Pelatih Garudayaksa FC, Widodo Cahyono Putro, membeberkan kunci keberhasilan timnya meraih gelar juara pada kompetisi kasta kedua sepak bola Indonesia. Kesiapan dari sisi mental serta teknis menjadi elemen krusial yang membedakan timnya saat menghadapi tekanan di laga final.
Kemenangan dramatis ini diraih setelah Garudayaksa FC menumbangkan PSS Sleman dalam partai puncak Championship Liga 2 2025-2026. Pertandingan yang berlangsung di Stadion Maguwoharjo, Sleman, pada Sabtu (9/5/2026) tersebut berakhir dengan skor 4-3 melalui adu penalti setelah hasil imbang 2-2 bertahan hingga babak tambahan waktu.
Dikutip dari Bola, strategi matang yang dipersiapkan Widodo terbukti efektif saat para pemainnya harus mengeksekusi tendangan dari titik putih. Tim pelatih rupanya telah mengantisipasi kemungkinan laga berakhir tanpa pemenang dalam waktu normal sejak jauh hari.
Menu latihan tendangan penalti menjadi agenda wajib yang dilakukan skuad Garudayaksa FC setiap akhir sesi latihan rutin. Persiapan matang ini memberikan kepercayaan diri bagi para pemain saat momen penentuan tiba di lapangan hijau.
"Saya pribadi sudah memprediksi di partai final ini tidak mudah. Dan bahkan akan terjadi penalti," kata Widodo dikutip dari Antara, Minggu (10/5/2026).
"Makanya setiap latihan begitu saya datang, setiap selesai latihan saya penalti. Saya menendang penalti."
Meskipun penendang pertama mereka, Everton, tidak berhasil menjalankan tugasnya, empat eksekutor selanjutnya tetap tampil tenang. Kepercayaan diri yang tinggi membuat mereka mampu menyarangkan bola ke gawang lawan dengan baik.
Di sisi lain, kiper Yoewanto Beny menjadi pahlawan dengan menggagalkan tendangan dua pemain kunci PSS Sleman, Kevin Gomes dan Gustavo Tocantins. Kegagalan eksekusi dari tuan rumah tersebut memastikan gelar juara jatuh ke tangan tim tamu.
"Terbukti tadi pemain enjoy ya menendang penalti. Jadi sudah dipersiapkan," ujar mantan penyerang legendaris timnas tersebut.
Widodo Cahyono Putro tetap menunjukkan sikap sportivitas tinggi meski tensi pertandingan di lapangan sangat panas. Baginya, esensi dari sebuah kompetisi bukan hanya sebatas mengangkat trofi juara di akhir turnamen.
Pelatih berusia 55 tahun tersebut menekankan bahwa hubungan antar-klub jauh lebih penting daripada hasil akhir pertandingan. Ia memandang pencapaian ini sebagai kesuksesan bersama untuk memajukan sepak bola tanah air.
"Tentunya sangat gembira bagi kami. Tapi ini kita juga sama untuk PSS juga, kita juara bersama," ucapnya melanjutkan.
"Saya kira itu karena yang terutama itu di dalam sepak bola itu bukan kalah menangnya tetapi kita menjadi saudara."
Ia menaruh harapan besar agar pencapaian di musim ini dapat memacu perkembangan positif bagi kedua klub di masa mendatang. Semangat persaudaraan dianggap sebagai fondasi utama dalam membangun iklim sepak bola yang lebih sehat.
"Karena dimana kita membangun sepak bola disitu ada persaudaraan. Supaya sepak bola kita tambah maju. Tentunya ke depan mudah-mudahan Garudayaksa dan PSS juga bisa berkembang lebih baik," tuturnya.
Persiapan Menuju Super League
Gelar juara Championship Liga 2 secara otomatis mengantarkan Garudayaksa FC untuk berkompetisi di kasta tertinggi, Super League, pada musim depan. Kenaikan kasta ini tentu menuntut persiapan yang lebih serius dalam hal komposisi pemain.
Mengenai rencana perombakan skuad untuk menghadapi kompetisi level atas, Widodo mengaku perlu menjalin komunikasi intensif dengan manajemen. Ia belum memberikan detail mengenai fondasi tim yang akan dibangun untuk musim mendatang.
"Jadi saya belum tahu ke depannya. Kalau pondasi sih paling ya nanti terserah manajemen lah."
"Kalau lanjutannya bagaimana ya nanti kita akan bicarakan lagi," kata pelatih kelahiran Cilacap pada 8 November 1970 tersebut.