Kondisi perekonomian nasional dinilai masih berjalan sesuai jalur dan tidak memperlihatkan tanda-tanda krisis. Pemerintah terus mengoptimalkan kebijakan fiskal sebagai instrumen penyokong pertumbuhan ekonomi.
Seperti dikutip dari Investor Daily, Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menjelaskan ada tiga sumber utama penyebab krisis ekonomi di sejumlah negara. Tiga faktor tersebut meliputi krisis fiskal, krisis neraca pembayaran, dan krisis sistem keuangan.
Sejumlah indikator kinerja perekonomian domestik saat ini membuktikan Indonesia masih jauh dari kondisi tersebut. Pertumbuhan ekonomi nasional mampu mencapai 5,61% pada triwulan I-2026.
Hingga April 2026, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 tercatat sebesar Rp 164,4 triliun. Angka ini setara dengan 0,64% terhadap produk domestik bruto (PDB).
Realisasi pendapatan negara mencatatkan angka Rp 918,4 triliun atau tumbuh 13,3% secara tahunan. Sementara itu, belanja negara terealisasi sebesar Rp 1,082,8 triliun setelah meloncat tajam 34,3% secara tahunan.
ÔÇ£Banyak kalangan baik di media, termasuk media sosial mengatakan ekonomi kita menuju krisis seperti tahun 1997-1998. Namun kalau melihat angka-angka tadi jauh dari situasi krisis,ÔÇØ tutur Juda dalam Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah Tahun 2026 di Jakarta, Senin (25/5/2026).
Juda memaparkan krisis fiskal terjadi ketika pemerintah tidak mampu menutup defisit melalui pembiayaan akibat hilangnya kepercayaan pasar terhadap pengelolaan keuangan negara. Kasus ini pernah menimpa Amerika Latin pada tahun 1980.
Saat itu, obligasi pemerintah yang diterbitkan tidak laku dibeli oleh pasar. Sebaliknya, Indonesia masih menjaga defisit di bawah 3% dan pembiayaan fiskal tetap dipercaya oleh investor domestik maupun asing.
ÔÇ£Kelihatan dari yield-nya, kalau investor tidak percaya pada yield kita pada fiskal kita maka yieldnya akan melonjak, sekarang ini di sekitar 6,5-6,7%. Memang ada peningkatan tetapi tidak signifikan peningkatannya. Jadi krisis yang bersumber dari fiskal tidak ada tanda-tandanya,ÔÇØ terang Juda.
Faktor kedua berupa guncangan pada neraca pembayaran yang pernah melanda Indonesia saat krisis finansial 1997-1998. Kala itu, kepanikan perusahaan yang menarik dana luar negeri memicu pelemahan nilai tukar rupiah dan kebangkrutan massal.
Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) mengalami defisit US$ 9,1 miliar pada triwulan I-2026. Kondisi ini dipengaruhi defisit transaksi berjalan di tengah perlambatan ekonomi global serta defisit transaksi modal dan finansial akibat ketidakpastian pasar keuangan global.
ÔÇ£Saat ini kalau kita lihat angka-angka neraca pembayaran kita relatif sehat dan relatif balance. Jadi dari krisis neraca pembayaran tidak ada tanda-tanda itu,ÔÇØ kata Juda.
Sumber krisis ketiga berasal dari kegagalan sistem keuangan seperti krisis global 2008 di Amerika Serikat yang dipicu pecahnya gelembung aset sektor keuangan dan properti.
ÔÇ£Tanda-tanda itu tidak ada juga di kita. Jadi tiga sumber krisis tersebut tidak ada di dalam data-data yang kita amati sampai dengan hari ini,ÔÇØ pungkas dia.