Ahli Psikologi Ungkap Ciri Permintaan Maaf Palsu dalam Hubungan

Ahli Psikologi Ungkap Ciri Permintaan Maaf Palsu dalam Hubungan
Foto: Ilustrasi Ahli Psikologi Ungkap Ciri Permintaan Maaf Palsu dalam Hubungan.

Fenomena permintaan maaf palsu atau fake apology kini menjadi sorotan ahli karena dianggap tidak mengandung tanggung jawab emosional meskipun terdengar sopan secara lisan. Profesor psikologi Karina Schumann mengidentifikasi tindakan ini sebagai bentuk simpati tanpa pengakuan kesalahan pada Kamis (14/5/2026), dilansir dari Lifestyle.

Schumann menjelaskan bahwa dalam kondisi ini, seseorang cenderung menghindari pengakuan langsung atas perbuatan salah yang telah dilakukan. Hal tersebut justru berpotensi mengalihkan kesalahan serta meremehkan perasaan orang yang disakiti.

"Anda tidak secara langsung mengakui bahwa Anda telah melakukan kesalahan. Sebaliknya, Anda hanya menyampaikan rasa menyesal dan menunjukkan simpati atas apa yang dialami orang tersebut, tetapi tanpa benar-benar mengambil tanggung jawab atas kejadian itu," ujar Karina Schumann, Ph.D., Profesor Psikologi.

Terdapat sejumlah ciri yang menandai ketidaktulusan tersebut, mulai dari penggunaan kata bersyarat hingga dalih atas niat baik. Pelaku sering kali menggunakan kata "kalau" atau "tapi" untuk membatalkan esensi permintaan maaf atau justru menyalahkan sensitivitas perasaan lawan bicaranya.

Psikolog Guy Winch menambahkan bahwa pengakuan kesalahan secara jujur memiliki dampak positif bagi kesehatan mental pelaku. Menurutnya, keberhasilan memperbaiki hubungan yang retak memberikan perasaan berdaya dan kendali atas hidup.

"Ketika seseorang berhasil mengakui kesalahan dan memperbaiki hubungan yang retak, ia akan merasa lebih lega, lebih efektif, dan lebih berdaya," ujar Guy Winch, Psikolog.

Ciri lain dari maaf yang tidak tulus mencakup pengalihan kesalahan kepada situasi, tidak menyebutkan kesalahan secara spesifik, hingga memberikan alasan panjang lebar sebagai pembenaran. Terkadang, seseorang hanya meminta maaf karena adanya tekanan dari pihak ketiga.

"Si anu memintaku untuk minta maaf padamu," kata pelaku yang biasanya menunjukkan bahwa permintaan maaf tidak datang dari kesadaran pribadi.

Ketidaktulusan ini juga terlihat ketika seseorang lebih fokus pada niat daripada dampak nyata perbuatannya. Indikator paling jelas dari fake apology adalah tidak adanya perubahan perilaku setelah permintaan maaf disampaikan berulang kali.

Artikel terkait

Rekomendasi