Survei terbaru Binokular Media Utama mengungkapkan sebanyak 69 persen warganet sedang mengobservasi kebijakan bekerja dari rumah atau Work from Home bagi Aparatur Sipil Negara setiap Jumat sebagai dampak krisis energi global pada Selasa (21/4/2026).
Hasil analisis big data tersebut menunjukkan masyarakat tengah mendalami informasi dan menimbang pengaruh kebijakan transformasi budaya kerja ini. Dilansir dari Lestari, isu efisiensi energi tersebut melonjak signifikan di ruang digital setelah pengumuman resmi pemerintah pada akhir Maret 2026.
Manajer Social Media Data Analytics Binokular, Danu Setio Wihananto menjelaskan bahwa kenaikan percakapan merupakan respons spontan publik terhadap poin-poin penghematan energi. Hal ini juga berkaitan dengan kondisi geopolitik di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran harga bahan bakar.
"Lonjakan ini merupakan reaksi langsung warganet terhadap berbagai poin kebijakan, terutama yang berkaitan dengan penghematan energi," ungkap Danu dalam keterangannya, Selasa (21/4/2026).
Danu menambahkan bahwa sebelum kebijakan ini diresmikan, terdapat keresahan masyarakat mengenai stabilitas harga komoditas energi di pasar domestik.
"Sebelumnya, pada akhir Maret, jagat media sosial sudah diramaikan oleh kecemasan publik terhadap kemungkinan kenaikan harga BBM menyusul ketegangan di Timur Tengah,ÔÇØ imbuh dia.
Data sentimen menunjukkan 17 persen warganet memberikan respons negatif karena khawatir kebijakan ini disalahgunakan sebagai waktu berlibur oleh pegawai negara. Sebaliknya, sentimen positif tercatat sebesar 14 persen.
"Kekhawatiran yang lebih mendasar adalah turunnya kualitas pelayanan publik, mengingat banyak masyarakat yang masih memerlukan layanan administratif dan teknis pada hari Jumat,ÔÇØ terang Danu.
Selain perihal kerja fleksibel, warganet turut menyoroti efisiensi program Makan Bergizi Gratis yang dipangkas dari enam hari menjadi lima hari dalam sepekan. Publik menilai anggaran besar program tersebut memerlukan evaluasi mendalam pada mekanisme distribusi dan menu.
Di sisi lain, kebijakan pemerintah untuk menahan harga BBM mendapatkan apresiasi luas meski masih menyisakan kekhawatiran terhadap fluktuasi harga di masa depan. Manajer News Data Analytics Binokular, Nicko Mardiansyah menyebutkan sempat terjadi kepanikan sebelum pengumuman resmi keluar.
"Namun, usai pemerintah secara resmi mengumumkan bahwa harga BBM subsidi dan non-subsidi tertentu ditahan, warganet menyatakan lega dan berterima kasih,ÔÇØ ucap Nicko.
Krisis energi global ini juga memicu kenaikan harga pendukung seperti plastik bagi UMKM dan kenaikan tarif tiket pesawat sebesar 9 hingga 13 persen akibat lonjakan harga avtur. Pemerintah merespons dampak tersebut dengan memberikan insentif PPN Ditanggung Pemerintah dan pembebasan bea masuk suku cadang pesawat.