Warga kota Kearny, New Jersey, Amerika Serikat, menyuarakan kekecewaan atas lonjakan harga tiket pertandingan Piala Dunia 2026 yang dianggap tidak terjangkau. Meskipun berlokasi dekat dengan Stadion MetLife, banyak penduduk lokal merasa kesulitan secara finansial untuk menyaksikan turnamen internasional tersebut secara langsung.
Dilansir dari Bola, nominal tiket untuk laga final di Stadion MetLife dilaporkan menembus angka 30.000 dollar AS atau setara Rp480 juta. Angka ini menunjukkan kenaikan signifikan dibandingkan harga tertinggi pada edisi 2022 di Qatar yang berada pada kisaran 1.600 dollar AS atau sekitar Rp25 juta.
Kritik tajam datang dari pemuda setempat bernama Anthony Duro yang tinggal hanya berjarak 11 kilometer dari stadion. Mahasiswa sekaligus pemain bola amatir ini merasa kesempatannya menonton pertandingan internasional terhalang oleh faktor ekonomi.
ÔÇ£Ini menyebalkan karena akan menyenangkan untuk menonton pertandingan suatu negara di sini, terutama karena saya tinggal sangat dekat dengan stadion,ÔÇØ kata Duro kepada AFP.
Duro menilai penetapan tarif tersebut sangat tidak masuk akal bagi kalangan pelajar sepertinya. Ia pun terpaksa merelakan mimpinya untuk hadir langsung di tribun penonton.
ÔÇ£Bagi saya, ini konyol,ÔÇØ ujar Duro.
Kekecewaan juga diungkapkan oleh Sean McDonald, anggota Scots American Club di Kearny. Ia menekankan bahwa hakikat sepak bola sebagai pemersatu bangsa kini terancam oleh komersialisasi tiket yang sangat mahal.
ÔÇ£Sepak bola seharusnya menyatukan orang,ÔÇØ kata McDonald.
Pria berusia 51 tahun tersebut menyayangkan besarnya biaya yang terlibat dalam penyelenggaraan turnamen kali ini. Menurutnya, aspek kebersamaan sulit tercapai jika masyarakat lokal justru teralienasi.
ÔÇ£Dengan harga yang sangat mahal dan biaya yang terlibat dalam Piala Dunia ini, hal itu tidak akan tercapai,ÔÇØ ujar McDonald.
McDonald menambahkan bahwa klubnya dipenuhi dengan sejarah sepak bola, namun semangat itu kontras dengan kondisi pasar saat ini. Ketimpangan finansial menjadi penghalang utama bagi warga untuk berpartisipasi.
ÔÇ£Mereka mengenakan biaya yang sangat mahal,ÔÇØ kata McDonald.
CEO Scots American Club, Andrew Pollock, turut menyoroti dalih FIFA mengenai penyesuaian harga di Amerika Serikat. Ia mendesak adanya subsidi atau kebijakan penurunan target keuntungan agar masyarakat biasa bisa masuk ke stadion.
ÔÇ£Mengapa begitu mahal karena diadakan di Amerika Serikat? Itu membuat kita terlihat buruk,ÔÇØ kata Pollock.
Pollock menyarankan agar organisasi sepak bola dunia tersebut tidak melulu mengejar pendapatan miliaran dollar dari setiap turnamen. Kepedulian terhadap suporter kelas menengah dinilai jauh lebih penting.
ÔÇ£Kita semua beranggapan bahwa FIFA akan mengambil miliaran dollar setiap tahun dari Piala Dunia. Mengapa mereka tidak bisa mengambil sedikit lebih sedikit?ÔÇØ ujar Pollock.
Sementara itu, warga lain bernama Jose Rodrigues menegaskan keputusannya untuk tidak membeli tiket. Sebagai kepala keluarga dengan lima anggota, biaya ribuan dollar dianggap tidak masuk akal untuk pengeluaran hiburan.
ÔÇ£Saya tidak akan membayar 1.000 dollar AS untuk tiket atau 500 dollar AS untuk tiket. Tak peduli dengan itu. Kami tidak akan melakukannya,ÔÇØ kata Rodrigues.
Rodrigues menilai kebijakan harga saat ini telah mengubah kasta penonton Piala Dunia. Ia khawatir turnamen ini hanya akan menjadi tontonan eksklusif bagi kalangan elit saja.
ÔÇ£Orang biasa tidak akan mampu untuk pergi,ÔÇØ ujar Rodrigues.