Warteg Jadi Solusi Makan Murah Pekerja Jakarta di Tengah Kenaikan Harga

Warteg Jadi Solusi Makan Murah Pekerja Jakarta di Tengah Kenaikan Harga
Foto: Ilustrasi Warteg Jadi Solusi Makan Murah Pekerja Jakarta di Tengah Kenaikan Harga.

Warung tegal atau warteg menjadi pilihan utama bagi berbagai kalangan pekerja di Jakarta untuk mendapatkan makanan dengan harga terjangkau pada Rabu (22/4/2026). Fenomena ini dipicu oleh kebutuhan efisiensi waktu dan biaya di tengah padatnya ritme kerja ibu kota.

Kebutuhan dasar akan konsumsi harian ini melibatkan pengemudi ojek online, buruh, hingga pegawai kantoran yang mencari porsi mengenyangkan. Dilansir dari Megapolitan, keberadaan warteg dianggap sebagai solusi paling rasional bagi masyarakat dengan penghasilan tidak menentu.

Ifdal, seorang pengemudi ojek online, membandingkan biaya makan di warteg dengan gerai makanan cepat saji yang jauh lebih mahal. Baginya, fleksibilitas harga menjadi faktor penentu dalam memilih tempat makan sehari-hari.

ÔÇ£Kalau di gerai cepat saji bisa Rp 40.000 sampai Rp 60.000 sekali makan. Di warteg saya bisa makan nasi, sayur, tempe, sama ayam atau ikan, itu sudah kenyang,ÔÇØ ujar Ifdal, pengemudi ojek online.

Saras, seorang mahasiswa magang, juga memanfaatkan warteg untuk menekan pengeluaran rutin. Ia menilai tempat makan ini kini semakin inklusif bagi anak muda.

ÔÇ£Kalau ke kafe bisa habis Rp 50.000 lebih. Warteg itu paling aman, makan lengkap dan bisa pilih sesuai mood,ÔÇØ ujar Saras, mahasiswa.

Pekerja sektor formal seperti Chandra turut merasakan efisiensi yang ditawarkan oleh warteg. Selain kecepatan pelayanan, atmosfer tanpa sekat antar-pelanggan menjadi daya tarik tersendiri baginya.

ÔÇ£Di warteg itu cepat, tinggal tunjuk lauk. Enggak perlu antre lama,ÔÇØ kata Chandra, pegawai swasta.

Ia juga menambahkan alasan kenyamanan terkait rasa masakan yang disajikan di warteg.

ÔÇ£Di sini enggak ada sekat. Semua sama-sama makan,ÔÇØ ujar Chandra, pegawai swasta.

Tia yang bekerja sebagai petugas kebersihan menyebut warteg sebagai solusi ekonomi bagi keluarganya. Pengaturan pengeluaran yang ketat membuatnya bergantung pada harga warteg yang bersahabat.

ÔÇ£Warteg itu yang paling cocok. Murah dan masih bisa dijangkau,ÔÇØ kata Tia, petugas kebersihan.

Kebutuhan fisik yang besar juga mendorong buruh proyek seperti Joandra untuk memilih warteg. Porsi yang besar dianggap sangat menunjang aktivitas berat yang ia lakukan setiap hari.

ÔÇ£Kalau kerja fisik, kita butuh makan banyak. Warteg itu paling pas,ÔÇØ ujar Joandra, buruh proyek.

Bagi pekerja dengan sif malam seperti Anjerita, jam operasional warteg yang panjang sangat membantu. Ia menyebut biaya makan langsung di warteg jauh lebih murah daripada menggunakan aplikasi pesan antar.

ÔÇ£Warteg biasanya masih buka, jadi saya masih bisa makan setelah kerja,ÔÇØ kata Anjerita, karyawan minimarket.

Karyawan minimarket tersebut membandingkan nominal yang harus dikeluarkan untuk sekali makan.

ÔÇ£Di warteg Rp 18.000 sudah cukup,ÔÇØ ujar Anjerita, karyawan minimarket.

Maman, seorang pemilik warteg di kawasan Juanda, menjelaskan tantangan margin keuntungan yang tipis akibat lonjakan harga bahan pokok. Saat harga bahan naik, ia lebih memilih menyesuaikan porsi daripada menaikkan harga jual secara mendadak.

ÔÇ£Kalau harga bahan naik, bisa turun jadi Rp 200.000. Kita enggak berani langsung naikin harga,ÔÇØ ujar Maman, pemilik warteg.

Kekhawatiran serupa dirasakan oleh Nur yang mengelola warteg di wilayah Gondangdia. Menurutnya, pelanggan sangat sensitif terhadap perubahan harga yang signifikan.

ÔÇ£Kalau harga naik banyak, pelanggan bisa pindah,ÔÇØ kata Nur, pengelola warteg.

Ketua Jurusan Antropologi Budaya ISBI Bandung, Imam Setyobudi, memandang warteg memiliki fungsi sosial sebagai ruang egaliter. Tempat ini menjadi titik temu berbagai lapisan masyarakat tanpa memandang status sosial.

ÔÇ£Di warteg, kuli bangunan, ojol, mahasiswa, sampai pegawai kantoran bisa duduk berdampingan tanpa melihat status,ÔÇØ ujar Imam Setyobudi, Akademisi.

Imam menambahkan bahwa warteg berfungsi sebagai ruang ketiga bagi masyarakat urban untuk melepas penat di sela aktivitas mereka.

ÔÇ£Warteg jadi tempat orang melepas penat, berbincang santai, bahkan sekadar berbagi cerita,ÔÇØ kata Imam Setyobudi, Akademisi.

Sosiolog Universitas Nasional, Nia Elvina, menyatakan bahwa fenomena ini berkaitan erat dengan struktur ekonomi masyarakat. Warteg menjadi katup pengaman bagi warga yang penghasilannya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok.

ÔÇ£Penghasilan banyak kelompok masyarakat masih hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari,ÔÇØ ujar Nia Elvina, Sosiolog.

Artikel terkait

Rekomendasi