Menentukan jenis makanan sehat menjadi langkah awal yang baik untuk menjaga kondisi tubuh. Namun, muncul sebuah pertanyaan mengenai dampak waktu makan terhadap kesehatan tubuh keseluruhan.
Para ahli nutrisi menyebutkan bahwa jawaban dari persoalan waktu makan ini tidak sesederhana yang dibayangkan banyak orang.
"Saya menerima pertanyaan ini selama saya berpraktik sebagai ahli diet terdaftar dan jawabannya sangat bernuansa," ujar Marisa Moore, MBA, RDN, LD, seorang ahli diet nutrisi dan penulis buku The Plant Love Kitchen, dikutip dari Media Indonesia.
Jadwal makan setiap orang dapat berbeda-beda karena dipengaruhi oleh rutinitas aktivitas harian masing-masing individu. Meskipun demikian, para pakar gizi menyarankan beberapa prinsip dasar agar metabolisme tubuh tetap berjalan optimal.
Langkah pertama yang disarankan adalah memprioritaskan pemenuhan kebutuhan kalori pada awal hari, seperti di pagi atau siang hari. Kebiasaan ini dinilai memberikan manfaat yang lebih besar bagi tubuh berdasarkan bukti ilmiah.
Selanjutnya, pengaturan jarak waktu makan malam dengan jam tidur juga sangat krusial. Makan malam sebaiknya diselesaikan setidaknya dua hingga tiga jam sebelum berbaring agar tidak mengganggu kinerja sistem pencernaan.
Pola konsumsi dalam porsi besar pada larut malam juga harus dihindari demi menjaga kesehatan lambung.
"Makan dalam porsi besar terlalu dekat dengan waktu tidur dapat mengganggu pencernaan dan kualitas tidur," kata Moore.
Peringatan ini menjadi poin penting bagi orang-orang yang sedang menderita atau berupaya mencegah penyakit refluks asam lambung (GERD).
Pola diet puasa atau intermittent fasting saat ini memang tengah populer di tengah masyarakat. Kendati demikian, tingkat efektivitas dan keamanan metode pembatasan waktu makan ini masih memicu perdebatan di kalangan medis.
Catatan dari Johns Hopkins Medicine menunjukkan variasi pola ini sangat beragam, mulai dari jendela makan selama delapan jam hingga metode lain yang lebih ekstrem.
Sebuah studi terbaru yang melibatkan 20.000 orang bahkan memberikan peringatan serius mengenai risiko kesehatan dari pola makan tersebut. Hasil penelitian menemukan adanya risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular yang 91% lebih tinggi pada pelaku pola makan dengan waktu terbatas.
Metode puasa intensif ini sangat dilarang dilakukan tanpa pengawasan medis oleh kelompok rentan. Kelompok tersebut meliputi anak di bawah usia 18 tahun, ibu hamil, penderita diabetes tipe 1, serta individu dengan riwayat gangguan makan.
"Bagi sebagian orang, intermittent fasting membantu mereka tetap dalam defisit kalori karena kesempatan makan yang lebih sedikit. Namun, penelitian belum membuktikan bahwa metode ini lebih efektif daripada perubahan gaya hidup dan diet tradisional," jelas ahli diet Jamie Nadeau.
Kunci Mengatur Pola Makan Sehat
Para pakar menegaskan tidak ada satu jadwal makan tunggal yang bisa diterapkan atau cocok untuk semua orang. Kesehatan tubuh yang optimal justru lebih bergantung pada pemenuhan keseimbangan nutrisi secara konsisten dibandingkan pembatasan waktu yang ketat.
Masyarakat disarankan fokus pada konsumsi makanan seimbang yang kaya akan sayuran, buah-buahan, biji-bijian utuh, protein tanpa lemak, serta lemak sehat. Metode mindful eating dengan mendengarkan sinyal lapar dan kenyang dari tubuh sendiri jauh lebih direkomendasikan.
Pola diet yang terlalu restriktif atau mengekang sebaiknya dihindari karena berpotensi memicu perilaku makan yang tidak sehat di masa depan. Langkah terbaik adalah makan saat lapar dengan memastikan asupan kaya nutrisi demi kesehatan jangka panjang.