Adab dan Strategi Aman Menyentuh Hajar Aswad di Masjidil Haram

Adab dan Strategi Aman Menyentuh Hajar Aswad di Masjidil Haram
Foto: Ilustrasi Adab dan Strategi Aman Menyentuh Hajar Aswad di Masjidil Haram.

Menyentuh Hajar Aswad merupakan momen spiritual yang sangat didambakan oleh jutaan jamaah saat menjalankan ibadah haji maupun umrah. Keinginan untuk berada dekat dengan batu suci di sudut KaÔÇÖbah ini sering kali membuat jamaah rela mengantre hingga berjam-jam demi bisa mencium atau sekadar berisyarat ke arahnya.

Dilansir dari Cahaya, menyentuh Hajar Aswad sebenarnya bukanlah sebuah kewajiban dalam rangkaian ibadah haji maupun umrah. Para ulama memberikan peringatan agar ambisi untuk melakukan amalan ini tidak sampai membahayakan diri sendiri atau menyakiti jamaah lain di tengah kepadatan Masjidil Haram.

Hajar Aswad adalah batu mulia yang diposisikan pada sudut timur KaÔÇÖbah, yang juga berfungsi sebagai penanda awal dan akhir putaran tawaf. Batu hitam ini memiliki kedudukan penting karena Rasulullah SAW pernah menyentuh serta menciumnya saat melaksanakan tawaf.

Berdasarkan penjelasan dalam buku Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq, mencium Hajar Aswad dikategorikan sebagai sunnah muakkadah. Amalan ini sangat dianjurkan bagi mereka yang mampu melakukannya tanpa menimbulkan kemudaratan bagi orang lain di sekitarnya.

Integritas dalam memahami hakikat batu ini juga ditekankan melalui riwayat Khalifah Umar bin Khattab. Saat berada di depan Hajar Aswad, Umar memberikan penegasan penting terkait landasan penghormatan terhadap batu tersebut.

"Aku tahu engkau hanyalah batu. Engkau tidak bisa memberi manfaat maupun mudarat. Kalau bukan karena aku melihat Rasulullah menciummu, aku tidak akan menciummu."

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa penghormatan dilakukan semata-mata sebagai bentuk kepatuhan terhadap sunnah Rasulullah SAW. Umat Islam diajarkan untuk tidak menganggap batu tersebut memiliki kekuatan gaib yang menyimpang dari akidah.

Prioritas Keselamatan dalam Beribadah

Kepadatan luar biasa di sekitar KaÔÇÖbah, terutama pada musim haji, sering kali memicu situasi berbahaya. Jutaan orang yang bergerak bersamaan dapat menyebabkan jamaah terhimpit arus manusia hingga kehilangan keseimbangan saat mencoba mendekati sudut Hajar Aswad.

Pemerintah Arab Saudi secara rutin menempatkan asykar atau petugas keamanan untuk mengontrol alur jamaah agar tetap tertib. Muhammad Iqbal dalam buku Ensiklopedi Haji dan Umrah menyebutkan bahwa menjaga keselamatan jiwa merupakan prioritas utama dalam syariat Islam.

Dengan demikian, mengejar sunnah mencium Hajar Aswad tidak boleh mengabaikan hak keamanan orang lain. Para ulama bahkan mengkritik penggunaan jasa pihak ketiga atau bodyguard untuk membuka jalan paksa karena berisiko tinggi melukai jamaah lain.

Strategi dan Waktu Terbaik Mendekat

Memilih waktu yang tepat menjadi kunci utama bagi jamaah yang ingin memiliki peluang lebih besar menyentuh batu tersebut. Waktu dini hari atau menjelang Subuh dianggap sebagai periode yang relatif lebih longgar dibandingkan siang hari atau setelah shalat fardhu.

Setelah pelaksanaan shalat Subuh juga menjadi opsi lain, karena biasanya banyak jamaah kembali ke hotel untuk beristirahat. Selain itu, peluang mendekati Hajar Aswad pada masa di luar musim puncak umrah cenderung lebih besar dibandingkan saat musim haji berlangsung.

Secara teknis, jamaah disarankan tidak melawan arus tawaf, melainkan mengikuti aliran secara perlahan sambil merapat ke dinding Ka'bah. Pendekatan bisa dimulai dari arah Rukun Yamani agar posisi tubuh tetap stabil dan tangan tetap berada di depan dada untuk menjaga ruang napas.

Alternatif Istilam bagi Jamaah

Bagi jamaah yang tidak memungkinkan untuk menyentuh langsung karena kondisi fisik atau kepadatan, Islam memberikan kemudahan melalui istilam. Tindakan ini dilakukan dengan mengangkat tangan ke arah Hajar Aswad sambil melafalkan takbir.

Imam Nawawi dalam kitab Al-MajmuÔÇÖ Syarah Al-Muhadzdzab menjelaskan bahwa jika mencium Hajar Aswad berisiko menimbulkan mudarat, maka cukup dilakukan dengan berisyarat dari jauh. Memaksakan diri hingga mencelakai orang lain justru dapat mengubah hukum amalan tersebut menjadi makruh atau terlarang.

Khusus bagi jamaah perempuan, keselamatan dan kehormatan diri harus diutamakan di atas keinginan menyentuh batu tersebut. Ulama menganjurkan jamaah wanita untuk cukup berisyarat dari jauh guna menghindari ikhtilat atau percampuran berlebihan di tengah kerumunan laki-laki.

Kesiapan fisik dan mental juga menjadi faktor krusial, terutama bagi lansia atau jamaah dengan kondisi kesehatan tertentu. Niat yang tulus dan adab yang baik dalam beribadah dianggap jauh lebih bernilai daripada sekadar keberhasilan fisik menyentuh Hajar Aswad.

Artikel terkait

Rekomendasi