Pemilik kendaraan asal Eropa produksi lama diingatkan untuk lebih teliti memantau indikator suhu guna mencegah kerusakan mesin permanen akibat panas berlebih atau overheat. Risiko kerusakan parah sering kali dipicu oleh kelalaian sederhana dalam perawatan sistem pendingin dan pelumasan mesin.
Masalah panas berlebih dinilai sebagai ancaman yang lebih berbahaya dibandingkan keterlambatan pengisian pelumas bagi ketahanan komponen internal kendaraan. Hal tersebut disampaikan oleh Effry dari bengkel New Benefit Auto Service di Bogor pada Selasa (12/5/2026), sebagaimana dilansir dari Otomotif.
"Inget temperatur saja. Kalau sampai panas, itu lebih jahat daripada kehabisan oli. Kalau panas itu seher bisa sampai bingkeng (bengkok). Mesin pun bakal berisik karena pernah kepanasan," kata Effry, teknisi New Benefit Auto Service.
Sistem pendingin pada mobil Eropa membutuhkan perhatian khusus, terutama pada penggunaan cairan radiator yang tepat untuk mencegah terjadinya korosi. Material radiator yang mayoritas menggunakan bahan aluminium membuat komponen ini rentan mengalami kebocoran jika diisi dengan air mineral biasa.
"Barangnya radiator kan aluminium. Kalau sudah korosi dan bocor, tidak bisa ditambal untuk jangka lama. Selain itu, perhatikan extra fan. Kalau fannya mati satu, temperatur pasti naik terus. Segera cek kalau jarum suhu sudah lewat dari posisi tengah," katanya Effry.
Selain faktor suhu, efektivitas pelumasan mesin juga menjadi catatan penting mengingat kondisi lalu lintas yang padat dapat memengaruhi kualitas oli lebih cepat. Interval penggantian pelumas disarankan untuk dipercepat guna menyesuaikan dengan durasi operasional mesin saat terjebak kemacetan di Indonesia.
"Mercy mintanya setiap 8.000 km, tapi tidak cocok buat Indonesia. Waktu kita macet, itu tidak dihitung kilometernya, sedangkan mesin jalan terus. Amannya ya 5.000 km saja buat ganti oli," tutur Effry.
Kerusakan mesin yang bersifat beruntun umumnya bermula dari kebocoran kecil atau keterlambatan servis rutin yang tidak segera ditangani oleh pemilik. Akibatnya, biaya perbaikan yang harus dikeluarkan menjadi jauh lebih besar ketika komponen lain mulai terdampak.
"Awalnya sebenarnya dari hal kecil, seperti telat ganti oli atau ada kebocoran air yang dibiarkan. Waktu lagi sibuk, mungkin lupa sampai akhirnya overheat. Itu yang sering jadi 'penyakit' terus-menerus," kata Effry.