

Sistem Seleksi Berdasarkan Kemampuan

Meskipun banyak talenta lahir dari Yogyakarta, PT Astra Honda Motor (AHM) menegaskan bahwa proses seleksi pembalap tetap mengutamakan aspek performa individu, bukan asal daerah.

Senior Manager Motorsport Department PT Astra Honda Motor (AHM), Anggono Iriawan, menyatakan bahwa pemilihan pembalap didasarkan pada kompetensi dalam sistem perjenjangan perusahaan yang dimulai dari AHRS.

"Sebelumnya kan ada Gerry Salim dan Mario Aji dari Jawa Timur, lalu ada Andi Gilang dari Sulawesi. Kami memilih berdasarkan kemampuan pembalap di perjenjangan yang kami miliki. Dimulai dari Astra Honda Racing School (AHRS)," kata Anggono Iriawan.

Pernyataan ini menegaskan bahwa pencapaian para pembalap asal Yogyakarta merupakan buah dari kapasitas teknis dan konsistensi mereka dalam melewati proses pembinaan resmi.

Artikel terkait

Rekomendasi