Asosiasi Kedelai Indonesia (Akindo) berkomitmen menjaga pasokan dan menahan kenaikan harga jual kedelai impor di dalam negeri pada Rabu (20/5/2026). Langkah ini diambil menyusul lonjakan tekanan harga akibat nilai tukar rupiah yang melemah hingga menyentuh titik terendah sepanjang sejarah di level Rp17.681 per dolar AS, sebagaimana dilansir dari Industri.
Kondisi kurs tersebut berdampak langsung pada komoditas pangan yang didatangkan dari luar negeri. Meski beban biaya mendatangkan komoditas meningkat tajam, para pelaku usaha sepakat untuk mengikuti instruksi dari Pemerintah Republik Indonesia guna mempertahankan tarif penjualan saat ini.
Ketua Asosiasi Kedelai Indonesia (Akindo) Hidayatullah Suralaga menjelaskan situasi terkini yang dihadapi oleh sektor bisnis pemenuhan pangan tersebut.
"Pelemahan rupiah akhir-akhir ini memang telah menambah tekanan pada harga jual kedelai impor di dalam negeri," ujar Hidayatullah Suralaga.
Pihaknya memastikan bahwa koordinasi antar-importir terus dilakukan demi meminimalkan dampak gejolak mata uang asing terhadap konsumen lokal. Saat ini harga komoditas tersebut dipastikan masih berada dalam batas normal di pasar domestik.
"Sejumlah importir telah berkomitmen untuk menjaga kestabilan pasokan dan harga jual kedelai di dalam negeri. Pada saat ini harga jual kedelai impor di tingkat importir relatif stabil pada kisaran Rp. 10.200 - 10.300/kg," kata Hidayatullah Suralaga.
Hidayatullah Suralaga juga menambahkan bahwa penyesuaian taktik operasional diserahkan sepenuhnya kepada masing-masing perusahaan anggota asosiasi.
"Hal ini sangat tergantung pada masing-masing-masing importir," ucap Hidayatullah Suralaga.
Sebagai langkah antisipasi ke depan, pergerakan nilai komoditas global maupun lokal akan terus dipantau secara ketat. Pihak asosiasi bersiap menyodorkan laporan resmi jika angka di pasar sudah melampaui ketentuan batas atas.
"Kami akan melapor kepada Pemerintah (Bapanas) apabila harga di dalam negeri sudah mendekati atau melewati HAP yang ditetapkan Pemerintah," tandas Hidayatullah Suralaga.